My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 47


__ADS_3

Wajah Khalif berubah pucat saat mendengar Dama mengetahui perbuatannya.


Ia segera bersimpuh dibawah kaki wanita itu dan meminta maaf padanya.


Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi tangis penyesalan Khalif dan juga Dama yang begitu terpukul mendengar pengakuan putranya.


Ia tak mengira jika Al akan tega menghabisi sang nenek hanya karena wanita itu mencopot jabatannya.


Dama terduduk lemas di hadapan Khalif dan menarik kerah baju putranya itu.


"Bagaimana kau tega membunuh nenekmu sendiri, apa kau tahu akibatnya jika semua orang tahu perbuatan mu ini hah!" seru Dama mengguncang tubuh Khalif


"Entahlah, aku tidak mengerti apa yang aku lakukan hari itu, aku tidak sengaja melakukannya dan aku juga tak menyangka jika dia akan mati,"


Khalif berusa mengingat kejadian malam itu.


"Apa kau bodoh, tentu saja siapapun orangnya pasti akan mati jika ditusuk jantungnya, apa kau sudah gila!" timpal Dama


"Ditusuk jantungnya??"


Khalif tampak mengerutkan keningnya seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Ibu bilang nenek di tusuk di bagian jantungnya?" ujar Khalif memastikan ucapan ibunya


"Benar, dia tewas setelah di tikam di area dada yang tepat mengenai jantungnya," jawab Dama


"Tidak mungkin, aku tidak menusuknya di area dada. Waktu itu karena kesal aku hanya melempar pisau kearahnya dan sialnya, aku tak melihat lagi apa lemparan ku melesat atau tidak. Karena setelah itu aku langsung pergi," jawab Khalif


"Dasar bodoh, bagaimana kau bisa seceroboh itu!" maki Dama


"Lalu jika kau bukan pelakunya, siapa yang membunuh nenek??" tanya Dama


"Kalau begitu aku harus memastikan apa pisau yang menancap di tubuh nenek milikku atau bukan??"


Khalif segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan ruangan kerjanya.


Ia bersama Dama menuju ke rumah duka.


Setibanya di sana Khalif langsung berlari menghampiri jenazah Mariyah yang terbaring di ruang tengah.


Matanya bergerak kesana-kemari seolah mencari sesuatu.


"Apa yang kau cari Al," ujar seorang pria menepuk bahunya


Khalif segera menoleh kebelakang, sosok Broto tampak berdiri di belakangnya dengan tatapan tak bersahabat.


"Aku hanya mencari seseorang?" jawab Khalif mencoba menghilangkan rasa takutnya

__ADS_1


Dari semua orang yang ada di Hawi Corporation, Khalif memang paling takut dengan sosok Broto. Selain wajahnya yang terlihat seram, Broto juga sangat tegas dan tidak pandang bulu dalam memberikan hukuman. Ia bahkan lebih sadis dari almarhum ayahnya itulah kenapa Khalif begitu segan dengannya.


"Dimana istriku?" tanya Khalif berusaha mengalihkan perhatian Broto yang terus menatap nyalang kearahnya


"Dia sedang ada di ruang interogasi?" jawab Broto


"Ruang interogasi??, apa polisi ada di sini?" tanya Khalif dengan wajah gusar


"Benar, karena keluarga dalam masa berkabung polisi akhirnya berinisiatif untuk membentuk tim investigasi dan mereka sengaja melakukan interogasi kepada para saksi di rumah ini," jawab Broto


Seketika Khalif merasa merasakan dadanya berdegup kencang. Meskipun ia sudah berusaha bersikap seperti biasa.


Tidak lama Nina keluar dari kamar tamu. Ia kemudian menghampiri Khalif yang tampak tegang melihat kedatangannya.


"Bagaimana pekerjaan mu di kantor apa semuanya lancar?" sapa Nina


"Hmm," jawab Khalif mengangguk


Tidak lama seorang polisi menghampiri mereka.


"Bapak Khalif, silakan ikut saya ke ruang interogasi," ucap sang polisi kemudian mengiringnya masuk ke ruangan interogasi


Dama terlihat gugup saat putranya memasuki ruangan interogasi. Ia kemudian menghampiri Nina.


