
Dua orang polisi tampak mendatangi kediaman keluarga Wiraatmadja, namun mereka tak menemukan Khalif di sana.
"Kami harap anda bisa bekerja sama dengan memberitahu keberadaan putra anda. Karena dengan begitu bisa membantu meringankan hukumannya," ucap salah seorang polisi berusaha membujuk Dama agar memberitahukan keberadaan Khalif.
"Villa Alamanda Cianjur," jawab Dama ketus
"Baik, terimakasih atas kerjasamanya," ucap polisi itu kemudian bergegas pergi.
*Vila Alamanda
Mutia tampak menyiapkan sarapan pagi untuk Khalif.
Ia kemudian menemui Khalif yang tampak merapikan penampilannya di depan cermin.
Mutia langsung memeluknya dari belakang, "Kenapa harus buru-buru pulang sih, tidak bisakah kita menginap semalam lagi di sini?" ucapnya dengan manja
"Hari ini ada rapat dengan Investor jadi aku tidak boleh alfa. Haru ini aku harus bisa meyakinkan para investor dan menunjukan kemampuan ku agar mereka mau mendukungku saat pemilihan CEO nanti," jawab Khalif
"Tapi bukankah kau harus menikahi Nina dulu jika harus menjadi seorang CEO perusahaan?" jawab Mutia kemudian melepaskan pelukannya dan merapikan dasi Khalif.
"Ibu sedang mengusahakan agar para pemegang saham bisa memilih ku sebagai seorang CEO pada pemilihan CEO bulan depan. Walaupun peluangnya kecil untuk terpilih tapi aku percaya jika ibu akan melakukan segala cara agar aku bisa merebut kembali posisi CEO perusahaan dari tangan nenekku tanpa harus menikahi gadis pilihan ayahku," jawab Khalif
Tidak lama terdengar suara bell rumah berbunyi. Mutia buru-buru keluar untuk membuka pintu rumahnya.
Mutia begitu terkejut saat dua orang polisi berdiri di depan pintu.
"Siapa yang datang sayang?" tanya Khalif
__ADS_1
Mutia segera mundur dan mempersilakan kedua polisi itu masuk.
Setelah memperlihatkan surat penangkapan yang dibawanya, polisi kemudian memborgol Khalif dan membawanya pergi.
Sementara Mutia hanya tertegun melihat kepergiannya.
Tidak lama Dama menghampiri gadis itu dan menyindirnya dengan ketus, "Kasian sekali, sepertinya hubunganmu dengan putra keluarga konglomerat selalu berakhir tragis. Jangan-jangan kamu ini adalah wanita pembawa sial, soalnya Janaka meninggal saat akan menikah denganmu, sekarang Khalif tiba-tiba di tangkap polisi saat memulai hubungannya denganmu. Uhh...kasian sekali kau pasti kecewa karena gagal mendapatkan putraku," ucap Dama kemudian mengusir Mutia dari vila tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang, Mutia masih terngiang-ngiang ucapan Dama. Memang jika dipikir-pikir ia selalu saja gagal saat hendak memulai hubungan serius dengan putra seorang konglomerat.
Namun ia masih berdalih dan membesarkan hatinya jika hubungannya dengan Khalif belum kandas. Ia dan Khalif hanya terpisah karena keadaan saja dan Mutia yakin hubungannya akan baik-baik saja dan kembali membaik setelah Khalif keluar dari penjara.
"Pokoknya aku harus terus mensuportnya dan mengunjungi agar Khalif tak termakan hasutan ibunya. Aku yakin setelah kejadian ini ia akan berusaha untuk memisahkan kami,"
...************...
"Selama ini tidak ada yang pernah mengungkit keluarga kita selain dia. Aku yakin tujuan gadis itu mendekatimu agar bisa mendapatkan bukti-bukti yang kuat untuk menjeratmu. Dan semuanya terbukti sekarang, bagaimana bisa dia mendapatkan bukti-bukti itu padahal kau bilang sudah menghancurkannya semua!" seru Dama
Khalif mengatakan jika dirinya tidak pernah membicarakan apapun tentang Janaka. Jangankan membicarakan tentang kematiannya ia bahkan tak pernah menyinggung tentang kakak tirinya itu jika bersama dengan Mutia.
