My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 46


__ADS_3

Siang itu Mariyah sengaja menemui Nina untuk menghiburnya. Ia sengaja mengajak cucu menantunya itu makan siang bersama. Mariyah bahkan sengaja mengajaknya berkeliling ke pusat perbelanjaan untuk menghibur Nina.


Ia tahu jika saat ini yang dibutuhkan Nina adalah seorang teman yang mau mendengar keluh kesahnya.


Itulah sebabnya Mariyah sengaja meminta Nina untuk menceritakan semua masalahnya dengan permainan truth or dare.


"Apa kau yakin akan mengijinkan suami mu menikahi Mutia?"


"Tentu saja nek,"


"Kenapa, apa kau sudah menyerah?" tanya Mariyah lagi


"Tentu saja tidak nek, hanya saja untuk saat ini aku harus melakukannya dan kemungkinan aku sendiri yang akan meminang Mutia jika Khalif masih belum bisa menentukan sikapnya," jawab Nina


"Memangnya apa yang sudah membuat mu harus melakukan hal itu, bukankah kau akan semakin terluka jika mengijinkan mereka berdua menikah apalagi jika kau sendiri yang menikahkannya,"


"Sebagai seorang wanita biasa tentu saja aku sebenarnya tak mau melakukan hal ini. Tapi ada juga tidak boleh egois dengan hanya memikirkan kebahagiaan ku Nek. Mungkin alasan ini terdengar klise tapi dan mungkin banyak orang di luar sana yang mencibirku karena aku sok baik, atau apalah itu. Kali ini aku mengambil keputusan sebagai Komisaris Independen Hawi Corporation, bukan sebagai Nina. Dimana tugasku adalah memberi jaminan dan rasa aman kepada para pemegang saham minoritas agar tetap bisa mempercayakan investasinya kepada perusahaan kita,"


Nina kemudian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pembicaraan grup chat para pemenang saham.


Seketika Mariyah tak bisa membendung air matanya melihat pengorbanan Nina yang rela memberikan izin kepada suaminya untuk menikah dengan Mutia demi mempertahankan para pemegang saham minoritas agar tetap berinvestasi di Hawi Corporation.


.Mariyah menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuh Nina.


"Ternyata ini alasannya kenapa Han memerintahkan Al untuk menikahi Nina jika ia mau menjadi CEO Hawi Corporation. Sepertinya ia sudah mendapatkan firasat sebelum ajalnya hingga bersikeras untuk membuat wasiat itu," gumam Mariyah


Keesokan harinya Mariyah sengaja mengundang para pemegang saham untuk membicarakan tentang rumor yang tengah menjadi perbincangan hangat di Hawi Corporation.


Wanita itu sengaja meminta maaf kepada para pemegang saham tentang kekhilafan cucunya Khalif hingga memunculkan rumor tak sedap yang mengguncang Harga saham perusahaan.


Ia kemudian mengumumkan akan mencopot jabatan Khalif dan menggantinya dengan Broto. Sebagai seorang pembalap Khalif memang belum memiliki pengalaman yang cukup untuk memimpin sebuah perusahaan itulah alasan Mariah menurunkan jabatan cucunya itu menjadi Dewan komisaris.


Tentu saja keputusan Mariyah langsung di tentang oleh Dama dan Khalif yang tidak setuju dengan pendapatnya.

__ADS_1


"Apa ibu lupa kalau Al adalah seorang lulusan dari universitas terbaik di Australia jurusan manajemen bisnis!" seru Dama saat menemui Mariyah di kediamannya


"Tentu saja aku tahu, tapi teori saja tidak cukup untuk bisa memimpin sebuah perusahaan Dama. Kau tahu kan jika suami mu hanya lulusan SMA, tapi kau lihat sendiri bagaimana dia bisa memanajemen perusahaannya hingga menjadi besar seperti ini. Jadi sekali lagi untuk menjadi sukses tidak membutuhkan pendidikan tinggi, tapi hanya butuh skill dan tentu saja keuletan. Sedangkan Al tidak memiliki keduanya, lalu... Apa kau akan membiarkan perusahaan kit hancur di tangannya?" jawab Mariyah


"Tapi aku ragu ibu memecat Al karena alasan itu, aku tahu ibu pasti melakukannya karena tak terima karena Al menyakiti Nina. Ingat ibu Nina yang mencari penyakitnya sendiri dengan memberi izin kepada Al untuk menikahi Mutia, meskipun aku tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Nina tapi aku tetap tidak terima ibu memecat Al dari jabatannya!" seru Dama


Sementara itu Khalif benar-benar tak bisa menahan amarahnya saat Broto menyuruhnya untuk membereskan barang-barangnya dan meninggalkan ruang kerjanya.


