
Pagi harinya berita tentang Khalif yang menjemput Nina pulang langsung menjadi headline news di beberapa media online dan infotainment. Bukan hanya itu bahkan mereka paling ramai dibicarakan hingga menjadi trending topik di Twitter.
Dama merasa puas saat mengetahui rencananya berhasil. Ia kemudian meminta Khalif untuk mengundang Nina pertandingan balapannya. Ia berharap dengan berita kedua ini akan membuat masyarakat lupa dengan pemberitaan tentang Khalif yang menjadi tersangka pembunuhan Janaka.
Dama yakin Bisa membebaskan Khalif dari tuduhan tersangka jika ia bisa meredam pemberitaan di media.
Siang itu Khalif kembali ke kampus Nina. Kali ini ia sengaja ingin memberikan ticket VIP kepada gadis itu untuk melihat pertandingannya.
Kedatangan Khalif disambut puluhan wartawan yang sudah menunggunya di halaman kampus.
Mereka menanyakan kepadanya tujuan kedatangannya ke tempat itu.
"Aku hanya ingin memberikan ticket ini kepada Nina itu saja," jawab Khalif tampak malu-malu
"Apa anda sengaja mengundangnya untuk memberikan dukungan saat bertanding nanti?" tanya seorang wartawan
"Aku mengundangnya sebagai seorang teman, kebetulan kami baru memulai pertemanan kami, jadi tidak ada maksud apapun,"
"Ada yang bilang jika anda sedang melakukan pendekatan dengan Mbak Nina karena ayah anda yang menginginkan anda untuk menikah dengannya, apa itu benar?"
"Kalau di bilang pedekate gak juga, aku hanya berusaha menjalin hubungan yang baik dengannya, masalah nanti ada hubungan yang lebih serius diantara kita itu urusan nanti, dan aku tak bisa menjelaskannya sekarang," jawab Khalif segera berlari dan bergegas masuk ke kelas Nina.
Semua mahasiswa tampak histeris melihat kedatangan pria tampan itu. Mereka berusaha mengerumuninya namun beberapa pengawal Khalif langsung mengamankannya.
Sementara itu Mutia tak bisa menyembunyikan rasa bencinya saat melihat kedatangan Khalif di kelasnya. Ia bahkan semakin membencinya saat melihatnya memberikan tiket pertandingannya kepada sahabatnya Nina.
"Aku harap kau bisa datang dan melihat ku bertanding nanti," ucap Khalif
"Tentu saja, dari dulu aku sangat ingin menonton aksi balap mu secara langsung di sirkuit tapi selalu tak bisa. Terimakasih banyak sudah mewujudkan keinginan ku," jawab Nina
"Apa kau sudah selesai kuliah?" tanya Khalif
"Sudah,"
"Kalau begitu bagaimana jika sekalian pulang bareng?"
"Ok, tapi sebelum itu sebagai ucapan terimakasih ku karena kamu sudah memberikan aku tiket gratis gimana kalau aku traktir kamu makan siang dulu sebelum pulang," ucap Nina
"Setuju, kebetulan aku juga belum makan siang,"
"Kalau gitu ayo, aku akan menunjukkan tempat makan siang yang enak dan murah," jawab Nina segera menarik lengan Khalif keluar dari kelasnya.
Sementara itu para mahasiswi mulai menggunjingkan Nina.
"Baru kali ini aku iri sama Nina, gimana sih ia bisa menggaet putra konglomerat,"
"Benar, rasanya kecantikanku tiba-tiba menjadi sia-sia saat tahu cowok tampan dan tajir seperti Khalif lebih memilih upik abu seperti Nina," timpal yang lainnya
__ADS_1
"Itu karena Khalif hanya ingin memanfaatkannya saja, aku berani bertaruh jika ia tak benar-benar menyukainya," sahut Mutia
"Ah jangan suudzon, aku yakin kamu pasti iri kan karena gagal menikahi kakak tiri Khalif," sindir yang lainnya
"Benar, lo pasti iri kan sama Nina, apalagi selama ini lo selalu merasa menjadi Ratu di kampus ini. Tapi sayangnya kali ini ia justru dipecundangi oleh sahabatnya sendiri,"
Suara gelak tawa para mahasiswa terdengar seolah mengintimidasi Mutia.
"Jujur gue akui jika Nina memang kalah cantik dari lo, tapi masalah intelegensi lo jauh dibawahnya. Buktinya dia dipilih oleh HAWI Corporation untuk mewakili kampus kita,"
*Brakkk!!
Mutia melampiaskan kemarahannya dengan menendang meja dan pergi meninggalkan mereka.
Lihat saja aku tidak akan membiarkan Khalif menikahi Nina, tidak akan pernah!
...----------------...
Nina begitu bangga setibanya di kedai ayam bakar favoritnya. Ia tak lupa memperkenalkan Khalif kepada pemilik kedai yang sudah akrab dengannya.
