
Hari itu Nina terlihat begitu lelah selesai menjalani sidang skripsinya.
Gadis itu buru-buru pergi menuju halte bus karena ia mendapatkan panggilan dari Hawi Corporation.
Seperti perjanjian yang telah ia tanda tangani, Nina harus menjadi karyawan magang setelah selesai sidang skripsinya.
Ia akan benar-benar menjadi karyawan tetap setelah benar-benar lulus dan mendapatkan ijazah.
"Meskipun lelah, aku harus semangat karena ini adalah kesempatan emas yang tak akan ku dapatkan lagi seumur hidupku," ucap Nina berusaha menyemangati dirinya
Nina terus melirik jam tangannya. Entah kenapa hari itu busway datang terlambat. Bila hari biasa hanya jeda setengah jam dan paling lama satu jam, tapi hari itu sudah satu jam lebih Nina menunggu namun Busway tak kunjung tiba.
Jika ia memilih naik angkot maka ia akan mengeluarkan uang lebih banyak juga memakan waktu lama karena mereka melalui jalur yang lebih jauh dari rute busway.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain selain memesan ojol, karena jika tidak aku bisa terlambat,"
Dengan berat hati iapun mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojol. Namun tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di depannya.
"Apa kau perlu tumpangan?" tanya Khalif
Nina tampak terkejut melihat kedatangan pria itu, "Gak kok, aku bisa pesan ojol," jawab Nina berusaha menolaknya
"Kenapa harus pesan ojol kalau ada yang gratis. Lagipula tujuan kita sama so jangan nolak!" seru Khalif
"Tapi kamu kan gak tahu aku mau kemana??"
"Aku tahu kamu mau ke Gedung Hawi Group untuk tanda tangan kontrak magang bukan?" jawab Khalif
"Kok tahu sih!"
"Tentu saja secara kan gue yang bakal interview kamu," jawab Khalif
"Cepat naik!"
"Tapi...." Nina terlihat ragu namun seperti biasa Khalif yang paling gak suka ditolak segera turun dari motornya dan memakaikan helm kepadanya.
Nina tak bisa berkutik saat pria itu memaksanya naik ke atas motornya.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu memaksa ku?"
"Karena aku tak bisa menerima penolakan," sahut Khalif kemudian melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Nina yang hampir jatuh buru-buru memegangi jacket Khalif.
Setibanya di gedung Hawi Corporation, Khalif langsung membukakan helm untuknya dan mengajaknya masuk ke ruangannya.
Khalif berjalan begitu cepat hingga membuat Nina terpaksa berlari untuk mengejarnya.
Semua orang tampak memperhatikan keduanya membuat Nina merasa canggung dan menjauh dari Khalif. Namu pria itu langsung menarik lengannya dan berjalan di sampingnya.
"Kenapa harus jauh-jauhan?" tanya Khalif
"Karena aku tak mau orang berpikir macam-macam tentang kita,"
"Jangan geer!" jawab Khalif seketika membuat wajah Nina memerah karena malu
"Maaf," jawab Nina
Tidak lama seorang perempuan cantik datang ke ruangan itu dan menghampiri Nina.
Wanita itu kemudian meminta Nina untuk membaca dan menandatangani kontrak kerjanya.
Sementara itu Mutia tampak mengawasi Nina yang sedang menandatangani kontrak kerjanya, dari luar ruangan.
"Apa yang kau lakukan di sini!" seru Dama membuat Mutia tercengang
"Aku hanya melihat Nina menandatangani kontrak kerjanya," jawab Mutia
"Jangan bohong, kau pasti penasaran kan kenapa Khalif bisa bebas. Asal kau tahu, seberapa pun kerasnya dirimu untuk memenjarakannya kau tidak akan pernah menang melawan kami,"
"Maaf Ibu Damayanti yang terhormat, asal anda tahu ... bukan saya yang melaporkan Khalif ke polisi, kalau kau tidak percaya silakan cek saja siapa yang sudah melaporkan dia. Lagipula kalau aku punya bukti seperti itu kenapa tidak dari dulu aku memberikannya kepada polisi. Satu lagi...kau bisa tanya sendiri pada putramu apa yang sudah aku lakukan untuk menolongnya," jawab Mutia
"Dasar penjilat, aku tahu kau pasti sengaja menjilat putraku karena kau berharap bisa menjadi istri seorang konglomerat bukan. Karena kau gagal mendapatkan Janaka sekarang kau mencoba mendekati putraku, jangan mimpi!" sahut Dama kemudian meninggalkannya
Mutia benar-benar dibuat kesal oleh wanita itu hingga ia meluapkan kemarahannya di ruangannya.
