
"Sebaiknya mulai sekarang kau harus berhati-hati dengan Dama. Wanita itu memang tampak seperti orang baik pada umunya. Tapi sebenarnya ia punya niat jahat terhadap dirimu. Apalagi saat ini kau merupakan ancaman tersebarnya. Ia bisa saja menggunakan semua yang dimilikinya demi mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Tapi dan tidak melakukannya," ujar David
Ia kemudian menceritakan kepadanya tentang apa yang terjadi kepada gadis itu beberapa jam yang lalu.
Khalif seketika merasa malu saat mendengar bagaimana ibunya berusaha menyingkirkan istrinya saat tengah sekarat.
"Aku tidak tahu jika gara-gara aku, Ibu akan tega membunuh Nina. Aku menyesal karena sudah membuat ibuku menjadi seorang monster, aku berjanji akan membawa Ibu kembali ke jalan yang benar," ujar Khalif
Malam itu Khalif kemudian menemui Dama. Ia tampak menceritakan keresahannya saat mengetahui jika wanita itu hendak membunuh istrinya Nina.
Meskipun selama ini hubungan mereka tidak seperti suami istri pada umumnya, tapi Khalif sama sekali tidak ingin membunuh wanita itu.
Ia bahkan sangat murka ketika mengetahui ibunya ingin membunuh Nina hanya karena Nina mengambil pisau yang akan di jadikan barang bukti oleh Nina.
Khalif Kemudian menceritakan jika Nina dan ayahnya sudah menemukan barang bukti yang akan membuktikan Jika dirinya tidak bersalah.
Nina menemukan buku diary milik nenek Mariyah yang tersimpan di ruang rahasia. Dari buku diary itu Ia tahu jika nenek meninggal bukan karena di bunuh. Akan tetapi Mariyah meninggal karena bunuh diri.
Ia bunuh diri karena kecewa dengan Khalif dan juga Dama yang membuatnya frustasi sehingga ia kemudian mengakhiri hidupnya.
Adapun alasannya kenapa ia bunuh diri menggunakan pisau milik Khalif, semata-mata untuk memberikan pelajaran kepada cucu kesayangannya itu.
"Jadi sekarang ibu tidak perlu mengkhawatirkan pisau itu. Karena Ayah Dado bilang jika nenek bunuhuu diri menggunakan pisau itu maka sidik jarinya akan menempel di pisau itu. Untuk itu, sekarang sebaiknya Ibu meminta maaf kepada Nina dan tidak perlu memperpanjang lagi masalah ini lagi," terang Khalif.
Dama hanya tersenyum kecut menanggapi permintaan putranya itu.
Kau tidak tahu nak bagaimana kejamnya orang-orang diluar sana. Kau bisa saja berkata seperti itu karena kau belum pernah mengalami bagaimana sakitnya dikhianati.
"Sekarang kita lihat saja apa perkataan ayah mertua kamu bisa dipegang atau tidak," jawab Dama
"Aku percaya dengan dia ibu,"
"Mungkin benar Dado akan membuktikan kepada semua orang jika nenek meninggal kerena bunuh diri. Lalu apa yang akan terjadi jika para polisi itu juga menemukan sidik jarimu yang menempel pada pisau itu. Apa Kamu yakin jika Dado akan melepaskan mu atau membantumu untuk terbebas dari tuduhan membunuh nenekmu sendiri. Karena setahu ibu, buku diary saja tidak cukup untuk dijadikan barang bukti yang menegaskan bahwa nenek Maria meninggal karena bunuh diri. Tentu saja aparat membutuhkan bukti lain yang lebih otentik yang bisa membuktikan pernyataan dalam buku diary itu.
Satu-satunya bukti yang paling kuat adalah pisau yang digunakan Mariyah untuk bunuh diri
Asal kau tahu dalam pisau itu terdapat sidik jarimu . Dan itu artinya kau tetap akan menjadi tersangka dalam kasus itu. Kau pasti tahu alasan Ibu kenapa sengaja ingin mengambil kembali pisau itu dari Nina, tentu saja agar kau tidak menjadi tersangka utama dalam pembunuhan nenek.
kalaupun Ibu ingin membunuh Nina itu agar kasus ini bisa segera ditutup dan kau akan terbebas dari semua tuduhan," terang Dama
Khalif tetap saja kali tidak mau menerima alasan Dama yang berusaha membenarkan perbuatannya. Karena baginya kejahatan tetaplah kejahatan dan ia tidak bisa mentoleransi apa yang sudah dilakukan ibunya terhadap istrinya.