"Apa saja yang ditanyakan para penyidik" tanya Dama


"Apa polisi sudah mengetahui siapa pemilik pisau itu?" tanya Dama


"Entahlah, aku kurang tahu Bu," jawab Nina


Cukup lama Khalif berada di ruang interogasi hingga membuat Dama cemas.


Pukul delapan malam Khalif keluar dengan wajah pucat.


Dama segera menghampirinya, "Kenapa lama sekali, apa polisi itu mencurigai mu?" tanya Dama membuat Khalif seketika melotot kearahnya


"Maaf bukan maksud ibu untuk mencurigai mu, tapi aku hanya khawatir?" Dama merasa bersalah hingga berusaha mengoreksi kata-katanya


"Pisau itu milikku," ucap Khalif dengan wajah gusar


Ia terlihat begitu pasrah dengan tatapan mata yang masih tak percaya.


Ia kemudian berjalan gontai menuju kamar Mariyah yang sudah dipasangi police line.


Ia kemudian membungkukkan badannya dan berjalan masuk ke ruangan itu. Ia kemudian berdiri tepat di tempat ia dulu melemparkan pisau kearah Mariyah.


Khalif seolah ingin memastikan apa lemparan pisaunya mengenai sang nenek atau tidak.

__ADS_1


Ia mengambil pena yang ada di saku bajunya, kemudian melemparkannya.


Ia segera bergegas untuk mengambil pena yang jatuh di lantai.


Saat ia membungkukkan badannya, ia tak sengaja melihat bekas sesuatu yang menancap di dinding kamar itu.


Khalif yang penasaran segera mendekati dinding itu.


"Maaf Bapak, dilarang masuk tkp tanpa ijin. Anda bisa merusak atau menghilangkan barang bukti!" seru seorang polisi membuat Khalif langsung keluar dari tempat itu.


...🍁🍁🍁...


Mutia tampak menghadiri upacara pemakaman Mariyah. Gadis itu terlihat tak canggung untuk menggandeng lengan Khalif, Meski banyak wartawan yang mengambil gambar mereka.


Dado yang juga menghadiri upacara pemakaman sang besan tampak tertegun melihat menantunya lebih mesra dengan sekretarisnya daripada istrinya yang dibiarkan berdiri sendirian.


Dado kemudian menghampiri Nina dan menggandeng lengannya.


"Ayah?" ucap Nina tersenyum simpul menatap sang ayah


"Kenapa kau tak memberitahu ayah tentang suamimu?" tanya Dado


"Maaf ayah, tapi aku tak mau membuat mu terluka," jawab Nina lirih


"Aku tak habis pikir dengan Mutia, bagaimana bisa dia melakukan semua itu padamu," tandas Dado menoleh kearah Mutia


"Entahlah aku juga tidak tahu. Tapi sebaiknya kita bahas masalah ini setelah acara pemakaman selesai," jawab Nina mengusap-usap lengan sang ayah


Siang itu polisi merilis sidik jari yang menempel pada barang bukti, di kediaman keluarga Wiraatmadja.


Semua orang tampak tegang saat mendengar pengumuman itu.


Khalif bahkan berkali-kali mengusap keringatnya yang bercucuran membasahi wajahnya.


"Jangan panik, tetap tenang dan yakinlah jika kau bukan pelakunya," ucap Dama berusaha menenangkan putranya itu.


"Berdasarkan data dari badan forensik, sidik jari yang ada di pisau yang menempel di tubuh korban sangat identik dengan sidik jari salah satu anggota keluarga ini,"


Khalif langsung menggenggam erat jemari Dama untuk menghilangkan paniknya.


Dama langsung mengusap punggung Khalif, "Tenanglah, ibu sudah membereskan semuanya," bisik Dama


Seorang polwan kemudian segera maju dan memborgol lengan Nina.


Sementara itu Nina tampak terkejut saat polisi memberitahunya jika sidik jari yang ada di pisau itu adalah miliknya.


"Tidak mungkin, aku sama sekali tak menyentuh pisau itu. Aku yakin ada seseorang yang sengaja menjebakku!" seru Nina berusaha melepaskan diri

__ADS_1


Ia menatap lekat kearah Dama dan Khalif yang sama sekali tak membelanya saat polisi membawanya pergi dari rumah mereka.


__ADS_2