__ADS_1
"Aaahhh!!, dasar Iblis, kita lihat saja bagaimana aku bisa menaklukkan hati putramu. Dan bila saat itu tiba, aku akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku untuk meminta belas kasih ku!" tukas Mutia
Selesai menandatangani surat perjanjian magang, Nina pun bergegas pulang. Melihat Nina pulang seorang diri, Mutia segera menghubungi Khalif dan memintanya untuk mengantarnya pulang.
"Bila perlu ajak dia makan malam dan buatlah permintaan maaf kepadanya. Aku yakin setelah kau meminta maaf padanya karena masalah kalian yang dulu, ia akan luluh dan kau bisa dengan mudah mendekatinya," tandas Mutia
"Bagaimana jika gagal?" tanya Khalif
"Semua wanita itu menyukai pria yang tulus apalagi romantis, jadi lakukan saja sesuai perintah ku, aku yakin kau pasti berhasil,"
"Tapi sayang, kau tahu kan kalau aku tidak suka dengannya."
"Ayolah Al, sekarang kau harus mendekati dia agar bisa bebas dari semua tuduhan yang dialamatkan kepada mu. Lagipula kau juga harus menikahinya agar bisa mendapatkan Hawi Corporation bukan?" tutur Mutia
Khalif berkali-kali menolak untuk menikahi Nina apapun alasannya. Namun Mutia terus membujuknya.
"Lebih baik aku tak mendapatkan apa-apa daripada harus menikah dengan Nina. Toh aku masih bisa hidup mewah sebagai seorang pembalap,"
"Ingat sayang, kau adalah pewaris utama Wiraatmadja, jadi hanya kau yang boleh memiliki perusahaan itu bukan ibumu apalagi nenekmu. Memang kau bisa tetap hidup mewah dengan menjadi pembalap, tapi seorang atlet itu ada masanya. Lalu bagaimana kehidupan kita jika kau pensiun jadi pembalap. Apa kau mau aku dan anakmu nanti hidup kekurangan??" tanya Mutia dengan memasang wajah sedih
"Tentu saja tidak sayang, lagipula aku juga masih punya tabungan jadi kita bisa memakainya,"
"Sampai kapan, tabungan juga bisa habis sayang. Beda dengan sebuah perusahaan, jadi tolong pikirkan masak-masak permintaan ku ini," ucap Mutia penuh penekanan
"Tapi kenapa harus Hawi Corporation, bahkan ayah sudah memberikan perusahaan lain yang lebih besar dari Hawi Corporation, jadi kau tak perlu takut hidup miskin bersamaku," sahut Khalifal
Mutia kemudian menjelaskan tentang gurita bisnis Hawi Corporation dengan maksud Khalif akan sadar setelah mengetahui betapa Hawi Corporation itu sangat besar dan merupakan sumber devisa terbesar setelah Surabaya, Jogja.
"Baiklah kalau itu maumu, aku janji akan melakukan apapun asalkan bisa membuatmu bahagia," jawab Khalif
Khalif segera berlari menyusul Nina dan mengantarnya pulang.
Setelah kejadian hari itu hubungan Khalif dan Nina mulai mencair lagi. Khalif bahkan selalu mengantarkan Nina pulang ke rumahnya.
"Kenapa kau seperti ini lagi padaku, asal kau tahu kau audah membuat ku bingung. Jadi bersikaplah sewajarnya saja," ucap Nina
"Aku akui memang aku salah menilai mu. Dan aku minta maaf jika sudah menyakiti hatimu. Tapi percayalah setelah kejadian itu aku menyesal dan berusaha mencari dirimu. Namun sekarang aku sadar jika aku tak bisa hidup tanpamu. Jadi maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" ucap Khalif membuat Nina tercengang Mendengarnya
__ADS_1