
Khalif membaringkan tubuhnya di pangkuan Nina. Malam itu Khalif terlelap di pangkuan Nina.
Keesokan harinya, Khalif merasa bersalah terhadap Nina karena ia telah membuat wanita itu tidur sambil duduk memangkunya.
Ia kemudian menggendong Nina dan memindahkannya ke atas ranjangnya.
"Maafkan aku sayang," ucapnya kemudian mengecup pucuk kepala Nina.
Khalif memutuskan untuk pergi meninggalkan Nina di vila setelah mendapatkan telepon dari seseorang.
Ia melesatkan mobilnya menemui Broto yang sudah menunggunya di gedung Hawi Corporation.
Setibanya di sana, Khalif langsung menuju ke ruang kerja Broto.
Broto langsung memberikan setumpuk dokumen kepadanya, "Mulai sekarang kau akan menjalankan perusahaan ini seperti yang kau inginkan, aku harap kau bisa membuat perusahaan ini terus berkembang seperti harapan nenekmu. Istrimu telah legawa memberikan semuanya kepadamu jadi jangan sia-siakan kepercayaannya," ucap Broto
Khalif tercengang mendengar ucapan Broto, ia kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi pernyataan pengalihan warisan.
Di sana disebutkan jika Nina memberikan semua warisan yang diterimanya kepada suaminya termasuk posisi CEO perusahaan.
Khalif tak percaya jika wanita itu benar-benar menghibahkan semua hartanya kepadanya. Ia juga membaca pesan Nina yang memintanya untuk berubah.
Yang membuat Khalif semakin terkejut adalah permintaan Nina yang menginginkan hidup bahagia dan memilih berpisah dengannya.
"Jadi ia memberikan semuanya agar ia bisa meninggalkan aku," ucapnya kemudian meletakkan dokumen itu ke meja.
"Kalau begitu aku tidak bisa menerima semua ini, lebih baik aku tak punya apa-apa daripada aku harus kehilangan dia," ucap Khalif kemudian meninggalkan Broto.
Ia melangkah gontai meninggalkan ruang itu. Dama yang mengetahui hal itu langsung menyusul Khalif.
Entah kenapa Khalif benar-benar merasa begitu terpukul. Ia kemudian duduk di lobby gedung sambil menangis tersedu-sedu. Kini ingatannya tentang Nina mulai menghiasi pikirannya.
Ia terus memukulinya kepalanya yang terasa sakit.
"Aarrgghhh, kenapa aku tidak mati saja. Apa kau sengaja ingin menghukum ku!" seru Khalif
Bukan hanya kepala ia kini memukul-mukul dadanya yang mulai terasa sesak hingga ia pingsan.
"Khalif!" Dama menjerit histeris saat melihat putra semata wayangnya tergelatak di lobby gedung.
Tubuhnya begitu dingin dengan wajah yang memucat. Ia segera menghubungi Ambulance.
Tak lama sebuah ambulance berhenti di depan gedung Hawi Corporation. Beberapa orang tim medis berlarian mengevakuasi tubuh Khalif ke dalam mobil.
Pagi itu hampir semua media online dan juga televisi memberitakan tentang kondisi Khalif yang sekarat.
"Bagaimana keadaannya dok," tanya Dama dengan wajah gusar
"Kondisinya semakin kritis, sebaiknya anda banyak-banyak berdoa untuk kesembuhannya," jawab Adi
__ADS_1
"Dimana Nina, kenapa ia tidak kelihatan?" tanya pria itu
"Entah, aku juga belum tahu dimana dia," jawab Dama
"Hmm, sebaiknya anda memberitahukan Nina tentang kondisi suaminya. Semoga dengan kedatangan Nina bisa membantu pemulihan kondisi Al yang semakin memburuk,"
"Baik dok," Dama segera mengambil ponselnya dan menghubungi Nina.
Berkali-kali ia menghubungi Nina namun wanita itu tak mengangkat ponselnya.
"Dimana kamu Nina, kenapa tidak diangkat juga," tandas Dama
Ia kemudian menghubungi anak buahnya untuk mencari Nina dan membawanya ke rumah sakit.
#Villa Kenanga
Nina mulai membuka matanya saat cahaya matahari mulai menerobos masuk ke jendela kaca kamarnya.
Ia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan beranjak turun dari ranjangnya.
Ia melihat seluruh ruangan itu di penuhi dengan foto-foto Khalif.
"Dimana Al, kenapa ia tak ada di sini," Nina kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu
Seorang pelayan wanita menghampirinya dan menyuruhnya untuk sarapan pagi.
"Dimana Al, kenapa ia tak kelihatan?" tanya Nia
Nina membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.