Ia kemudian mengajak Khalif untuk duduk dan mulai memesan menu makan siang mereka.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Nina begitu bersemangat
"Aku tidak tahu menu spesial di sini, jadi samakan saja dengan pesanan mu," jawab Khalif
Tidak lama pesanan mereka pu datang.. Kembali Nina memberikan presentasi rinci tentang menu makanan yang dipesannya berharap Khalif penasaran dan segera melahapnya.
"Aku yakin dijamin kamu ketagihan setelah mencoba ayam bakar di sini," ucap Nina begitu bersemangat
Gadis itu segera menyantap makan siangnya, sementara Khalif masih termangu menatap makanannya.
"Ayo makan... jangan hanya di diamkan saja, apa perlu aku suapin," ucap Nina tersenyum menggodanya
Khalif kemudian mengambil pisau dan garpu dan mulai mengoyak ayam bakarnya.
"Makan ayam bakar seperti ini tuh paling enak pakai tangan, nih cobain," ucap Nina kemudian menyuapinya
*Ceklik, ceklik!!
Para awak media yang mengikuti mereka tak melewatkan adegan itu dan segera mengabadikannya dalam bidikan kamera.
Keduanya tampak menikmati makan siang mereka meskipun Khalif hanya separuh hati. Ia berusaha selalu tersenyum dan terlihat bahagia saat para wartawan mengabadikan momen kedekatan mereka.
Seusai makan siang, giliran Khalif mengajak Nina ke sebuah butik. Ia sengaja membelikan sebuah gaun cantik sebagai hadiah untuknya.
Selesai memberikan banyak hadiah ia mengantar Nina pulang dengan menggunakan motor sportnya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mengantarku pulang," ucap Nina tersipu-sipu
"Sama-sama, kalau gitu sampai ketemu besok di sirkuit," jawab Khalif
"Apa kamu gak mau mampir dulu?"
"Mungkin lain kali saja, soalnya aku harus mengadakan konferensi pers untuk pertandingan besok," jawab Khalif menolaknya dengan santun
Ia kemudian menyalakan motornya dan melambaikan tangannya kearah Nina.
"dadah!" seru Nina melambaikan tangan kearahnya
Tidak lama Dado keluar menghampirinya.
"Apa dia lelaki yang kau idolakan itu??"
"Yups, ayah tahu gak kalau dia mengundang ku hadir di pertandingannya besok," ucap Nina memamerkan ticket VIP pemberian Khalif
"Sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga, hati-hati karena saat kamu sedang merasa begitu bahagia sebenarnya kamu sedang menuju masa-masa sulit mu seperti kata pepatah Jepang abis turunan, tanjakan siap menghadang. Jadi persiapkan tenagamu," ucap Dado kemudian mengacak-acak rambutnya
"Iya ayah," jawab Nina menarik sudut bibirnya
Tidak lama Mutia mengetuk pintu rumahnya.
Nina tak percaya melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Akhirnya setelah tujuh purnama akhirnya kamu kembali mengunjungi rumahku," ucap Nina menyambut kedatangan sahabatnya itu
"Sorry Nin, selama ini aku terlalu sibuk karena jadi brand ambassador kampus kan," sahut Mutia tampak lesu
"Iya sans aja, aku cuma bercanda kok. Btw kamu mau minum apa?" tanya Nina
"Gak usah repot-repot lagian kaya siapa aja, nanti aku ambil sendiri kalau haus," jawab Mutia
Nina kemudian mengajak Mutia masuk ke kamarnya.
Mutia memandangi dinding kamar Nina yang dipenuhi dengan poster dan gambar-gambar Khalif.
"Apa kamu masih mengidolakannya setelah apa yang ia lakukan pada calon suamiku?" ucap Mutia memperlihatkan wajah sedihnya
"Aku mengidolakan Khalif sebagai seorang pembalap bukan pribadinya. Jadi apapun yang dilakukannya dan kehidupan pribadinya aki tak mau mengomentarinya biarlah itu menjadi urusannya sendiri," jawab Nina
"Sebagai orang yang pernah dekat dengan keluarga Wiraatmadja aku kenal betul siapa Khalif, sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya. Karena ia hanya memanfaatkan mu untuk mendapatkan tujuannya,"
"Jujur saja aku tidak mau ikut campur dalam urusan pribadi mu. Tapi sebagai sahabat aku tak mau kau sampai dimanfaatkan oleh orang-orang tak beradab seperti mereka. Cukup aku yang sudah menjadi korbannya dan aku tak mau kau mengalami kekecewaan seperti diriku," imbuh Mutia
"Jangan khawatir Mut, aku juga tahu batas diriku. Aku bahkan lebih tahu harus memposisikan diriku saat bersamanya. Bagiku hubungan kami hanya sebatas penggemar dan idolanya saja tak lebih. Btw thanks atas perhatiannya," jawab Nina
__ADS_1