Khalif kemudian berlalu pergi meninggalkan ibunya itu.
"Sekarang kita buktikan saja Khalif siapa yang akan selalu membantu mu dikala susah dan senang," gumam Dama
...🍀🍀🍀...
Sementara itu Dado tengah berada di badan forensik untuk mengetahui sidik jari yang ada di dalam pisau itu.
seorang pria memberikan pulsa itu kepada Dodo dan memberikan hasil tes laboratorium kepadanya.
Dado sangat terkejut saat mengetahui jika terdapat sidik jari Khalif pada pisau tersebut. Tentu saja ini akan membuat Alif menjadi tersangka utama dalam kasus ini, dan mematahkan pernyataan Maria yang ada dalam buku diary. Karena sidik jari Mariyah tidak ditemukan pada pisau itu.
Hanya ada sidik jari Khalif pada pisau itu. Tentu saja penemuan terbaru ini membuat Khalif terbukti bersalah karena di dalam desa tersebut jelas hanya ada sidik jari Khalif.
Seperti dugaan Dama, dua orang polisi datang menyambangi kediaman Hale mereka mau surat penangkapan yang menyatakan jika pemuda itu menjadi tersangka atas pembunuhan Mariyah.
Nina tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong suaminya yang dibawa pergi oleh dua orang polisi.
Meskipun Nina sudah berusaha menjadi saksi untuk Khalif, tetap saja polisi menahan pria itu.
Dama kemudian mengunjungi Khalif di penjara. Wanita itu kemudian menghasut Khalif untuk membenci istri dan mertuanya. Karena Menurut Dam, keduanya sudah membuat Khalif menjadi seorang tersangka.
"Sekarang kau tahu kan jika yang ibu katakan itu benar, Nina dan ayahnya tak berusaha menolong mu apalagi mengeluarkan ia dari tempat ini. Yang Ibu khawatir akhirnya terjadi, sekarang apa yang harus ibu lakukan untuk mengeluarkan dirimu dari Neraka ini," tukas Dama
Setelah kepergian Dama, pemuda itu tampak berpikir keras. Ia berpikir apa benar yang dikatakan oleh ibunya itu. Apa benar jika Nina yang sudah membuatnya menjadi tersangka kasus ini.
__ADS_1
Dado bahkan sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya selama ia mendekam dalam penjara.
Pikiran Khalif mulai terkontaminasi dengan pernyataan Dama. Ia kini mulai berpikir Nina sama saja dengan Mutia yang meninggalkannya saat ia sakit keras.
Khalif bahkan melarang Nina untuk menemuinya. Kesedihan Khalif benar-benar memuncak saat apa yang dipikirkannya.menjadi kenyataan.
Hari itu Mutia sengaja mendatangi Khalif di penjara hanya untuk memutuskan hubungannya dengan lelaki itu. Mutia mengatakan jika dirinya memutuskan Khalif bukan karena ia sudah tidak menjadi CEO lagi, ataupun karena penyakitnya. Tapi karena ia merasa jika Khalif yang sudah berubah kepadanya.
Mutia mengatakan jika Khalif sudah tak menyayanginya seperti dulu lagi. Ia melihat Khalif mulai menyukai Nina sehingga mulai mengabaikannya.
Bukan hanya perhatian Khalif yang berkurang, namun lelaki itu sudah jarang mengunjungi apartment nya apalagi mengajaknya jalan-jalan seperti dulu. Selain itu komunikasi yang mulai berkurang membuat Mutia merasa di abaikan hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Khalif merasa hidupnya benar-benar hancur. Selain ia kehilangan pekerjaan ia juga harus meringkuk di balik Jeruji besi dengan sakit yang makin menggerogoti tubuhnya.
Khalif bahkan berkali-kali kritis karena penyakitnya kambuh.
Karena kondisi kesehatannya, pihak kepolisian mengijinkan Khalif untuk di rawat di rumah sakit.
