
Semakin hari hubungan Mutia dan Khalif semakin dekat. Keduanya bahkan sering terlihat jalan bersama meskipun masih backstreet karena tidak direstui oleh Damayanti.
Sementara Dama yang kesulitan membujuk Khalif terpaksa meminta bantuan Mariyah. Meskipun ia tahu mertuanya itu tak pernah mau membantunya, namun ia percaya jika berkaitan dengan Nina wanita itu akan membantunya.
Di hari ulang tahun Khalif ke 25, Dama sengaja membuat pesta besar-besaran dan mengundang Nina sebagai tamu istimewa.
Untuk mendekatkan Nina dengan Khalif saat acara dansa, ia sengaja meminta anak buahnya untuk menyekap Mutia di gudang. Ia berharap dengan begitu Khalif bisa berdansa dengan Nina dan menyatukan lagi hubungan keduanya.
Mutia yang merasa kaget saat menyadari jika dirinya ada di gudang langsung menggedor-gedor pintu ruangan itu berharap ada seseorang yang mendengar dan mengeluarkannya dari tempat itu.
Sayangnya Dama sengaja menjaga tempat itu dengan menempatkan dua anak buahnya di sana.
Khalif yang kehilangan Mutia berusaha mencarinya, namun sayangnya ia tak menemukan gadis itu.
"Sayang sudah saatnya acara dansa di mulai," ucap Dama kemudian mengajak putra semata wayangnya itu berdansa membuat para tamu undangan segera mengikutinya
Semua tamu undangan tampak berdansa dengan pasangan mereka. Khalif berusaha mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Mutia, namun sayangnya ia tak menemukannya juga.
Selesai berdansa dengan Ibunya, iapun berdansa dengan sang nenek Mariyah.
Nina yang terlambat datang tampak kebingungan mencari seseorang.
"Tidak bisakah kau datang lebih awal?" sindir Dama menghampirinya
"Maaf Nyonya kebetulan aku harus meminta tanda tangan dosen skripsi dulu tadi," jawab Nina
"Hmm, kalau begitu cepat ikut aku!"
Nina mengangguk kemudian mengikutinya. Dama membawa gadis itu ke kamarnya dan memerintahkan beberapa orang penata rias untuk mendandani Nina.
"Kenapa aku harus ganti baju lagi?" tanya Nina tampak terkejut saat dua orang memintanya untuk berganti pakaian.
"Karena pakaian mu tak sesuai dengan tema pesta," jawab salah seorang dari mereka
"Benarkah, padahal di undangan tak tercantum dres codenya," celetuk Nina
"Buat dia menjadi ratu pesta malam ini?" bisik Dama
"Baik nyonya,"
Dama kemudian meninggalkan ruangan itu dan menanyakan tentang keberadaan Mutia.
__ADS_1
Seorang pengawal menjawab jika Mutia begitu berisik dan terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu gudang.
Dama tertawa kecil membayangkan bagaimana nasib Mutia di dalam gudang kecil itu.
"Sekarang kau baru tahu bagaimana rasanya jika berusaha melawanku!" ucap Dama tampak puas mendengar laporan anak buahnya.
Tidak lama, Nina keluar dari kamarnya membuat Dama tampak tercengang melihat penampilan Nina.
"Wow, memang the power of make up itu luar biasa. Bahkan si itik buruk rupa pun bisa berubah menjadi bidadari surga," pekiknya takjub
"Terimakasih atas pujiannya," jawab Nina
Dama kemudian mengajak Nina menuju ke ruang pesta.
Wanita itu segera menarik Mariyah dan mendorong Nina hingga jatuh ke pelukan Khalif.
"Apa-apaan ini!" seru Mariyah berusaha melepaskan diri saat Dama mengajaknya berdansa
"Jangan bilang kau berusaha mendekati ku karena ada maksud tertentu," imbuh Mariyah dengan wajah juteknya
"Jangan suudzon dulu Bu, noh lihat di sana Seketika Dama langsung menunjuk kearah Nina dan Khalif yang tampak canggung dan masih saling menatap.
"Oh so sweat banget," ujar Mariyah terpukau menatap keduanya
Seketika Mariyah langsung menoyor Dama membuat wanita itu mencebik kesal.
