My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 54


__ADS_3

"Terbiasa!!" Mutia tampak mengerutkan dahinya . Gadis itu tak percaya mendengar Panji sudah biasa mengerjakan pekerjaan itu


"Tentu saja, apa kau tidak membaca CV milikku?" jawab Panji balik bertanya


"Ah hampir saja aku lupa kalau kau sebelumnya sudah bekerja sebagai seorang sekretaris di beberapa perusahaan ternama," jawab Mutia


"Karena sudah selesai, aku pamit dulu ya," ujar Panji kemudian kembali ke ruangannya


Mutia tampak tak berkedip menatap kepergian Panji hingga Lelaki itu tak terlihat lagi.


"Selain tampan kau juga begitu baik hati, andai saja kau lebih kaya dari Khalif aku pasti rela meninggalkannya demi dirimu," ujar Mutia


...🍀🍀🍀🍀...


Semalaman Nina terjaga menemani Khalif yang baru saja selesai melakukan kemoterapi.


Ia harus selalu terjaga untuk selalu ada saat dia membutuhkan sesuatu darinya.


"Panas, panas sekali!" seru Khalif merasa gelisah


Nina sudah menaikan suhu AC nya agar terasa dingin tapi Khalif terus merasa kepanasan hingga ia harus mengipasi nya menggunakan kertas karton.


Saat ia berhenti mengipasi nya, maka Khalif akan terbangun dan kembali merengek kepanasan hingga ia terus mengipasi nya bahkan sambil menahan kantuk yang mulai menyerangnya.


"Panas, panas!"


Kembali Nina terjaga dan menggerakkan karton di tangannya agar Khalif tak merasa kepanasan.


Saat pagi menjelang, Nina pun baru bisa memejamkan matanya sambil tangannya menggerakkan karton yang di pegangnya.


Suara kicauan burung membuat Khalif terbangun, ia perlahan membuka matanya dan tertegun melihat Nina tidur di kursi sambil memegangi karton di tangannya.


"Kasian sekali, kau pasti sangat ngantuk karena terjaga semalaman," Khalif kemudian mengambil selimutnya untuk menyelimuti tubuh Nina.


Ia kemudian bergegas meninggalkan ruangannya.


Khalif mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Tidak lama sebuah mobil sport berhenti di depannya dan melesat membawanya pergi dari rumah sakit.


Khalif meminta sang sopir untuk menghentikan mobilnya agak jauh dari Gedung Hawi Corporation.

__ADS_1


Ia berjalan pelan-pelan menuju ke tempat kerjanya. Ia sengaja memilih jalan kaki agar bisa menikmati udara segar pagi itu.


Semua orang tampak menunduk dan memberikan hormat kepadanya meskipun ia tak lagi menjadi CEO.


Ia kemudian menemui Broto di ruangannya.


"Apa kau sudah pulih?" tanya Broto dingin


"Sepertinya kau tak senang jika aku kembali lagi," jawab Khalif menatap lelaki itu dengan tatapan tajamnya


"Ok, kalau kau mau mulai bekerja hari ini silakan, sekarang posisimu adalah sebagai seorang komisaris perusahaan jadi silakan menuju ke ruangan mu," tukas Broto


"Aku bukan tipe orang yang suka mengalah atau menerima kekalahan begitu saja. Sebagai seorang atlet tentu saja aku sudah terbiasa untuk berkompetisi, jadi agar aku bisa semangat bekerja di sini aku juga ingin menantang mu untuk berkompetisi," jawab Khalif


"Ok siapa takut, katakan saja apa yang kamu mau?" jawab Broto dengan dingin


"Aku tahu jika selama ini kalian meremehkan aku karena dianggap tidak kompeten dalam menjalankan perusahaan dan mungkin itulah yang menjadi alasan ayah kenapa memilih menyerahkan perusahaan ini kepada Janaka dulu, atau sekarang kepadamu,"


"Lalu?" ucap Broto seakan bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh Khalif


"Aku tahu sekarang perusahaan sedang collapse karena rumor tak sedap yang aku buat beberapa hari lalu. Dan sekarang aku menantang mu untuk mendatangkan para investor ke perusahaan kita. Siapa yang lebih banyak mendatangkan investor maka ia akan menjadi pemenangnya. Dan siapapun pemenangnya berhak memutuskan apapun dan yang kalah harus menerima keputusan sang pemenang," terang Khalif


"Jangan bilang kau ingin mengambil kembali perusahaan ini dariku," tukas Broto


"Kalau aku bisa kenapa tidak, toh selama aku tidak melakukan kecurangan semuanya fair," sahut Khalif


"Baiklah kalau itu maumu, aku terima tantangan darimu," ucap Broto kemudian menjabat tangan Khalif


"Deal!" seru keduanya


Khalif merasa puas karena keinginannya dipenuhi oleh Broto. Ia kemudian merapikan rambutnya untuk menemui Mutia.


