My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 22


__ADS_3

Nina tampak terperanjat mendengar lamaran Khalif yang begitu dadakan itu.


Ia hanya terdiam dan tak bisa menjawabnya apalagi saat melihat begitu banyak mata yang menatap kearahnya.


Ya Allah apa yang harus aku lakukan, sebenarnya aku sangat senang mendengar lamaran itu dari mulutnya, tapi entah kenapa aku tidak yakin jika ia benar-benar menyukaiku. Namun aku juga tak tega jika harus menolaknya, aku tak mungkin mempermalukannya di depan orang banyak.


Melihat Nina yang termangu membuat Khalif mengira jika gadis itu menerima lamarannya.


Ia kemudian menyematkan cincin berlian di jari manisnya membuat Semua orang langsung bertepuk tangan.


Nina terhenyak saat menyadari Khalif telah menyematkan cincin di jari manisnya.


"Terimakasih sudah menerima lamaran ku, aku berjanji akan membuatmu hidup bahagia selamanya," ucap Khalif kemudian memeluknya erat


*Ceklik!


Seseorang tampak mengambil gambar mereka diam-diam kemudian pergi.


"Semuanya berjalan sesuai rencana," ucap pria itu kemudian mengirimkan hasil jepretannya kepada lawan bicaranya.


"Kalau begitu cabut laporan kemarin dan segera tutup kasusnya," jawab seseorang diujung telepon


"Baik,"


...*************...


Setelah melamar Nina secara pribadi, Khalif mengajak gadis itu menemui ibu dan neneknya.


Ia kemudian memberitahukan kepada keduanya tentang niatnya untuk menikahi Nina. Tentu saja hal itu membuat Mariyah dan Dama begitu bahagia hingga tak henti-hentinya bersyukur atas keputusan Khalif.


Melihat kesungguhan Khalif yang berencana akan melamarnya secara resmi bersama keluarga besarnya membuat hati Nina pun luluh.


Kini ia yakin jika Khalif benar-benar serius dengan hubungannya. Tak ada lagi keraguan dalam diri gadis itu hingga begitu mantap dan yakin saat memberitahu ayahnya tentang rencana kedatangan keluarga besar Wiraatmadja yang akan datang melamarnya.


Hari yang di tunggu pun tiba, Khalif dan keluarga besarnya datang melamar Nina.


Mereka membawakan berbagai macam seserahan barang-barang mewah dan juga uang untuk keperluan resepsi.


Nina begitu bahagia hari itu hingga tak berhenti menangis saat menerima seserahan dari keluarga Khalif.


Di hari itu juga dua keluarga membicarakan hari pernikahan keduanya.


Kedua keluarga sepakat untuk melangsungkan pernikahan sebulan setelah acara lamaran.


Karena Nina akan menjadi Istri Khalif maka ia melarangnya untuk bekerja di Hawi Corporation.

__ADS_1


Nina pun tak masalah, justru ia senang karena bisa menghabiskan waktunya untuk menjadi ibu rumah tangga.


Malam itu Khalif sengaja mengadakan pesta bujang bersama teman-temannya. Namun tidak ada yang tahu jika ia mengajak Mutia di pesta itu. Keduanya bahkan menghabiskan malam bersama di sebuah hotel bintang lima.


Pagi itu semua orang tampak sibuk mencari keberadaan Khalif yang belum juga kembali. Dama pun menghubungi teman-teman Khalif untuk memastikan keberadaan putranya tersebut.


Sementara itu Broto juga menggerakkan anak buahnya untuk mencarinya di semua hotel, rumah sakit, hingga club malam.


*Hotel Zeus


Mutia terkejut saat melihat beberapa orang memasuki kamarnya. Ia buru-buru masuk kedalam kamar mandi lagi saat melihat Broto datang menjemput Khalif.


"Bawa dia!" seru Broto kemudian membereskan semua barang-barang milik Khalif dan meminta anak buahnya untuk membawanya.


Sebelum pergi ia menoleh kearah kamar mandi yang terlihat terbuka. Buru-buru Mutia menutup pintu kamar mandi dan bersembunyi di belakang pintu.


"Semoga saja dia tidak melihat ku," ucapnya kemudian menelan salivanya


Broto melihat sebuah tas tergeletak di sofa. Ia memperhatikan tas itu secara detail dan tersenyum sinis saat menoleh ke kamar mandi.


Mutia segera keluar dari kamar mandi setelah Broto pergi meninggalkan ruangan itu.


