My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 50


__ADS_3

Hilman nampak sedang memberikan penjelasan rinci tentang isi wasiat Mariyah. Mantan pengacara keluarga Wiraatmadja itu terlihat begitu sabar saat menjawab semua pertanyaannya Dama dan juga putranya.


"Jadi dengan kata lain, wasiat ini sudah sah dan sepertinya dibuat sebelum Nyonya Mariyah meninggal, karena di sini ada tanda tangan pengacara dan saksi juga," terang Hilman


"Apa surat wasiat ini masih bisa dirubah?" tanya Dama


"Kalau itu tergantung si penerima wasiat, misalnya anda ingin menghibahkan warisan anda kepada putra anda ya tidak masalah," jawab Hilman


"Kalau begitu mulai sekarang kau harus meninggalkan Mutia dan mendekati istrimu lagi. Aku yakin Nina akan mengembalikan semua warisannya kepada mu andai saja kau berubah menyayanginya,"


Khalif langsung mendengus kesal mendengar saran dari sang Ibu.


"Jangan mulai lagi Ibu, bukankah aku sudah bilang kalau Nina itu bukan tipe ku, jadi mau bagaimanapun dia tidak akan bisa merubah perasaan ku padanya," jawab Khalif kemudian pergi meninggalkannya


Khalif kemudian melajukan mobilnya menuju apartemen Mutia.


Setibanya di sana, Khalif terkejar saat melihat Panji ada di depan apartemen Mutia.


"Selamat malam Pak Khalif," sapa Panji


"Malam, ada perlu apa kamu datang menemui Mutia?" jawab Khalif dengan tatapan penuh kecemburuan


Mengetahui Khalif mengurainya, maka Panji kemudian menjelaskan jika ia tidak ingin menemui Mutia. Ia berada di apartemen itu karena ia juga tinggal di blok yang sama dengan Mutia.


"Oh sorry, gue kira lo mau ketemu Mutia. Anyway sejak kapan lo tinggal di sini kok aku gak pernah lihat?"


"Aku baru pindah hari ini?" jawab Panji malu-malu


"Oh begitu rupanya, kalau begitu selamat ya," ujar Panji kemudian segera memencet bel pintu apartemen Mutia


Tidak lama Mutia keluar menyambut kedatangannya.


Sementara itu Panji tampak mengamati keduanya hingga masuk ke dalam.


Mutia segera mengambilkan segelas minuman dingin untuk kekasihnya itu.


"Bagaimana hasil pertemuan mu dengan pengacaramu itu?" tanya Mutia


"Tidak ada hasil," jawab Khalif seakan enggan membicarakan masalah itu


Ia kemudian menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya. Melihat Khalif mengacuhkannya, Mutia pun segera menyusulnya.


"Memangnya kenapa tidak ada hasil. Apa yang mereka katakan, ayolah beritahu aku," desak Mutia


"Pak Hilman bilang jika surat wasiat itu tak bisa dirubah karena sudah sah secara hukum. Hanya si penerima wasiat yang bisa merubah wasiat itu," jawab khalif

__ADS_1


"Kalau begitu kenapa kau tidak mendekati Nina saja, aku yakin Nina pasti akan memberikan semua warisan yang ia terima kepada mu jika kau pura-pura mencintainya. Alu tahu benar siapa Nina, ia tak akan segan-segan memberikan semua yang ia miliki kepada orang yang ia sayangi," jawab Mutia seketika membuat Khalif langsung bangun dari tidurnya.


"Aku kira aku ke sini akan mendapatkan ketenangan, ternyata sama saja. Kau ternyata sama menyebalkannya dengan Ibuku. Kenapa kau menyuruh aku mendekati Nina saat aku sedang kesusahan, padahal kau baru saja meminta ku untuk menikahi mu dua hari yang lalu. Sekarang aku mulai ragu kalau kau benar-benar tulus mencintai ku. Sepertinya kau bukan mencintai diriku tapi kau hanya mencintai hartaku saja," tutur Khalif kemudian segera bergegas pergi meninggalkan Mutia


Mutia berusaha mengejar Khalif dan menjelaskan jika ia salah paham terhadapnya.


Namun Khalif yang benar-benar kecewa tak mau lagi mendengarkan kata-kata gadis itu.


Ia segera menuju ke parkiran dan melesat pergi.