"Lalu darimana ia bisa mendapatkan bukti-bukti itu?" cecar Dama
"Aku yakin bukan dia pelakunya Bu, aku tahu dia sangat menyayangi ku dan tak mungkin mengkhianati aku," jawab Khalif
"Jangan terlalu percaya diri, kau belum mengenal dia sepenuhnya. Lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana cara menyangkal tuduhan itu," ucap Dama
"Sepertinya pelapor menggunakan pengacara terbaik negeri ini, aku tidak janji bisa mengalahkannya karena aku sendiri tak pernah menang melawannya," ucap Hilman membuat Dama dan Khalif ketakutan
__ADS_1
"Haduh bagaimana ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Hawi Corporation dan Wiraatmadja Group jika Khalif sampai divonis bersalah dan benar-benar dipenjara?" ucap Dama tampak tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya
"Hanya ada satu pengacara yang selalu berhasil mengalahkannya," ucap Hilman membuat Dama seperti mendapatkan sebuah angin segar
"Katakan siapa dia, aku pastikan akan menggunakan jasanya bahkan aku akan membayarnya berapapun jumlahnya asal ia mau membebaskan putraku," jawab Dama
"Dia adalah Dado Aryakunto ayah dari Nina Aryakunto yang dijodohkan oleh Tuan Handoko untuk Mas Khalif,"
Seketika Dama tampak berbinar-binar, ia merasa kali ini dirinya akan bisa menyingkirkan Mutia dari hati Khalif dengan mudah.
Tentu saja ia akan menggunakan peluang kali ini untuk membuat Khalif mau mendekati Nina dan menikah dengannya.
"Kalau begitu aku harus menemuinya sekarang juga," ucap Fama begitu antusias
Namun Hilman mencegahnya. Ia mengatakan jika Dado bukanlah tipe orang yang mudah membela seseorang dalam persidangan. Ia mengatakan jika selama ini Dado sudah memutuskan untuk pensiun sebagai pengacara.
"Kalau begitu tidak ada cara lain selain mendekati Nina," tandas Dama
Wanita itu kemudian mengatakan kepada Khalif untuk kembali memulai hubungannya dengan Nina jika ia tak mau dipenjara. Namun Khalif menolaknya. Ia tak mau berhubungan lagi dengan Nina apalagi setelah ia sendiri yang sudah memutuskan hubungannya dengan Nina.
"Aku tak mau menjilat ludah ku sendiri Mah, lagipula aku sudah punya kekasih jadi aku tak mau mendekati wanita lain," jawab Khalif seketika membuat Dama meradang dan menampar wajah putranya tersebut.
Sementara itu Mutia yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka tampak terharu dengan keteguhan hati Khalif yang tetap setia padanya dan tak bergeming meskipun ibunya mengancam tidak akan membantunya.
Setelah Dama dan pengacaranya pergi, Mutia pun bergegas menemui Khalif.
"Meskipun berat untuk melepaskan dirimu bersama wanita lain namun demi kebebasan mu aku tidak apa-apa. Sepertinya yang dikatakan ibumu benar Al, kau harus mendekati Nina dan berusaha mengambil hatinya agar Om Dado mau menjadi pengacaramu. Sebagai sahabat Nina aku tahu benar bagaimana sifat Om Dado, ia tak akan pernah menjadi pengacara lagi setelah memutuskan pensiun dini kecuali untuk membantu keluarganya. Dan aku juga tahu benar jika pengacara yang sekarang menuntut mu adalah pengacara hebat yang sulit sekali dikalahkan. Jika Pengacara sekelas Pak Hilman aja tak bisa mengalahkannya maka aku takut kau akan membusuk lama dipenjara. Lalu bagaimana nasib hubungan kita jika kita terpisah dalam waktu yang lama. Cukup sekali aku ditinggalkan orang yang aku sayangi dan aku tak mau ditinggalkan untuk kedua kalinya," ucap Mutia memeluk erat Khalif
__ADS_1