My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 17


__ADS_3

Seorang pria menyuntikkan sesuatu ke tubuh Mutia, setelah itu mereka memeganginya dan melemparnya.


*Bruuughhh!!


Terdengar suara teriakan Mutia memekik membelah kesunyian malam.


Dama merasa puas setelah memberi pelajaran kepada gadis itu.


"Sekarang kau harus tahu jika tak ada seorangpun yang bisa melawanku,"


 


Suara kicauan burung membangunkan Mutia dari mimpi buruknya.


Wanita itu tampak terengah-engah dengan kening yang dipenuhi keringat.


"Aku masih hidup??" ucapnya tak percaya


Ia kemudian memegangi wajahnya, dan segera melompat dari ranjangnya menuju ke depan cermin.


Ia tak berhenti bersyukur saat mendapati dirinya masih hidup. Masih terngiang betapa mengerikannya kejadian semalam hingga membuatnya berpikir jika dirinya sudah mati.


"Jika aku masih hidup berarti dia hanya menggertak ku saja??" Mutia tampak berpikir keras bagaimana bisa Dama melepaskannya.


"Aku tak menyangka jika iblis betina itu lebih berbahaya, mulai sekarang aku harus hati-hati dengannya. Aku tidak boleh gegabah karena ia bisa kapan saja membunuhku. Aku yakin baginya menyingkirkan seorang Mutia bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Sekarang aku harus memikirkan cara lain untuk mengalahkan wanita itu. Aku tak bisa lagi bermain kasar dengannya, sepertinya aku harus bermain halus untuk menyingkirkannya,"


Mutia buru-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hari itu ia sengaja memakai pakaian kerja yang lebih mencolok dan seksi dari biasanya.


Bila hari pertama ia terlihat cantik dan elegan maka di hari kedua Mutia memiliki blazer berwarna hitam dengan rok diatas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya.


Ia bahkan sengaja menggerai rambutnya yang hitam dengan menambah riasan natural namun tetap memancarkan kecantikan alami gadis itu.


Semua pria hampir tak berkedip saat menatapnya, tidak terkecuali dengan Khalif yang memang mengaguminya sedari awal.


Ia bahkan terus berusaha mendekatinya sampai memilih naik lift bersamanya agar bisa bercengkrama dengannya.


Bila biasanya Mutia memilih mengacuhkan pria itu namun kali ini ia sengaja meresponnya.


Tentu saja hal ini membuat Khalif begitu senang karena ia merasa jika gadis itu mulai menyukainya.


Ia bahkan tak marah saat Khalif mengantarnya hingga ke depan ruang kerjanya seperti biasanya.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Khalif

__ADS_1


"Sudah,"


"Sayang sekali, padahal aku berharap kamu belum sarapan dan kita bisa sarapan bersama," tukas Khalif dengan senyum mengembang


"Bagaimana kalau besok?" jawab Mutia membuat Khalif berbunga-bung


"Tentu saja, yaudah kalau gitu sampai ketemu lagi jam istirahat nanti," jawab Khalif kemudian meninggalkannya


Mutia mengangguk kemudian duduk tersenyum melepas kepergian pemuda itu.


Khalif begitu bahagia pagi itu hingga terus melompat-lompat sepanjang jalan menuju ruang kerjanya. Tentu saja hal itu membuat semua karyawan Hawi Corporation memperhatikannya bahkan tak sedikit yang mengunjunginya.


Sementara itu Dama diam-diam menemui Hilman untuk menanyakan tentang wasiat almarhum suaminya.


"Apa wasiat itu tidak bisa dirubah?" tanya Dama


"Tidak bisa nyonya, surat itu dibuat di depan Tuan Broto Adiwijaya jadi mustahil bisa dirubah, kecuali anda bisa melobinya," jawab Hilman


"Broto itu seperti batu karang yang begitu kokoh di lautan meskipun di hantam ombak berkali-kali. Jadi percuma saja kita melobinya, dia tidak akan mengkhianati Handoko," sahut Dama


"Kalau begitu jalan satu-satunya agar Khalif menjadi CEO HAWI Corporation adalah dengan menikahi gadis yang di tunjuk oleh almarhum Tuan Handoko," terang Hilman


"Kenapa harus gadis udik itu, jujur saja aku tak menyukainya. Bahkan Khalif pun enggan dengannya,"


"Tapi tidak ada cara lain jika ingin mengambil perusahaan itu dari tangan Nyonya Mariyah," sahut Hilman


...----------------...