Siang itu juga Khalif segera melesatkan mobilnya menuju kediaman sang nenek.


Dengan wajah yang memerah memancarkan kemarahannya lelaki itu langsung menggedor-gedor pintu rumah Mariyah seperti seorang yang hendak mendatangi musuhnya.


"Kenapa nenek tidak mati saja menyusul ayah agar aku bisa hidup tenang. Kenapa kau selalu saja membuatku merasa kesal dengan selalu membela Nina lagi, lagi dan lagi!" seru Khalif meluapkan kemarahannya


"Kalau begitu bunuhlah nenek sekarang juga jika itu bisa membuatmu bahagia," jawab Mariyah kemudian memberikan pisau kepada Khalif


"Baiklah kalau itu mau nenek!" seru Khalif kemudian menerima pisau itu. Ia kemudian berjalan meninggalkan Mariyah. Tidak lama ia membalikkan badannya sambil melemparkan pisau kearah Mariyah hingga membuat wanita tua itu seketika membelalakkan matanya.


*Jlebb!!!"


"Nenek, apa nenek sudah tidur," ucap Nina memasuki kamar tidur Mariyah yang terbuka.


"Pantas saja sepi, Ternyata nenek sudah tidur,"


Nina kemudian membalikkan tubuh Mariyah yang tidur meringkuk agar tidak merasakan sakit.


Namun betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah pisau menancap di dadanya.


Ia melihat wanita itu berlumuran darah dengan wajah yang sudah memucat.


Nina langsung menjerit histeris saat melihat kematian Mariyah.


Teriakan Nina membuat Dama langsung berlari mencari keberadaan Nina.

__ADS_1


"Apa yang terjadi!" seru Dama berlari menghampiri gadis itu


"Nenek ibu, nenek meninggal," ucap Nina kemudian menangis tersedu-sedu


Dama benar-benar terkejut melihat kematian Mariyah yang begitu tragis.


Ia buru-buru menghubungi ambulans untuk membawa ibu mertuanya itu ke rumah sakit.


Beberapa orang polisi pun tiba di rumah itu setelah mendapat laporan dari kepala pelayan keluarga Wiraatmadja.


Polisi segera memasang police line di kediaman Mariyah dan melarang siapapun memasuki tempat itu.


Sementara itu Khalif begitu ketakutan saat mengetahui sang nenek meninggal.


Wajahnya memucat dan ia memilih mengurung diri di ruang kerjanya bahkan tidak mau pulang.


Khalif bahkan memilih menginap di kantor dengan alasan akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia menyerahkan jabatannya kepada Broto.


Melihat sikap Khalif yang aneh membuat Dama menyusulnya ke kantor untuk membujuk putranya itu untuk pulang.


"Kenapa kau tidak pulang padahal nenekmu baru saja meninggal. Sebagai satu-satunya cucu lelaki keluarga Wiraatmadja harusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan saat nenekmu meninggal. Sekarang ayahmu sudah tidak ada dan kamu yang harus memimpin upacara pemakaman nenek menggantikannya,"


"Maaf ibu aku tidak bisa," jawab Khalif


"Kenapa??" tanya Dama menundukkan wajahnya untuk memandang wajah putranya lebih dekat.


"Tidak apa-apa, aku janji akan hadir di acara pemakaman nenek jadi jangan khawatir. Tolong gantikan aku untuk malam ini saja," jawab Khalif sembari memainkan jari-jarinya diatas keyboard laptopnya


Dama menyunggingkan senyumnya seolah tahu apa yang disembunyikan oleh putranya.


"Jangan bilang kau melakukan semua ini karena masih dendam kepada nenek," ujar Dama


"Tidak ibu, aku benar-benar sudah melupakan masalah itu apalagi sekarang nenek sudah tiada. Jadi tidak mungkin aku masih menaruh dendam padanya,"

__ADS_1


"Lalu apa masalahnya, jangan bilang kalau kau yang sudah membunuh nenek, makanya kau tidak mau pulang ke rumah??" ucap Dama lagi membuat pria itu seketika beranjak dari duduknya dan menatap nyalang kearah Ibunya.


__ADS_2