My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 41


__ADS_3

"Tentu saja kau boleh menceraikan Nina, tapi setelah itu kau harus mundur dari jabatan mu sebagai CEO Hawi Corporation," ucap Mariyah


Seketika Khalif langsung bersimpuh di kaki Mariyah, "Apa nenek tidak bisa merubah keputusan itu, bukankah aku sudah menikahi Nina apapun akhir rumah tangga kami. Toh ayah hanya menyebutkan untuk menikahi Nina jika ingin menjadi CEO Hawi Corporation. Lalu kenapa aku harus melepaskan jabatan CEO, setelah bercerai dengannya?" ucap Khalif membuat Mariyah langsung tersenyum getir mendengarnya.


"Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Sekarang kau mulai menunjukkan sifat aslimu Al, nenek tak menyangka kau ternyata tidak jauh beda dengan ibumu. Pantas saja Han lebih memilih mewariskan perusahaan itu kepada Janaka," ujar Mariyah


"Dan kau, sejak awal aku berpikir jika kau adalah wanita baik-baik dan sangat setia terhadap cucuku Janaka, tapi tidak ku sangka ternyata kau adalah serigala berbulu domba. Kau adalah sahabat dekat Nina tapi tega mengkhianatinya. Sebenarnya aku memberikan posisi sekretaris kepadamu sebagai kompensasi atas apa yang menimpamu dengan Janaka. Aku memberikan itu supaya bisa menjadi penghiburan bagi kamu yang sedang patah hati karena kehilangan kekasih, tapi sayangnya kau terlalu tamak hingga tega mendekati suami sahabat mu sendiri, orang yang sudah membunuh calon suamimu sendiri," ujar Mariyah menatap tajam kearah Mutia


"Sudahlah nenek, lagipula Naka sudah meninggal jadi wajar saja kalau dia jatuh cinta lagi dengan laki-laki lain," ucap Khalif berusaha membelanya


"Benar, aku tidak melarang dia untuk tidak jatuh cinta lagi. Tapi bukan berarti dia harus jatuh cinta kepada pria beristri bukan, apalagi dia suami sahabatnya sendiri. Apa kau sulit mendapatkan cinta seorang lelaki hingga kau memilih merayu pria beristri," cibir Mariyah membuat Khalif begitu marah kepadanya hingga membentak wanita itu.


"Sudahlah nek, jika kau marah denganku karena telah menyakiti Nina, kau tidak perlu menyalahkan Mutia. Karena apapun yang ia lakukan itu adalah hak asasi dia dan nenek tidak berhak menghakiminya. Kalau memang nenek tidak mau merestui hubungan kami aku tidak peduli. Aku akan tetap menikahi Mutia dan menceraikan Nina," jawab Khalif.


Gagal mendapatkan restu dari Mariyah Khalif pun pergi meninggalkannya.


Semenjak kejadian hari itu Khalif semakin berani menunjukkan kedekatannya dengan Mutia di depan umum. Ia bahkan lebih sering mengajak Nina untuk menghadiri acara-acara penting perusahaan daripada mengajak istrinya Nina.


Namun Nina tak pernah ambil pusing dengan kelakuan suaminya itu. Ia lebih memilih fokus bekerja untuk melupakan semua masalah yang menimpanya.


Ia bahkan selalu memilih lembur dan pulang malam agar Mariyah tidak mengetahui jika ia tinggal di gudang.


Saat Nina sedang lembur, Panji diam-diam memasuki ruangan kerja Mutia.


Ia sengaja masuk ke ruangan kerja Mutia untuk mencari surat kepemilikan apartemen miliknya.


Namun setelah ia menggeledah ruangan itu Panji tak menemukan apapun kecuali sebuah flashdisk yang disembunyikan di bawah pot bunga.


"Apa dia menyimpan semua surat-surat berharga miliknya di apartemennya?"

__ADS_1


Panji segera bergegas pergi meninggalkan ruangan itu dan menemui Nina di ruangannya.


