My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 52


__ADS_3

Mutia segera menuju ks rumah sakit setelah melihat banyak pesan masuk di ponselnya.


Ia segera berlari turun ke lantai bawah untuk menunggu taksi, namun sialnya hari itu hampir tak ada satupun taksi yang melintas.


Beruntung ada Panji yang menawarinya tumpangan, ia pun kemudian mengantar Mutia menuju ke rumah sakit.


"Terimakasih ya," ucap Nina setibanya di rumah sakit


Ia segera berlari menuju ruang perawatan Khalif tanpa menoleh kebelakang.


Ia berhenti di depan pintu saat melihat Nina sedang menyuapi Khalif.


Khalif terlihat begitu menikmati suapan demi suapan yang diberikan Nina membuat Mutia terlihat cemburu melihat kedekatan mereka.


"Cih, katanya sakit, tapi nasi Padang satu bungkus habis, untung aku beli tiga!" cibir Nina membuat Khalif seketika tertawa


Namun ia tetap memberanikan diri masuk ke ruangan itu setelah memantapkan hatinya.


Ia yakin jika Khalif tidak mungkin tergoda dengan Nina yang bukan tipenya.


"Selamat malam," ucap Mutia tampak berdiri di depan pintu ruangan itu sambil menatap cemburu saat melihat Khalif tertawa bahagia dengan Nina.


"Malam," jawab Nina menoleh kearahnya


"Sayang?" sapa Khalif tampak berbinar-binar saat bertemu dengan Mutia


Dama yang tak suka dengan Mutia langsung memasang wajah judes saat gadis itu menghampiri Khalif.


"Darimana aja lo, katanya kekasih sejati tapi pas pasangannya lagi sakit boro-boro nelpon, atau khawatir. Datang jenguk aja terlambat udah gitu gak bawa apa-apa lagi, mana sayangnya!" celoteh Dama


"Sudahlah ibu jangan bikin gaduh. Ingat ini rumah sakit bukan di rumah jadi stop berbicara dengan suara keras!" seru Khalif


Nina beranjak dari duduknya untuk pegi mencari angin. Namun Dama sengaja melarangnya pergi. Ia malah menyuruh Nina untuk tetap di sana dan memberikan obat untuk Khalif.


"Sini biar aku saja Tante," ujar Mutia


"Tante, sejak kapan gue jadi Tante lo. Lagian lo siap mau minumin obat Khalif, pengin banget ya di cap sebagai kekasih setia!" cibir Dama


Mutia terlihat menahan amarahnya saat, mendengar omelan Dama. Kedua wanita itu memang saling membenci dan tak pernah sekalipun akur.


Mutia hanya mengepalkan tangannya sambil berusaha menenangkan dirinya yang mulai terpancing dengan omongan menyakitkan Dama.


Saat Dama dan Mutia sedang berebut siapa yang pantas membantu meminumkan obat untuk Khalif, Nina yang sudah jengah melihat pertengkaran keduanya buru-buru menyambar tas kecilnya .


Namun Khalif dengan cepat menarik lengannya.


"Jangan pergi dulu!" ucap Khalif menahannya


"Apalagi, kan sudah ada Mutia," jawab Nina

__ADS_1


"Bantu aku minum obat," tukas Khalif


Ia segera merebut obat dari Dama dan memberikannya kepada Nina. Tentu saja aksi Khalif ini membuat Dama dan Mutia langsung membuat kedua wanita itu memelototinya.


"Bodo amat, kalian rempong, sebaiknya kalau mau berantem tuh di ring tinju bukan di depan gue. Gue butuh ketenangan buat istirahat!" celetuk Khalif saat melihat tatapan keduanya yang seolah menyalahkannya.


Ia bahkan menyuruh keduanya pergi setelah ia minum obat.


"Sebaiknya kalian lanjutkan perselisihan kalian di depan, karena aku mau tidur dan jangan bikin rusuh di sini atau aku akan memanggil sekuriti untuk mengusir kalian!" seru Khalif kemudian segera merebahkan tubuhnya dan menutupi seluas tubuhnya dengan selimut.


Nina buru-buru pergi setelah mendengar ultimatum Khalif. Ia memilih mencari udara segar dengan berjalan-jalan di depan rumah sakit.


Nina memilih duduk di depan taman sambil menikmati cemilan.


Bola matanya seketika bergerak mengikuti seorang pria yang begitu sangat familiar dengannya.


"Bukankah itu Panji, kenapa dia ada di rumah sakit, sakit apa dia?"


Nina segera beranjak dari duduknya dan bergegas untuk mengikuti pria itu.


Ia mengikutinya hingga ruang radiologi.


"Apa dia diam-diam mengidap penyakit mematikan hingga harus melakukan Rontgen??"


Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya membuat Nina seketika menoleh kearahnya.


"Astaghfirullah Panji ku kira siapa!" serunya seraya mengusap dada


"Aku kira tadi yang masuk kedalam itu kamu, tapi ternyata bukan," jawab Nina


"Bukan aku yang sedang melakukan Rontgen, tapi ayahku," jawab Panji


"Oh gitu, memang sakit apa dia?" tanya Nina lagi


"Ada tumor di kepalanya, itulah sebabnya hari ini dia melakukan Rontgen untuk memastikan apa penyakitnya.


