My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 14


__ADS_3

Pagi itu Dama dengan penuh percaya diri mangantar Putranya ke gedung Hawi Corporation.


Karena kursi CEO perusahaan tersebut kosong, sebagai pemenang saham terbesar wanita itu berupaya untuk menjadikan putranya CEO perusahaan itu menggantikan suaminya.


Ia bahkan sudah mengundang para pemegang saham dan dewan direksi dan komisaris perusahaan.


Rapat direksi berjalan mulus sesuai rencana.


Namun saat Dama hendak mengumumkan Khalif sebagai CEO menggantikan suaminya, Mariyah datang bersama dengan Broto.


Mariyah segera merebut mikrofon dari tangan Dama dan mengerakkan bokongnya untuk menyingkirkan Dama dari tempatnya.


Dama merasa kesal dan hampir jatuh saat wanita tua itu menyenggolnya.


"Dasar nenek sihir, kenapa kau selalu saja membuat ku kesal!" gerutu Dama segera menyingkir dan duduk di kursi yang sudah disiapkan Broto untuknya.


"Baiklah semuanya karena semua orang penting Hawi Corporation sudah berkumpul di sini maka aku akan menyampaikan pesan terakhir putraku Handoko Wiraatmadja di depan kalian. Untuk menghindari spekulasi dan juga pergunjingan saya juga sudah mengkonfirmasi pesan ini kepada pihak pengacara keluarga yaitu Hilman Natawijaya yang juga saya hadirkan di sini,"


Broto kemudian mempersilakan Hilma masuk ke ruang rapat dan mempersilakannya duduk.


Mariyah kembali melanjutkan pidatonya dengan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Dama sang menantu yang sudah repot-repot mempersiapkan rapat hari itu untuknya.


"Pasti ada maunya jika nenek sihir itu sudah memujiku," gumam Dama menatap sinis kearah wanita tua itu


Semua orang tampak antusias mendengarkan isi wasiat terakhir Handoko.


"Mengingat pewaris utama Hawi Group sudah meninggal maka aku khawatir akan terjadi kekacauan saat aku meninggal nanti. Untuk mencegah hal itu terjadi, maka dengan ini aku menunjuk Ibuku Mariyah sebagai CEO Hawi Corporation menggantikan posisi Khalif sampai ia menikahi wanita yang saya referensikan yaitu Nina Aryakunto. Namun karena ibuku sudah sangat tua dan tak bisa menjalankan perusahaan maka aku menunjuk Broto Adiwijaya sebagai pelaksana tugas CEO menggantikan ibuku . Namun semua keputusan penting dan kebijakan perusahaan tetap harus menunggu persetujuan Ibuku. Masa jabatan Ibu akan berakhir setelah Khalif bersedia menikahi wanita yang saya sebutkan diatas. Demikian surat pemberitahuan ini saya buat dengan kondisi sadar dan tanpa tekanan dari siapapun," ucap Mariyah kemudian melipat kembali wasiat itu dan memberikannya kepada Hilman.


Seketika wajah Dama menjadi pucat mendebat isi surat wasiat itu. Ia tak menduga jika suaminya tetap bersikeras untuk menjodohkan putra mereka dengan seorang gadis kampungan yang tidak selevel dengannya.


"Bahkan sampai akhir hayat mu, kau masih saja membuatku merasa seperti seorang pecundang," gumam Dama mengepalkan tangannya


Ia segera beranjak dari duduknya dan buru-buru meninggalkan ruang rapat.


Dama tampak memicingkan matanya saat melihat kedatangan Mutia di lobby gedung.

__ADS_1


Ia segera mendorong tubuh gadis itu dan mengusirnya.


"Untuk apalagi kau datang ke sini, Jika kau datang ke sini hanya untuk membuat kekacauan lagi maka sebaiknya kau segera pergi atau aku akan mengirim mu ke penjara!" ancam Dama kemudian mendorong gadis itu


Ia kemudian menyuruh tim keamanan untuk menyeret wanita itu keluar.


Mariyah yang melihat kejadian itu berusaha menghentikan Dama.


"Cukup Dama, jangan pernah mempermalukan nama baik keluarga Wiraatmadja dengan sikap kasar mu itu!" seru Mariyah


Ia kemudian menghampiri Mutia dan membantunya berdiri.


"Apa kau terluka?" tanya Mariyah memperhatikan kondisi gadis itu


"Alhamdulillah tidak Nek," jawab Mutia berusaha merapikan penampilannya


Mariyah melihat lutut gadis itu berdarah, ia kemudian menyuruh Broto untuk membawa gadis itu ke ruangannya.


Melihat Mariyah berusaha mengobati lukanya membuat Mutia merasa tak enak hati.


"Tidak usah repot-repot Nek, biar aku yang mengobati lukaku sendiri," tukas Mutia kemudian mengambil Betadine dari tangan Mariyah dan mengoleskannya ke lututnya yang terluka


"Sebenarnya saya datang ke sini untuk melamar pekerjaan," jawab Mutia


Mariyah tersenyum mendengar jawaban gadis itu.