Ia melihat Nina tampak meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Apa kau sakit?" tanya Panji segera menghampirinya


"Sepertinya mag ku kambuh karena akhir-akhir ini sering telat makan," jawab Nina kemudian membereskan meja kerjanya


"Sesibuk apapun dirimu harusnya kau tetap mengutamakan kesehatanmu. Mulai sekarang kau harus makan tepat waktu jika ingin menjadi Wanita tangguh. Karena untuk menjadi kuat itu perlu tenaga," jawan Panji


Pria itu kemudian membantu Nina membereskan dokumen-dokumennya kemudian mengajaknya pulang.


Sebelum pulang Panji sengaja mengajak Nina ke sebuah rumah makan untuk makan malam.


Tidak di sangka ternyata Khalif juga ada di tempat itu. Ia sangat senang melihat Nina bersama dengan Panji. Ia pun segera mengambil gambar mereka dan pergi meninggalkan restoran itu.


"Dengan bukti-bukti ini aku jadi punya alasan untuk menceraikan Nina, dan kau tidak bisa memberhentikan aku sebagai CEO Hawi Corporation karena aku menceraikan Nina bukan karena salahku. Tapi karena dia yang berselingkuh dengan bodyguardnya," tukas Khalif


"Dan nenek tahu kan apa yang terjadi jika aku menyebarkan foto-foto ini ke media?" ancam Khalif


Mariyah tersenyum kecut saat memandangi foto-foto tersebut.


"Ternyata kau berusaha mengancam ku sekarang," ucap Mariyah kemudian merobek-robek foto-foto itu dan membuangnya ke tempat sampah.


Keesokan harinya Khalif bersama kuasa hukumnya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.


Ia bahkan sengaja menyerahkan foto-foto kedekatan Nina dengan Panji ke media berita online.


Pagi itu hampir semua karyawan Hawi Corporation membicarakan foto-foto Nina dengan bodyguardnya yang menjadi headline news di sebuah kanal berita online.

__ADS_1


Panji yang mengetahuinya langsung memberitahu Nina tentang berita itu.


"Jadi dia mulai berani mengusikku, baiklah kalau itu mau mu. Lo jual gue beli," ucap Nina kemudian segera keluar dari ruangannya


Melihat kedatangan Nina membuat semua karyawan yang sedang bergosip segera kembali ke meja kerja mereka masing-masing.


Bukannya menemui Khalif Nina justru menemui Mariyah. Ia kemudian memberikan penjelasan kepada wanita itu jika dirinya dan Panji tidak memiliki hubungan apapun. Ia juga meminta maaf karena sudah membuat nama baik keluarga Wiraatmadja menjadi tercemar karenanya.


"Tentu saja aku tahu, justru aku yang harusnya minta maaf karena cucuku sudah memfitnah mu," jawab Mariyah dengan pandangan mata berkaca-kaca


"Apapun yang akan terjadi padamu nanti, tetaplah untuk bertahan di perusahaan ini. Karena aku percaya hanya kau dan Broto yang mampu membuat perusahan ini kembali bersinar seperti saat Han yang menjadi pemimpinnya," ucap Mariyah memberikan semangat kepadanya.


Ia juga dengan berat hati memberhentikan Panji sebagai bodyguard Nina untuk alasan pribadi. Ia tak mau membuat Panji menjadi alasan Khalif untuk menyudutkan Nina.


Panji tak keberatan dengan permintaan Mariyah. Di hari terakhirnya bekerja ia bahkan sengaja mendekorasi gudang tempat Nina tinggal.


Nina begitu terkejut saat melihat kamarnya itu berubah menjadi kamar yang nyaman dan juga Indah.


Ia bahkan sangat menyukai lukisan yang dibuat di dinding gudang yang dibuat oleh Panji sebagai penyemangat Nina dalam menghadapi ujian terberat hidupnya.


Nina begitu terharu saat mengetahui Panji sengaja menggambar sendiri lukisan di dinding kamarnya itu.


Nina buru-buru menghubungi Panji dan mengucapkan terima kasih atas hadiahnya.


...🍀🍀🍀...


Siang itu seorang petugas pengadilan agama mendatangi ruang kerja Nina. Ya, Mereka hanya ingin menyampaikan surat panggilan dari pengadilan agama.


Nina tampak berkaca-kaca saat menerima surat itu. Ia tak menyangka jika Khalif benar-benar serius ingin menceraikannya.

__ADS_1


__ADS_2