Khalif kemudian dirawat di Rumah Sakit Harapan Kasih. Mengetahui Khalif kembali kritis Nina kembali menjaga dan merawatnya.
Setibanya di rumah sakit, Nina segera menuju ke ruang ICU.
Ia melihat beberapa orang dokter tampak sedang memeriksa kondisi Khalif.
Kembali air mata Nina membasahi pipinya saat mengetahui Khalif berteriak kesakitan.
Jeritan Khalif begitu memilukan, Ia seolah ingin memberitahukan kepada semua orang jika rasa sakit itu benar-benar membuatnya tak berdaya.
Karena Khalif terus berteriak kesakitan dokter kemudian memutuskan untuk membius Khalif agar ia tidak menganggu pasien lain.
Saat dokter anastesi hendak membiusnya tiba-tiba tubuh Khalif mulai kejang-kejang. Dokter anastesi mengurungkan niatnya untuk membiusnya. Dokter Adi kemudian menyarankan untuk segera membawa Khalif ke ruang operasi.
"Sepertinya tidak ada jalan lain lagi selain operasi. Pasien sudah benar-benar kritis jadi tolong tanyakan ke dokter bedah apa kita bisa melakukan operasi sekarang?" ujar dokter Adi
Seorang dokter kemudian pergi menemui Dokter bedah. Ia kemudian memberitahukan kepadanya tentang Khalif yang harus dioperasi.
"Sebenarnya ada satu lagi pasien yang harus menjalani operasi, tapi sampai jam segini ia belum datang juga. Padahal seharusnya ia dioperasi jam satu siang. Kalau begitu bawa saja pasiennya ke sini, biar aku akan menyiapkan semuanya," tukas seorang dokter bedah
"Baik dok," lelaki itu kemudian kembali ke ruang ICU untuk memberi tahu dokter Adi jika dokter bedah sedang mempersiapkan ruangan operasi.
Dua orang perawat kemudian segera membawa Khalif menuju ke ruang operasi namun dokter bedah mengatakan jika pasien yang sudah membuat janji sebelumnya sudah datang.
Ia kemudian menyarankan agar keluarga Khalif mencari rumah sakit lain yang bisa mengoperasikannya hari ini kuga.
Dokter Adi kemudian menemui Nina dan menyuruhnya untuk mencari rumah sakit yang bisa mengoperasi Khalif hari ini juga.
Adi tidak tinggal diam, ia juga ikut membantu Nina menghubungi beberapa rumah sakit untuk menanyakan apa mereka memiliki ruang operasi yang kosong.
Nina terlihat begitu sibuk, ia menghubungi satu per rumah sakit yang di rekomendasikan oleh pihak rumah sakit.
Namun dari sekian banyaknya rumah sakit semua ruang operasi mereka full hingga Nina harus bekerja keras untuk mendapatkan rumah sakit yang memiliki ruang operasi kosong.
Dokter Adi kemudian berhasil mendapatkan sebuah rumah sakit yang bisa mengoperasi Khalif hari ini pukul empat sore.
"Alhamdulillah akhirnya dapat juga," ucap Nina begitu bersyukur
"Terimakasih banyak dok sudah membantu mencarikan rumah sakit," ucap Nina
"Sama-sama Nin, sebaiknya sekarang kau harus bersiap-siap untuk memindahkan Khalif ke rumah sakit itu," ujar Adi
"Baik,"
Nina kemudian segera bergegas menemui Khalif di ruangannya.
Ia segera membereskan semua barang-barang suaminya itu dan memasukannya kedalam tas.
Beberapa orang tenaga medis segera membawa Khalif keluar menuju ke mobil Ambulance.
__ADS_1
Nina sengaja mengikuti mobil ambulance menggunakan taksi online.
Saat Khalif benar-benar kritis inilah Nina berhasil memecahkan p sebuah pesan rahasia yang ada dalam buku diary Mariyah.
Nina tidak sengaja menjatuhkan air ke buku itu saat ia hendak memberi minum Khalif. Ajaib, tiba-tiba sebuah tulisan muncul setelah buku itu tersiram air.
