
*Rumah sakit Harapan Sehat
Nina seketika membuka matanya saat mendengar alarm ponselnya berdering.
Ia segera meraba-raba dimana keberadaan ponselnya.
Ia memicingkan tangannya saat tak percaya melihat angka yang tertera pada layar ponselnya.
"Pukul sepuluh pagi, benarkah sekarang sudah jam 10!"
Nina buru-buru melompat dari tempat duduknya dan segera menuju ke kamar mandi.
Selesai mandi ia tampak tercengang saat melihat Khalif tidak ada di tempat tidurnya.
"Dimana dia, kenapa ia tak ada di sini?" Nina segera menyambar ponselnya diatas meja
Jari-jarinya tangannya dengan cepat menekan satu persatu huruf yang ada si keyboard ponselnya.
"Dimana kamu??" ucap Nina dengan emot khawatir
*Ting!
Khalif segera membuka ponselnya saat melihat notifikasi pesan singkat masuk.
"Aku sudah di tempat kerja," jawabnya dengan menggunakan voice note
Mendengar khalif sudah berada di tempat kerjanya Nina pun buru-buru bersiap-siap untuk menyusulnya.
"Bagaimana dia bisa pergi bekerja, sedangkan kondisinya masih lemah. Kamu cari gara-gara saja?" celotehnya sambil membereskan barang-barangnya
Setelah membawa obat yang harus diminum Khalif Nina pun pergi ke Gedung Hawi Corporation dengan menggunakan taksi online.
Setibanya di tempat kerja, Ia segera berlari menuju ke ruang kerja Khalif.
Wanita itu Buru-buru masuk ke ruangan Khalif tanpa mengetuk pintu sambil memarahi suaminya itu.
"Kenapa pergi tidak bilang-bilang, harusnya Kau memberitahuku lebih dulu atau membangunkan aku agar aku bisa membawakan obat-obatan yang harus kau minun pagi ini," gerutunya
Panji tersenyum tipis saat mendengar omelan Nina yang mengiranya sebagai Khalif. Karena tak mau membuat Nina terus mengiranya sebagai Khalif, ia segera membalikkan badannya sambil tersenyum, mengetahui Panji yang ada di depannya membuat muka Nina seketika memerah. Wanita itu tampak malu karena ia sudah salah masuk ruangan sampai memarahinya.
"Maafkan aku, Aku kira kamu Khalif," ucap Nina
"Tidak apa-apa, kau pasti belum tahu ruangan kerja Khalif sehingga masih mengiranya di sini," jawab Panji.
Nina mengangguk pelan.
__ADS_1
"kalau begitu mari aku tunjukkan di mana ruangan Khalif," tukas Panji
Ia kemudian mengajak Nina menuju ke ruang kerja suaminya.
Di waktu yang bersamaan Mutia terlihat mengetuk pintu ruangan itu sambil membawakan sesuatu.
Mutia begitu terkejut saat melihat Panji keluar dari ruangannya bersama dengan Nina.
"Nina??" ucapnya dengan tatapan penuh kecemburuan
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Panji
Seketika Mutia langsung menyembunyikan sesuatu yang di bawanya. Ia tak mau Panji ataupun Nina melihat apa yang dibawanya.
"Ah tidak apa-apa, tadi aku hanya ingin bertanya tentang laporan kemarin. Tapi sepertinya kamu sedang sibuk jadi lain kali saja," tegas Mutia kemudian buru-buru meninggalkan tempat itu.
Nina tampak memperhatikan gerak-gerik Mutia yang sedikit mencurigakan. Benar saja ia melihat sebuah box hadiah yang coba di sembunyikan gadis itu.
Sebagai sahabatnya Nina paham jika wanita itu sedang jelous hingga buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.
"Sebaiknya kau katakan saja di mana ruangan kerja Khalif. Biar aku ke sana sendiri saja. Sepertinya Mutia tidak suka melihat kita berdua, sampai dia enggan memberikan hadiah yang dibawanya didepan ku," ucap Nina
"Hadiah, Bagaimana kau bisa tahu dia membawa hadiah?" tanya Panji mengerutkan keningnya mendengar pengakuan Nina
"Ini hanya firasat seorang wanita, lagipula aku tidak sengaja melihat kado kecil yang disembunyikan tadi," bisik Nina membuat Panji tertawa kecil mendengarnya.