Bukan hanya surat, ia bahkan menemukan sebuah cincin berlian di dalamnya.
Dalam surat itu Khalif menyampaikan permintaan maafnya kepada Nina karena telah memperlakukan ia dengan buruk selama ini. Ia juga berterima kasih karena Nina selalu setia padanya meskipun ia sudah sering menyakitinya.
"Jika ada satu kata yang ingin ku dengar sebelum ajalku adalah kata maaf darimu. Entah kenapa aku merasa jika aku tidak akan bertemu lagi denganmu hingga aku harus mengucapkan ini melalui surat ini.
Semoga kau bisa hidup bahagia seperti yang kau inginkan. Satu lagi yang ingin aku sampaikan padamu Nina, aku baru sadar jika aku mulai mencintaimu, mungkin aku tak pantas mengucapkan kata-kata itu apalagi mengingat bagaimana aku memperlakukan mu selama ini. Tapi tidak ada yang salah dengan perasaan ini, aku tidak akan menyalahkan mu jika kau tidak bisa menerima perasaan ku ini. Mungkin ini akan menjadi karmaku yang sudah membuat mu hidup menderita selama ini. Maaf jika aku terlalu banyak bicara, selamat menikmati sarapan pagimu dan jangan lupa pakai cincinnya. Cincin itu adalah simbol perasaan ku yang mulai tumbuh untuk mu," Nina tampak berkaca-kaca setelah membaca surat dari Khalif.
Entah kenapa ia merasa sesuatu yang buruk tengah menimpa suaminya itu hingga membuatnya merasa tidak tenang.
Nina memandangi cincin berlian di tangannya.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak tenang begini, sebenarnya apa yang terjadi," Nina kemudian kembali ke kamarnya.
Saat ia membuka ponselnya, ia melihat banyak pesan masuk dan juga beberapa panggilan dari Dama.
"Tidak biasanya Ibu menghubungiku sebanyak ini, apa terjadi sesuatu?" Tiba-tiba pelayan wanita kembali menemui Nina dengan wajah panik.
"Nyonya, ada seorang pria mencari anda di depan," ucap wanita itu tampak ketakutan
__ADS_1
Nina langsung bangun dan melangkah ke je ruang tamu untuk melihat siapa yang mencarinya.
Nina begitu terkejut saat melihat sosok pria di depannya.
"Ada perlu apa anda datang kesini?" ucap Nina dengan Wajah gemetar
"Nyonya meminta saya untuk menjemput anda,"
"Memangnya ada apa!" tanya Nina penasaran
"Sebaiknya anda tidak perlu banyak tanya dan segera kemasi barang-barang anda jika tak mau menyesal seumur hidup," jawab pria itu
"Menyesal seumur hidup, memangnya ada apa!" seru Nina kali ini ia memberanikan diri mengguncang dunia kekar di depannya itu
"Suami anda tengah sekarat sekarang,"
"Al, apa yang terjadi padanya?" Seketika Nina merasa tubuhnya lemas, kepalanya pusing dan pemandangannya mulai kabur.
*Grep!!
Pria itu segera menangkap tubuh Nina yang jatuh dan membawanya ke mobil.
Ia melesatkan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Khalif di rawat.
Dama menghubungi pria itu untuk menanyakan tentang Nina.
"Dia ada bersamaku, sekarang kami masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, mungkin satu jam lagi kami baru tiba," ucap pria itu memberikan laporan kepada Dama
"Baiklah, aku tunggu kedatangan kalian,"
...*****...
#Gedung Hawi Corporation
Panji tampak berlari menuju ke ruang kerjanya. Pria itu segera membuka laptopnya setibanya di sana. Ia dengan cekatan membuka semua email masuk dan membalasnya satu persatu.
Bukan hanya sibuk membalas email ia juga harus sigap menjawab semua telpon masuk di ponselnya.
Sementara itu Broto tampak mengamati pemuda itu tanpa berkedip.
Panji yang melihat Broto di depan pintu ruang kerjanya pun segera menghentikan aktivitasnya.
"Selamat pagi pak," sapanya kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri pria itu
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah
"Aku tahu kau pasti punya alasan sendiri kenapa harus merubah penampilan mu seperti ini," ucap Broto sambil memandangi Panji dari ujung kepala sampai ujung kaki
"Apa maksud bapak?" jawab Panji dengan nada bingung
__ADS_1
"Mungkin semua orang tidak akan mengenalimu lagi, tapi tidak dengan diriku." ucap Broto kemudian melemparkan dokumen-dokumen Panji ke meja kerjanya
Panji begitu terkejut saat melihat foto-foto dirinya sebelum dan sesuai operasi di korea.