Khalif berjalan sambil bersenandung menuju ke ruang kerjanya.


"Aku yakin Mutia akan senang jika mendengar kabar bagus ini,"


Tiba-tiba Khalif menghentikan langkahnya saat melihat Mutia tengah menikmati sarapan pagi dengan Panji.


Ia yang tampak mengeratkan giginya dan berjalan menghampiri keduanya.


Khalif segera menarik Panji dan menghajarnya hingga darah segar keluar dari bibirnya.

__ADS_1


"Khalif apa-apaan sih, sudah berhenti!" seru Mutia berusaha memisahkan keduanya


Namun Khalif yang tak puas Meski sudah menghajar Panji, ia masih saja terus memukulinya hingga menjadi tontonan bagi semua karyawan.


Ia bahkan mendorong Mutia yang berusaha memisahkannya hingga wanita itu terhempas ke lantai.


"Aku pikir kau wanita yang setia, ternyata kau berusaha mendekati dia saat kekasih mu sekarat di rumah sakit, dasar wanita sialan!" pekik Khalif


"Dan kau!" tuding Khalif menunjuk kearah Panji


"Berani-beraninya kau menggoda kekasih atasan mu, kau pikir siapa dirimu. Jangan karena kau lebih tampan dariku maka kau bisa berbuat semau mu. Asal kau tahu wanita itu dia bukan wanita yang baik, dia berusaha mendekati ku saat gagal menjadi istri almarhum kakakku. Dia tetap menerima cintaku padahal ia tahu kalau aku yang membunuh calon suaminya. Sekarang saat aku diturunkan dari jabatan ku, dia berusaha meninggalkan aku dan mendekati mu. Padahal dia dulu sangat membencimu karena aku lebih suka bekerja dengan mu daripada dengannya. Sekarang terserah kau saja kalau kau menyukai dia silakan ambil saja, karena nasibmu tidak akan jauh berbeda denganku. Kau akan ditinggalkan olehnya begitu kau terjatuh seperti diriku," tutur Khalif menepuk pundak Panji


Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan tempat itu, tanpa menghiraukan ucapan para karyawan yang menggunjingkannya.


Panji segera membantu Mutia bangun.


"Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi babak belur begini," tukas Mutia tampak bersedih melihat kondisi Panji


"Aku tidak apa-apa jadi santai saja. Nanti aku akan meluruskan kesalahpahaman ini agar kalian bisa balikan lagi," tukas Panji kemudian bergegas menyusul Khalif


*Tok, tok, tok!


"Masuk!" seru Khalif dengan suara keras


Panji segera masuk. Khalif segera berdiri saat melihat Panji memasuki ruangan kerjanya, "mau apa lagi kamu datang kesini!" serunya dengan tatapan tidak suka


"Sorry, kalau kedatangan aku membuat mu kesal. Tapi sepertinya kau salah paham dan ada yang harus aku luruskan agar hubungan mu dengan Mutia tidak retak karena aku!" jawab Panji


"Cih, kau berlagak bak seorang pahlawan sekarang, apa kau begitu menyukai Mutia sampai berbuat seperti padaku?" tanya Khalif dengan seringai merendahkannya


"Terserah kau mau berkata apa tentang ku. Yang jelas aku dan Mutia tidak ada hubungan apa-apa, soal tadi kebetulan Mutia memintaku untuk sarapan bersamanya itu saja karena ia ingin berterima kasih setelah aku membantunya membuat laporan tempo hari. Dan sekali lagi aku tegaskan jika tidak ada hubungan yang spesial antara kami berdua. Kami hanya rekan kerja biasa itu saja," terang Panji


Seketika Khalif langsung bertepuk tangan mendengar penjelasan dari pemuda itu.


"Wah luar biasa, sepertinya kau ingin memberitahu ku kalau kau tidak mendekati Mutia tapi sebaliknya, ck, ck, ck!" Khalif mendekati Panji kemudian membisikkan sesuatu kepadanya.


"Aku tidak peduli, kalau kau suka ambil saja," bisiknya


"Maaf tapi aku bukan tipe pria yang suka memungut sesuatu yang sudah ku buang!" sahut Panji kemudian bergegas pergi


"Memungut sesuatu yang sudah dia buang, apa maksudnya??" Khalif tampak mengerutkan keningnya mencoba mencerna ucapan Panji

__ADS_1


__ADS_2