"Ah sial sekali, bagaimana aku bisa kesiangan. Beruntung aku buru-buru mandi, kalau tidak pak Broto mungkin sudah menangkap basah diriku dan semuanya akan kacau jika ia sampai tahu kalau aku berhubungan dengan Khalif," ucap Mutia


Setibanya di sana Ia segera memakai pakaian seragam yang sudah dipersiapkan dan berbaris untuk menyambut kedatangan para tamu.


Sementara itu penghulu dan pengantin wanita sudah menunggu kedatangan Khalif.


Mutia tersenyum bahagia saat melihat wajah cemas Dama menunggu kedatangan putranya.


"Ini baru awal tapi kau sudah terlihat hampir mati karena putramu datang terlambat di hari pernikahannya, tunggu saja kejutan berikutnya dariku. Aku akan menjadikan pernikahan ini sebagai Neraka yang akan membawamu menemui almarhum suamimu," tukas Mutia


"Para tamu undangan diharap berdiri menyambut kedatangan mempelai pria," ucap seorang MC membuat Dama bernafas lega.


"Syukurlah akhirnya kau datang juga, jika tidak aku bisa mati karena malu," ucap Dama segera menyambut kedatangan putranya itu.


"Darimana saja kau sampai kau lupa jika hari ini adalah hari pernikahan mu," bisik Dama dengan tatapan mata bengisnya


"Maaf Ibu, sepertinya semalam aku terlalu banyak minum hingga bangun kesiangan," jawab Khalif


"Sudahlah lupakan saja, aku harap kau tak mempermalukan ibumu di hari spesial ini," ucap Dama kemudian mengantar Khalif duduk di kursinya.


Tiba-tiba suasana tempat itu menjadi hening dan sepi hanya terdengar suara Khalif yang sedang mengucapkan akad pernikahan.


"Bagaimana saksi!"

__ADS_1


"Sah!" seru para saksi


"Alhamdulillah," ucap sang penghulu kemudian mendoakan kedua mempelai agar hidup bahagia selamanya.


Acara pernikahan berlangsung sangat meriah. Semua tamu tampak menikmati jamuan yang disiapkan oleh tuan rumah.


Sementara itu, seorang pria tampan tampak memasuki ruangan itu dan mengisi buku tamu.


"Terima atas kedatangannya, selamat menikmati pestanya," ucap Mutia kemudian memberikan souvenir kepada pria itu.


Lelaki itu tampak berkaca-kaca saat melihat Mutia menjadi pagar ayu di pesta pernikahan itu.


"Apa ada yang bisa dibantu lagi?" tanya Mutia saat pria itu tetap berdiri di depannya meski ia sudah memberikan souvenir padanya.


"Ah tidak, terimakasih," jawab Janaka kemudian pergi


Ia menatap sejenak wajahnya di depan jendela kaca. Ia melihat dirinya seperti melihat orang asing.


"Pantas saja Mutia tak mengenaliku, bahkan aku sendiri masih tak percaya dengan wajah baruku," ucapnya dalam hati


Ia kemudian menuju ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai.


Namun saat ia akan naik dua orang lelaki gemulai menghampiri Nina dan membawanya pergi meninggalkan pelaminan.


Rupanya Nina ingin pergi ke toilet.


Namun saat hendak masuk ke toilet Nina terpeleset hingga ia tak sadarkan diri. Dua orang yang mengantarnya mulai curiga karena Nina tak kunjung keluar padahal sudah hampir setengah jam di toilet.


Keduanya kemudian menuju


toilet dan mereka menjerit histeris saat melihat Nina tergolek di lantai.


Salah seorang dari mereka langsung bergegas pergi untuk mencari bantuan, namun sayangnya tak ada seorangpun yang ada di sepanjang ruangan itu.


Beruntung ia bertemu dengan Janaka yang hendak ke menuju ke kamarnya.


"Tolong bantu aku!" seru lelaki itu menarik lengan Janaka menuju ke kamar Nina.


Saat Janaka akan melangkahkan kakinya seorang pria menghentikannya.


"Tunggu dulu, lantainya sangat licin!" seru pria itu segera melemparkan handuk sebagai pijakan Janaka.


Pria itu memegangi pant*tnya yang masih sakit karena terjatuh saat berusaha memindahkan Nina.


Janaka segera menggendong Nina dan membawanya keluar dari ruangan itu menggunakan tangga karena lift tiba-tiba mati.

__ADS_1


__ADS_2