"Semoga cepat sembuh ya ayahnya?"


"Aamiin, thanks Nina," jawab Panji


Keduanya kemudian melanjutkan berbincang di taman.


Sementara itu Khalif tiba-tiba kejang dan harus masuk ruang ICU.


Dama berkeliling rumah sakit mencari menantunya itu.


Ia tampak begitu kesal saat melihatnya ngobrol santai dengan seorang laki-laki.


"Nina!" seru Dama berteriak memanggilnya

__ADS_1


Karena Nina tak mendengarnya juga, ia buru-buru pergi menghampiri Nina dan segera menarik tangannya kemudian mengajaknya pergi tanpa mengizinkan Nina berpamitan dengan Panji.


"Sudah tahu suamimu sedang dirawat dan kritis, kamu malah enak-enakan di sini dengan lelaki lain," gerutu Dama dengan suara tinggi membuat semua orang memperhatikan mereka


Dama terus menyeret Nina tanpa menghiraukan orang-orang yang terus menggunjingkan dirinya.


Nina hanya bisa menundukkan kepalanya saat Panji berusaha mengejarnya. Seolah sebuah isyarat agar pria itu tak mengikutinya.


Nina berusaha meredam kemarahan Dama, namun wanita itu tak menghiraukan pembelaan darinya .


Ia terus mengumpat dan memarahi Nina sebagai seorang istri yang tak tahu diri karena memilih meninggalkan suaminya dan ngobrol dengan pria lain di saat suaminya sedang kritis.


"Lihatlah suamimu, dia koma sekarang!" teriak Dama menunjuk kearah Khalif


"Meskipun aku tahu kalau sangat membencinya karena ada wanita itu Tapi tetap saja kau tidak boleh meninggalkannya saat ia sedang sekarat. Lihatlah dia sekarang, untuk saat ini dia sangat membutuhkan dirimu, meskipun kita tidak tahu apa dia bisa selamat atau tidak. disaat seperti ini kok ada selalu ada di sisinya apapun yang terjadi.


Aku harap dia akan segera sadar jika kau yang menemani dan mudah-mudahan saja karena peristiwa ini hubungan kalian akan membaik lagi," terang Dama


Tidak lama Dokter Adi keluar dan menghampiri mereka. Wajahnya terlihat begitu lelah membuat Dama semakin mengkhawatirkan kondisi Khalif.


"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Dama


"Kondisinya semakin kritis, sebaiknya kalian banyak berdoa untuk kesembuhannya. Semoga dengan begitu akan membantu kesembuhannya," ucap Adi membuat Dama seketika terisak.


"Apa sudah tidak ada harapan lagi dok?" tanyanya lagi


"Saya dan teman-teman dokter akan berusaha semaksimal mungkin, namun hasil akhirnya tetap Tuhan yang memutuskan. Karena kita hanya bisa memvonis tanpa mengetahui apa yang akan terjadi padanya," jawab Adi


"Kenapa dia bisa kritis sebenarnya apa yang terjadi padanya sampai dia kejang dan masuk ke ruang ICU," tanya Nina


"Entahlah aku juga tidak tahu," jawab Dama


"Itu karena sistem imunnya langsung bereaksi terhadap obat yang dikonsumsinya, mungkin tubuhnya menolak obat itu hingga ia kejang dan koma," jawab Adi


"Apa kau salah memberikan obat?"


"Tentu saja tidak Ibu, itu adalah obat khusus buat penderita leukemia. Memang bagi pasien yang baru mulai mengobati penyakitnya akan mengalami kondisi seperti itu. Tubuhnya berusaha menolak karena mereka masih mengandalkan imun alami tubuhnya, begitu Ibu," terang dokter Adi


"Tapi dia bisa sembuh kan?" tanya Dama


"Insya Allah, serahkan saja semua kepada Tuhan dan juga dokter yang merawatnya," jawab Adi kemudian meninggalkan mereka


Seketika Dama merasa lemas mendengar penjelasan Adi.


Tak jauh beda dengan Dama Mutiara juga tampak sama cemasnya saat mengamati kondisi Khalif di depan ruang ICU.


Wanita itu tidak bisa menghilangkan rasa sedihnya saat mengetahui kekasihnya mengidap leukimia stadium akhir dan perasaannya semakin bercampur aduk setelah mendengar penjelasan dokter Adi.


Ia kemudian berlari pergi menuju ke toilet, Mutia menangis tersedu-sedu saat mengetahui kondisi Khalif benar-benar kritis dan mungkin tidak ada harapan.

__ADS_1


Ia tidak menyangka jika kekasihnya itu akan bernasib sama dengan Janaka yang tewas sebelum haru pernikahannya.


"Apa aku memang ditakdirkan untuk tidak mendapatkan seorang suami yang kaya. Apa ini sebuah kutukan sehingga aku selalu mengalami kegagalan saat berusaha menjadi menantu keluarga Wiraatmadja. Sebenarnya apa salahku hingga nasib buruk selalu menimpaku saat aku berhasil mendapatkan pasangan orang berada??" ujarnya sesenggukan.


__ADS_2