
"Harusnya Lo bersyukur punya istri kaya dia, bahkan nyokap lo aja gak bisa membujuk lo buat makan, tapi Nina dia berhasil menyuapi mu walau tiga sendok. Sekarang cepat minum obatnya karena ambulance sudah datang!" seru dokter Adi
Khalif kemudian menatap Nina yang terlihat menghabisi bubur buatannya.
Tidak lama beberapa orang tenaga medis segera masuk ke kamar Khalif dan membawanya menuju ke ambulance.
...🍀🍀🍀...
Cukup lama Nina menunggu di selasar ruang UGD. Beberapa dokter segera mengobservasi kondisi Khalif saat pria itu tiba di rumah sakit.
Sebagai pasien VIP Khalif memang beruntung karena mendapatkan pelayanan eksklusif dari para dokter ahli tak seperti pasien lainnya.
Dama tampak berlari tergopoh-gopoh menghampiri Nina.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Dama dengan napas tersengal-sengal
"Masih di ruang UGD, dokter belum selesai melakukan observasi," jawab Nina
"Semoga saja dia baik-baik saja," ucap Dama dengan wajah cemas
Berkali-kali wanita itu mengintip pintu ruang UGD hanya untuk melihat kondisi putra kesayangannya.
Namun sayangnya tak satupun dokter yang keluar untuk menjawab rasa penasarannya.
Jam dinding berdetak lebih lambat dari biasanya, entah kenapa Dama merasakan hari itu begitu lama hingga ia tak sabar untuk mendobrak pintu UGD hanya untuk mengetahui kondisi putranya.
Ia bahkan berkali-kali melihat layar ponselnya untuk memastikan jawaban dari dokter Adi yang dari tadi belum membalas pesannya.
"Kenapa hari semua orang menyebalkan, bahkan dokter Adi tak mau menjawab Wa ku," keluh Dama tampak memasang wajah masam
"Sabar ibu, mungkin sebentar lagi dokter Adi akan segera keluar," jawab Nina mengusap bahu ibu mertuanya
Ia mengangguk pelan dan menyandarkan kepalanya di bahu menantunya itu.
Keduanya seketika terhenyak saat melihat pintu ruang UGD terbuka.
Dama segera bangun dari duduknya dan berlari menubruk dokter Adi.
"Sorry, aku terlalu bersemangat," ucap Dama menyunggingkan senyumnya
"Bagaimana keadaan putraku?" tanyanya dengan mimik wajah cemas
"Sepertinya Al harus di rawat instensif untuk beberapa hari Tante. Kondisinya drop, ditambah ia yang jarang memeriksakan kondisinya membuat kondisinya makin buruk," jawab Adi
Seketika Dama langsung lemas, ia merasakan tubuhnya terasa ringan hingga ia jatuh terkulai di lantai.
__ADS_1
Beberapa tim Medis segera memindahkan Dama ke ruang UGD.
"Yang sabar ya, meskipun kondisinya kritis tapi aku yakin dia akan segera membaik jika mau mengikuti saran dokter," ucap Adi memberikan semangat kepada Nina
"Aamiin dok," jawab Nina
Ia kemudian segera masuk menghampiri Khalif yang sudah akan dipindahkan ke ruang perawatan.
"Kenapa juga ibu ikutan di rawat!" gerutu Khalif
"Dia pingsan karena mendengar kondisi mu tadi,"
"Cih, dia pikir aku akan mati makanya pingsan!" cibir Khalif
"Dia khawatir, seorang ibu pasti akan shock saat mendengar kondisi putranya kritis, jadi maklumi saja," timpal Nina
"Kenapa kau biasa saja, sepertinya sedikitpun kau tak terlihat khawatir apalagi mencemaskan aku," cibir Khalif menoleh kearah Nina
Nina hanya tersenyum simpul menatapnya.
"Ah aku lupa, kau kan benci padaku, pasti kau senang saat mendengar aku sakit, dan kau juga pasti berharap jika aku cepat mati agar kau bisa hidup bahagia," imbuhnya
"Kalau iya emang kenapa?" jawab Nina balik bertanya
"Kalau ada Api pasti ada asap, kenapa aku terlihat menyebalkan bagimu karena kau sendiri yang membuat aku seperti ini bukan?" jawab Nina santai
"Iya, iya, semua pasti salahku, semua orang menyalahkan aku!" seru Khalif
Nina kemudian bergegas menuju ke ruang perawatan Khalif dan mulai membereskan barang-barangnya.