Sementara itu di tempat berbeda seorang pria tampak sedang melatih mengawasi Janaka yang tengah melatih kekuatan fisiknya.


Pemuda itu tampak begitu bersemangat berlatih hingga seluruh tubuhnya dipenuhi dengan keringat.


Saat Adzan Dzuhur berkumandang, Janaka menyudahi latihannya dan menghampiri sang pelatih yang duduk di depan balai rumahnya.


Pria itu memberikan. sebotol air mineral kepadanya, dan Janaka segera meneguknya hingga habis.


Pandangannya seketika tertuju pada lowongan pekerjaan yang tertera di sebuah surat kabar terkemuka ibukota.


"Sepertinya aku harus bekerja di kediaman keluarga Wiraatmadja agar aku bisa membalas apa yang sudah mereka lakukan padaku," tukas Janaka


"Apa kau yakin akan bisa membalas mereka dengan tubuhmu yang sekarang?"


"Benar juga, jika mereka tahu aku masih hidup mungkin baik Khalif maupun ibunya pasti akan memburuku," sahut Janaka


"Kalau begitu sebaiknya kau harus merubah penampilan mu,"

__ADS_1


"Maksudnya?" jawab Janaka kemudian duduk di sebelah pria itu.


"Apa kau punya tabungan?" tanya pria itu


"Tentu saja aku punya, tapi semua rekening tabungan ku ada di apartemen ku. Tapi aku sudah kehilangan semua identitas pribadiku," sahut Janaka


Lelaki itu kemudian meninggalkan Janaka dan masuk ke dalam rumahnya.


Tidak lama ia kembali membawa sebuah dompet dan memberikannya kepada Janaka.


"Aku sempat menemukan dompet ini di saku celanamu,"


Janaka kemudian membuka dompetnya dan mengeluarkan KTP dan beberapa kartu kredit miliknya.


"Semoga saja kartu ini masih bisa digunakan,"


"Kalau begitu pergilah ke Korea untuk melakukan operasi wajahmu," terang pria itu


"Jadi aku harus melakukan operasi agar bisa membalas dendam?"


"Tentu saja, karena hanya itu jalan satu-satunya agar kau bisa menyusup masuk ke kediaman keluarga Wiraatmadja,"


Janaka pun setuju dengan rencana Lelaki itu. Dengan Bantuan Edy ia akhirnya berhasil mendapatkan identitas baru untuk pergi ke negeri Ginseng untuk melakukan operasi.


...----------------...


*Gedung Hawi Corporation


Sementara itu Mutia memutuskan untuk mendekati Khalif Unu membalas dendam kepadanya.


Mulai dengan membawakan Khalif sarapan, kemudian pulang bersama menjadi pembuka hubungan keduanya.


Awalnya hubungan mereka berjalan lancar sebelum Dama memergokinya keduanya makan siang bersama di sebuah restoran.


Dama yang tak suka dengan Mutia buru-buru menarik Khalif dan membawanya pergi dari restoran.


"Ibu apa-apaan sih, jangan malu-maluin Al," ujar Khalif berusaha melepaskan tangannya


"Mama tidak suka kau dekat dengan iblis itu, ingat dia itu musuh kita jangan pernah kau luluh dengannya jika kau tak mau terluka nantinya," sahut Dama


"Itukan dulu Bu, semuanya sudah berakhir, sekarang dia sudah berubah dan melupakan Jan. Buktinya ia mulai mau membuka hatinya dan menerima Al,"


"Dasar bodoh!" seru Dama menunjuk kepala putranya itu


"Apa kau tidak sadar jika itu adalah trik darinya agar bisa dekat denganmu. Kau tidak tahu kan jika ia akan menusuk mu dari belakang setelah kau lengah dan terlena dengan cinta palsunya itu," tegas Dama berusaha menyadarkan Khalif

__ADS_1


"Terserah ibu saja, yang jelas aku tidak peduli. Apapun kata Ibu aku akan tetap mencintainya,"


__ADS_2