"Tentu saja, sebagai ras terkuat di dunia, , Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh seorang wanita?" timpal Nina menyunggingkan senyumnya
"Benar juga," jawab Panji mengacungkan jempol kearahnya
Panji memberitahukan jika Khalif berada di ruang komisaris independen.
"Komisaris independen, Apa itu berarti Khalif dan aku bekerja dalam satu ruangan?" ucap Nina seraya membulatkan matanya.
"Tentu saja tidak, kalian memiliki ruang kerja yang berbeda. Ruangan Khalif berada tepat di depan ruang kerjamu," jawab Panji
"Oh begitu, baiklah kalau begitu aku akan segera kesana untuk memberikan obat-obatan yang harus ia minum pagi ini," ucap Nina kemudian pamitan pergi
"Silakan,"
"Khalif beruntung memiliki istri yang pengertian," tukas Panji
*Tok, tok, tok!
"masuk saja tidak dikunci!" selalu Khalif dengan suara Basnya
__ADS_1
Nina segera menarik engsel pintu itu dan perlahan masuk ke ruangan tersebut.
Khalif seketika menarik nafas dalam-dalam melihat kedatangan istrinya. Ia seperti tak suka melihat Nina yang begitu perhatian dengannya.
"Sepertinya kau sedang berusaha keras untuk meluluhkan hatiku sampai tak tidur semalaman menjagaku. Dan sekarang kau berlari tergopoh-gopoh menyusul ku di sini. Apa kau begitu takut kehilangan diriku. Asal kau tahu sampai kapanpun aku tidak akan pernah tertarik denganmu apalagi menyukaimu, jangan mimpi!" cibir Khalif
"Terserah apa katamu, yang jelas apa yang ku lakukan selama ini adalah murni karena alasan kemanusiaan atau lebih tepatnya karena rasa kasian. Jadi jangan berpikir macam-macam. Kalau kau tidak ingin melihat ku di sisimu lagi, maka minumlah obat-obatan ini secara teratur agar kau tak merepotkan aku lagi!" jawab Mutia dengan ketus
Ia bahkan langsung pergi setelah meletakkan obat-obatan Khalif di atas mejanya.
"Sial, bagaimana bisa aku begitu baik terhadap iblis seperti dia. Kau pikir aku melakukan semuanya karena mencintaimu, ah, jangan ge er!" gerutu Nina sepanjang jalan hingga membuat semua orang langsung menoleh kearahnya.
"Dulu mungkin cintaku padamu seperti emas 24 karat, tapi setelah mengetahui sifat busuk mu, sekarang yang hanya tersisa karatnya saja di dalam hatiku. Sakit!" seru Nina sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Nina kamu mau kemana?" tanya Panji yang melihat tiba-tiba gadis itu kembali ke ruangnya dan duduk di kursi kerjanya.
"Apa kau salah ruangan lagi?" tanya Panji lirih
"Sepertinya begitu?" jawab Nina dengan nada lesu
"Tetaplah di sini dan jangan kemana-mana!" seru Panji kemudian meninggalkannya
Tidak lama Panji kembali dengan membawakan segelas kopi hangat dengan roti lapis.
"Sepertinya secangkir kopi hangat akan membuat mu tak oleng lagi," ucap Panji
"Kau benar, tapi sepertinya aku lapar, makanya bawaannya marah-marah mulu," ucap Nina dengan nada lesu
"Kalau begitu makanlah roti lapisnya dulu, abis itu baru kopinya," jawab Panji
Nina segera melirik kearah makanan yang ada di depannya. Ia kemudian mengambil roti lapis itu dan memasukannya kedalam mulutnya.
Sementara Nina sedang menikmati sarapannya, Panji kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Apa kau punya tisu?" tanya Nina
Panji segera mengambil tisu yang tergeletak di depannya dan memberikannya kepada Nina.
"Silakan,"
"Thanks," ucap Nina kemudian menyeka bibirnya.
"Sepertinya aku baik-baik saja sekarang, ternyata aku hanya butuh sedikit asupan agar bisa merasa tenang. Ternyata benar jika untuk sedih pun butuh tenaga maka jangan lupa makan," ujar Nina membuat Panji tertawa
"Betul sekali Nin,"
__ADS_1
"Kalau begitu aku kembali ke ruang ku, thanks untuk sarapan paginya,"
"Sama-sama," jawab Panji