Sementara itu Khalif tampak menghubungi Mutia.
"Kemana sih kamu sayang, kenapa ponsel kamu tidak aktif, apa kamu belum tahu kalau aku sakit, sampai-sampai belum mengunjungi aku!" Khalif tampak kecewa saat mengetahui Mutia belum menjenguknya.
Bahkan gadis itu tidak mengangkat telponnya meskipun ia sudah berkali-kali menghubunginya.
Malam mulai menjelang, seorang perawat datang membawakan makan malam Khalif.
Dama buru-buru masuk ke ruang perawatan Khalif dan memeluk erat putranya itu.
"Sayang, yang kuat ya, aku tahu kamu pasti akan sembuh!" ucap Dama sambil terisak
"Ibu apaan sih, memangnya aku akan mati apa sampai nangis kaya gini!" gerutu Khalif kemudian mendorong tubuh Dama
"Bukan begitu nak, ibu hanya mau mau kuat,"
__ADS_1
"Sudahlah Bu, aku tak mau mendengar apapun lagi!" seru Khalif kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut
Melihat Dama yang tampak sedih menghadapi Khalif, Nina pun menghampirinya.
"Ibu, sebaiknya ibu tak perlu mengkhawatirkan Al. Ibu tahu kan kalau dia itu kuat. Dan dia tak mau di kasihani, lebih baik ibu bersikap seperti biasa saja dengan begitu Ibu akan membantunya cepat pulih. Tapi sebaliknya bila ibu terus mengkhawatirkannya maka yang ada dia akan seperti tadi, marah-marah dan baper karena ia menganggap orang yang berempati padanya justru membuat dia berpikir orang itu menginginkan dia mati," terang Nina membuat Khalif seketika membuka selimutnya dan melotot kearahnya.
"Lihat saja dia begitu bahagia saat aku doakan cepat mati!" cibir Nina menatapnya sinis.
"Dasar istri jahat, sekarang sifat aslimu sudah mulai keluar!" sindir Khalif
"Kau baru tahu kalau aku jahat?" tanya Nina dengan Wajah judesnya
Melihat Khalif dan Nina kembali saling adu mulut membuat Dama segera meminta Nina untuk mengalah.
Ia kemudian mencoba menyuapi Khalif, namun Khalif menolak. Namun Dama tak menyerah dan terus mencoba membujuknya.
Namun Khalif seketika marah saat ia mengira dama memperlakukannya seperti seorang anak kecil.
Ia bahkan mendorong makanan yang dipegang Dama hingga jatuh berserakan di lantai.
*Klontang!!
Melihat Dama tampak berkaca-kaca membuat Nina langsung mengambil alih.
"Maaf ya Bu kalau Al sedikit sensitif, sini biar Nina saja yang melanjutkannya," ucap Nina kemudian membantu Dama bangun
Karena melihat makanannya jatuh ke lantai Nina kemudian memutuskan untuk pergi membeli makanan.
Tidak lama ia kembali membawa sebungkus nasi padang.
Ia kemudian membuka bungkusan nasi itu dan menyuapi Khalif.
Lelaki itu tampak menyipitkan matanya saat melihat Nina menyuapinya menggunakan tangannya.
"Apa kau yakin akan menyuapiku dengan menggunakan tangan kotor mu itu?" cibir Khalif seolah jijik melihat tangan Nana.
"Ada yang bilang gunakanlah tanganmu saat makan karena itu bisa menambah kenikmatan makanan yang kau makan. Soal bakteri atau apalah itu anggap saja sebagai bonus, karena tidak Allah sendiri yang mengatakan jika tak ada sesuatu yang ia ciptakan sia-sia, semua ada manfaatnya bahkan bakteri pun bisa jadi bermanfaat bagi tubuh kita kalau kita tahu bagaimana cara membuatnya berguna," jawab Nina
Seketika Khalif langsung membuka mulutnya setelah mendengar ceramah Nina.
Ia bahkan menyuapinya hingga nasinya habis.
"Cih, katanya sakit, tapi nasi Padang satu bungkus habis, untung aku beli tiga!" cibir Nina membuat Khalif seketika tertawa
"Selamat malam," ucap Mutia tampak berdiri di depan pintu ruangan itu sambil menatap cemburu saat melihat Khalif tertawa bahagia dengan Nina.
__ADS_1