Seorang asisten rumah tangga buru-buru membukakan pintu gerbang saat mendengar suara deru mobil Khalif memasuki halaman rumahnya.


"Siapa yang datang Bi?" tanya Nina


"Bapak Bu,"


Nina segera keluar untuk menyambut kedatangan suaminya.


Melihat wajah masam Khalif, Nina langsung menyunggingkan senyum manisnya.


Khalif langsung menolak saat Nina hendak membawakan tas kerjanya ia buru-buru masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.


*Brakk!!


"Sepertinya percuma saja aku bersikap baik padanya saat ia sedang marah seperti itu," Nina pun memutuskan untuk kembali masuk ke kamarnya.


Hari itu adalah hari libur sehingga Nina memutuskan untuk melakukan joging pagi. Pukul delapan pagi Nina sudah kembali ke rumahnya.


Ia kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum sarapan.


Ia tampak menoleh kearah kursi Khalif yang masih kosong.


"Apa Bapak sudah sarapan?" tanya Nina


"Belum Bu, dia bahkan belum keluar kamarnya dari pagi," jawab Bi Darsih


Nina segera beranjak dari duduknya dan bergegas menuju ke kamar Khalif.


*Ceklek!!.


"Tidak di kunci?" Nina segera masuk setelah mengetahui Khalif tak mengunci kamarnya.


Ia melihat Khalif masih tertidur di ranjangnya.


Ia pun tidak berani membangunkannya. Nina hanya membuka gorden kamarnya agar cahaya matahari bisa masuk.

__ADS_1


"Haus, tolong ambilkan air!" seru Khalif membuat Nina buru-buru pergi ke meja makan untuk mengambil air dingin


Ia kemudian memberikan air kepada Khalif.


Khalif berusaha bangun namun kepalanya terasa begitu nyeri hingga ia meminta Nina untuk membantunya minum.


Nina meletakkan gelas airnya di atas meja dan menyandarkan Khalif di lengannya.


Nina begitu terkejut saat merasakan suhu tubuh suaminya begitu panas.


Ia kemudian segera menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa kondisi suaminya.


Karena Khalif sedang sakit Nina buru-buru membuatkan bubur sambil menunggu dokter memeriksa kondisi suaminya.


Tidak lama dokter memanggilnya.


"Bagaimana kondisi suamiku dok?" tanya Nina


"Dia harus di rawat di rumah sakit karena kondisinya kritis," jawab sang dokter


"Memangnya dia sakit apa dok?" tanya Nina penasaran


"Sementara aku mendiagnosa ia mengidap leukimia, tapi untuk lebih jelasnya kita lihat hasil pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit," jawab sang dokter


"Aku sudah menghubungi ambulance, jadi sekarang kau siapkan saja semua keperluan Khalif," imbuh dokter Adhi


"Baik dok,"


Nina buru-buru menyiapkan pakaian ganti untuk Khalif dan beberapa barang-barang kebutuhannya selama ia di rawat.


Ia bahkan menyuapinya bubur sambil menunggu ambulance datang.


Meskipun Khalif menolak makan, namun dengan sabar Nina mencoba menyuapinya sedikit demi sedikit.


"Sudah, aku sudah kenyang!" seru Khalif memalingkan wajahnya saat Nina hendak menyuapinya lagi


"Tapi kamu baru makan dua suap, sedikit lagi ya biar bisa minum obat, soalnya kata dokter Adi harus makan dulu sebelum minum obat, makan dulu ya. Aku janji ini yang terakhir," ucap Nina seperti seorang Ibu yang merayu anaknya untuk makan


"Kenapa tiba-tiba kamu jadi bawel gini sih!" gerutu Khalif


"Itu karena aku akan kesusahan kalau kamu sakit, makanya aku sengaja bawel biar kamu cepat sembuh," jawab Nina seketika membuat Khalif langsung berdecih kesal


Namun ia tetap membuka mulutnya saat Nina menyodorkan sesendok bubur kepadanya.


Adi tertawa melihat sikap Nina.

__ADS_1


"Harusnya Lo bersyukur punya istri kaya dia, bahkan nyokap lo aja gak bisa membujuk lo buat makan, tapi Nina dia berhasil menyuapi mu walau tiga sendok. Sekarang cepat minum obatnya karena ambulance sudah datang!" seru dokter Adi


__ADS_2