"Melihat begitu kuat tekadmu dan keberanian mu aku yakin kau adalah wanita yang luar biasa. Apalagi kau begitu percaya diri saat melamar pekerjaan di sarang musuhmu aku yakin kau pasti punya tujuan tertentu," tukas Mariyah seketika membuat Mutia langsung mengkonfirmasi bahwa dirinya tidak memiliki niat jahat.


Ia mengatakan jika dirinya sedang memerlukan uang banyak untuk persiapan ujian kelulusannya. Sebagai seorang anak yatim piatu yang selalu membiayai kehidupannya sendiri tentu ia harus mempersiapkan uang yang banyak menjelang kelulusannya.


Apalagi setelah kematian Janaka yang tak dipungkiri jika selama ini selalu menanggung biaya hidupnya.


Mendengar alasan Mutia yang masuk akal Mariyah pun bisa memahami gadis itu.


"Jika nenek bertanya kenapa aku memilih melamar di sini daripada perusahaan lain, aku berharap jika keluarga Wiraatmadja akan memberikan pekerjaan kepada saya dengan harapan mereka akan menerimaku minimal sebagai kompensasi atas apa yang sudah mereka lakukan padaku," tandas Mutia

__ADS_1


"Sebagai sesama wanita aku tahu benar bagaimana perasaan mu saat gagal menikah, apalagi saat tahu calon suamimu meninggal kerana upaya pembunuhan. Aku tidak menyalahkan mu saat kau mengira jika keluarga Wiraatmadja sudah menghancurkan masa depanmu. Baiklah sebagai keluarga Wiraatmadja saya akan memberikan pekerjaan yang mungkin tidak kau bayangkan sebelumnya. Sesuai dengan keinginan mu, aku harap setelah ini kau akan melupakan dendam mu terhadap keluarga Wiraatmadja, karena aku sudah memberikan posisi yang cukup tinggi di perusahaan ini. Semoga setelah ini kau akan merasa lebih baik setidaknya masa depanmu akan lebih cerah saat bekerja di perusahaan ini," terang Mariyah


Wanita itu kemudian meminta Broto untuk mempersiapkan surat kontrak kerja untuk Mutia.


Betapa senangnya Mutia saat mengetahui jika dirinya akan menjadi kepala divisi di perusahaan besar tersebut.


Ia tak berpikir panjang saat harus menandatangani beberapa surat perjanjian yang sudah disiapkan oleh Mariyah.


Mariyah kemudian menelpon sekretarisnya.


Tidak lama seorang wanita kemudian mengajak Mutia untuk menuju ke ruang kerjanya


"Apa anda tidak salah memberikan posisi itu kepada Mutia?" tanya Broto


"Untuk mendapatkan sesuatu yang besar maka kita harus mengorbankan hal yang besar juga. Itu sudah menjadi hukum alam. Untuk itulah jangan sampai kita melakukan kesalahan sedikitpun jika tidak mau kehilangan sesuatu yang besar. Aku harap kau bisa mengambil pelajaran dari kejadian hari ini," tandas Mariyah


Broto mengangguk paham.


Kabar tentang Mariyah yang memberikan posisi kepala divisi kepada Mutia membuat Dama kebakaran jenggot.


Bagaimana tidak belum habis rasa kesalnya karena wanita tua itu sudah merebut posisi CEO yang seharusnya menjadi milik putra, ia malah menjadikan Mutia yang dianggap musuhnya sebagai Kepala Divisi perusahaan.


Dengan wajah yang dipenuhi amarah Dama memasuki ruangan kerja Mariyah.


Mariyah segera menyuruh Broto keluar saat Dama masuk ke ruangannya.


"Bagaimana bisa Ibu memberikan posisi tinggi kepada iblis itu. Apa ibu tidak tahu jika selama ini dia terus membuat pemberitaan yang menyudutkan Khalif," ucap Dama dengan Nada tinggi


"Tentu saja aku tahu, itu sebabnya aku memberikan posisi itu padanya untuk menutup mulutnya," jawab Mariyah


"Tapi dia itu iblis ibu, aku yakin dia punya tujuan tertentu dan sengaja mendekati ibu untuk mewujudkan misinya itu,"


"Jangan suudzon, apa kau tidak merasa bersalah karena sudah membuat masa depan gadis itu hancur!" sahut Mariyah


"Gagal nikah itu hal biasa ibu, jadi jangan terlalu di dramatisasi. Mungkin saja ia justru akan mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari Janaka kita tidak tahu. Jadi jangan terpengaruh oleh wajah polosnya. Asal ibu tahu dia adalah wanita iblis yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan," ucap Dama berusaha membuka mata ibu mertuanya tersebut.

__ADS_1


Namun Mariyah tetap kekeh pada pendiriannya.


"Aku pastikan ibu akan menyesali keputusan ini," tutur Dama


__ADS_2