"Dasar matre, kau pasti sengaja mendekatkan mereka berdua untuk merebut Hawi Corporation dariku bukan?, dasar wanita licik,"
"Tapi Ibu, memang seharusnya Hawi Corporation itu menjadi milik Khalif bukan. Toh hanya dia satu-satunya pewaris Wiraatmadja yang berhak atas perusahaan itu. Apa ibu mau terus mengurus perusahaan itu, apa ibu tidak mau menikmati masa tua ibu dengan memperbanyak ibadah, ingat ibu semakin tua usia kita maka semakin dekat dengan kematian," ucap Dama langsung dibalas dengan pukulan Mariyah
"Dasar menantu durhaka, itu memang keinginan mu yang senang jika aku mati,"
"Makanya sebelum Ibu mati aku ingin membahagiakan Ibu dengan menikahkan Khalif dengan Nina menantu idaman ibu," ujar Dama berusaha menenangkannya
"Nah, kalau itu aku setuju," sahut Mariyah
"Kalau begitu bujuk Khalif supaya mau menikah dengan Nina,"
"Meskipun aku tahu kau memiliki niat tertentu saat memintaku untuk membujuk Khalif agar menikahi Nina. Tapi jujur aku memang sangat ingin jika Nina menjadi istri Khalif. Aku yakin jika gadis itu bisa merubah sikap keras Khalif menjadi pribadi yang lembut dan hangat," jawab Mariya
Sementara itu Khalif masih tertegun menatap Nina yang terlihat begitu cantik malam itu. Ia tak menyangka jika Nina bisa berubah cantik bahkan mengalahkan semua wanita yang ada di tempat itu.
__ADS_1
Merasa canggung dengan keadaan itu, Nina segera melepaskan diri dari pelukan Khalif.
"Maaf," ucapnya singkat, ia buru-buru membalikkan badannya, namun seseorang langsung menahannya.
"Mau kemana, kenapa buru-buru. Apa kau tak mau memberikan selamat kepada Khalif," ucap Mariyah langsung mengajak gadis itu mendekati Khalif
"Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sukses selalu," ucap Nina
"Terimakasih," jawab Khalif dingin
"Kalau begitu ajaklah Nina untuk berdansa, lagipula kalian terlihat begitu serasi malam ini," tutur Mariyah membuat Khalif tak bisa menolak permintaan sang nenek
Saat keduanya tengah berdansa, Dama sengaja merekamnya dan mengirimkannya kepada Mutia.
Mutia yang merasa geram melihat Nina yang dikira berusaha mendekati Khalif.
"Sial, aku yakin nenek sihir itu ada di balik semua ini. Ia sengaja mengurung ku di sini agar Nina bisa berdekatan dengan Khalif. Lihat saja aku tidak akan membiarkan si Upik abu itu mengacaukan rencana ku kali ini," Mutia buru-buru mencari celah ruangan itu agar bisa keluar dari sana.
Ia tersenyum saat melihat sebuah jendela kecil di belakang.
Ia buru-buru mencari tempat berpijak dan segera keluar melalui jendela.
Meskipun ia harus mengalami luka gores namun Mutia bersyukur karena ia berhasil keluar dari tempat itu.
Setelah merapikan penampilannya, ia bergegas kembali ke ruang utama. Namun Mutia harus beberapa kali menghindari anak buah Dama yang berusaha menangkapnya.
"Al!" serunya saat dua orang anak buah Dama berhasil menangkapnya dan berusaha mengusirnya dari tempat itu
Khalif tak mendengarnya karena suara bising musik dan teriakan para tamu undangan yang sedang menikmati dentuman musik DJ tersebut.
Mutia tak kehilangan akal, ia melepaskan sepatu high heelsnya dan melemparnya kearah Khalif.
*Pletakkk!!
"Awww!!" Khalif langsung berhenti dan menoleh ke belakang. Mutia langsung berteriak dan meminta tolong padanya.
Melihat gadis yang dicintainya dibawa keluar oleh para bodyguard membuat Khalif langsung meninggalkan Nina dan menolong Mutia.
Mutia merasa bangga saat Khalif lebih memilihnya dan meninggalkan Nina.
Ia bahkan sengaja memamerkan kebersamaannya dengan menari bersama Khalif di depan Dama.
__ADS_1
"Dasar jal*ng sialan, jangan harap kau bisa mendapatkan putraku,"