Nina yang kaget melihat kejadian itu segera mengangkat buku itu dan membaca tulisan yang ada dalam. Buku diary tersebut.
"Maaf kalau aku harus menyembunyikan pesan yang satu ini, aku tidak mau ada orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan buku ini untuk berbuat kejahatan. Aku meminta seorang art di rumah untuk menyimpan pisau yang aku gunakan untuk bunuh diri di tempatnya, jadi kau harus menemukan Sri untuk bisa mengungkap misteri kematian ku,"
Dari tulisan itu Nina mengetahui jika Mariyah tidak menggunakan pisau milik Khalif.
Mariyah menyebutkan , jika ia meminjam pisau dari seorang assisten rumah tangganya.
Malam itu juga Nina ditemani Panji segera mencari keberadaan pelayan itu. Nina berusaha menemui wanita itu agar bisa menemukan pisau asli yang dipakai Mariyah.
Berkali-kali ia menemukan art itu dudah ganti kosan sehingga membuat ia begitu lelah.
Meskipun Khalif kembali membencinya seperti dulu Nina tetap membantu
Suaminya itu untuk mencari tahu kebenaran kasus Mariyah.
"Sudahlah nin, kita lanjutkan pencariannya besok saja. Sekarang hari sudah malam dan kau sepertinya sudah kelelahan Jadi sekarang istirahat saja dan kita lanjutkan pencarian kita besok lagi," ucap Panji
Awalnya Nina menolak untuk berhenti mencari sang asisten rumah tangga.
Nina merasakan tubuhnya sangat lemas. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
Wajahnya seketika berubah pucat. Dadanya mulai sesak dan ia merasakan pandangannya mulai kabur.
Nina berusaha menggapai lengan Panji untuk menuntutnya pulang. Namun sayangnya ia tak berhasil meraih lengan lelaki itu hingga membuatnya nyaris jatuh di jalan.
Beruntung Panji langsung menangkap tubuh Nina.
"Sudah ku bilang sebaiknya kau istirahat saja," ucap Panji kemudian menggendong tubuh gadis itu.
Ia kemudian mengantar Nina ke rumahnya.
Panji sengaja membaringkan tubuh Nina keatas ranjangnya..Tidak lupa ia menyelimuti seluruh tubuhnya dan melepaskan sepatunya.
"Tidurlah dengan nyaman, semoga besok pagi kau sudah siap lagi untuk memulai hari mu yang baru,," ucap Panji kemudian mengusap kening gadis itu.
"Panas sekali!"
Panji kemudian mengompres Nina untuk menurunkan demamnya. Semalaman Panji tak pulang karena harus menjaga Nina yang mengalami demam sepanjang malam.
Ia bahkan dengan sabar mengompres gadis itu hingga panasnya turun.
Dama memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil gambar keduanya.
Ia sengaja mengirimkan foto-foto mereka kepada Khalif.
Khalif merasa murka melihat Panji merawat Nina di rumahnya.
Karena kemarahan Khalif ia kemudian memutuskan untuk menceraikan Nina.
"Kali ini aku tidak akan menarik ucapan ku lagi, ternyata kau sama saja dengan wanita lainnya yang berusaha meninggalkan aku di saat aku kritis. Sekarang aku tahu tidak ada seorangpun yang peduli dengan ku atau mencintai aku dengan tulus, semuanya bull ****!!" seru Khalif
Pagi harinya seorang pengacara menemui Nina dan memberikan surat gugatan cerai kepadanya.
Nina begitu terkejut saat mengetahui Khalif menggugat cerai.
Ia kemudian mendatangi suaminya itu.
"Apa kau sungguh-sungguh ingin berpisah denganku?" ucap Nina
Khalif langsung mengangguk.
__ADS_1
"Aku tahu kau pasti sedang kesal saat mengambil keputusan ini. Aku tidak keberatan jika kau memang ingin berpisah dariku. Tapi asal kau tahu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu saat kau sedang sakit seperti ini. Aku akan menerima keputusan mu untuk menceraikan aku setelah kau sembuh, jadi tolong tangguhkan dulu gugatan cerai mu ini. Aku janji aku sendiri yang akan menceraikan dirimu jika aku sudah melihat kau sehat kembali." ucap Nina kemudian meninggalkannya.