My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 84


__ADS_3

Naira tampak kecewa mendengar ucapan Khalif, ia segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan tatapan kesal. Ia bahkan membanting pintu ruangan itu membuat Khalif tersentak kaget dan langsung menggerutu.


"Dasar wanita sudah tahu salah masih saja gak terima, untung gue gak laporin lo ke polisi karena sudah membohongi ku selama ini bahkan memanfaatkan aku untuk menyakiti Nina, ah sial... Bagaimana bisa aku sebodoh ini!" gerutu Khalif


Saat tiba di lobby dua orang polisi sudah menunggunya. Mereka langsung memberikan surat penahanan terhadap Naira dan menggelandangnya ke kantor polisi tanpa perlawanan.


Sementara itu mengetahui Naira adalah orang yang sudah menjebaknya, Mutia pun mengunjungi gadis itu untuk membalas sakit hatinya.


Saat bertemu dengan Naira, Mutia langsung menjambak rambut wanita itu hingga membuat Naira mengerang kesakitan.


Seorang polwan bahkan menghampiri mereka saat mendengar suara keributan. Namun dengan cerdik Mutia langsung mengalihkan perhatian sang polwan dengan mengatakan jika ia sedang berlatih akting.


"Maaf ya Bu Polwan kalau sudah ngagetin anda," ujar Mutia kemudian mempersilakan sang polwan meninggalkan mereka


Ia kembali menatap tajam kearah Naira selepas kepergian sang polwan.


"Kau pikir bisa melenggang bebas setelah membuat ku menderita di penjara, kau salah Naira. Aku bukan Nina yang hanya diam saat kau menindasnya. Aku adalah Mutia yang akan melakukan berbagai cara untuk membalas setiap orang yang berusaha mengusik kehidupan ku," Ujar Mutia


"Lakukan saja apa yang kau bisa, karena kau tidak akan bisa memenjarakan diriku. Lihat saja sebentar lagi pengacara ku akan datang untuk membebaskan aku," jawab Naira dengan sombongnya

__ADS_1


"Masa sih?" ujar Mutia menggodanya


"Kita lihat saja nanti," jawab Naira kemudian beranjak dari duduknya


Melihat Naira berusaha meninggalkannya membuat Mutia kembali murka, ia kemudian menyusul gadis itu dan menendangnya hingga Naira jatuh tersungkur ke lantai.


Mutia buru-buru menghampiri Naira dan pura-pura membantunya bangun. Ia sengaja menancapkan kuku-kukunya yang panjang ke lengan Naira hingga gadis itu menjerit kesakitan.


"Dasar nenek sihir, beraninya kau menyakitiku. Tolong!" seru Naira


Mutia segera membungkam Naira dan merangkulnya agar tak ada yang curiga dengannya.


*********


*Gedung Hawi Corporation


Karena bosan tidak ada kerjaan Khalif kemudian menghampiri Nina di ruangannya. Melihat Nina tampak sibuk mengerjakan projek bersama Panji membuat Khalif berpikir untuk mengganggu mereka. Tentu saja selain cemburu melihat kedekatan mereka berdua, Khalif pun tak suka melihat Nina tersenyum saat bersama Panji.


Kau tidak boleh tersenyum dengan pria lain. Hanya aku yang boleh melihat senyummu jadi jangan salahkan aku jika aku akan berusaha menghilangkan senyuman mu saat bersama panci presto itu.

__ADS_1


"Sayang," ucap Khalif manja


Nina tak menoleh kearahnya karena ia tak tahu jika Khalif tengah memanggilnya.


"Sayang!" seru Khalif kembali memanggil Nina


Karena Nina tak kunjung menoleh kearahnya ia pun kembali memanggilnya dengan suara yang. Lebih tinggi membuat Nina dan Panji langsung menoleh kearahnya.


"Aku??" ucap Nina menunjuk kearahnya


"Ya iyalah masa siapa lagi. Memangnya siapa sih istriku di sini, masa iya si panci presto!" cibir Khalif membuat Nina tertawa kecil mendengarnya


"Maaf aku kira kamu memanggil orang lain. Soalnya kan biasanya kamu tak pernah memanggil aku dengan kata itu," jawab Nina


"Mamang gak boleh kalau aku manggil istriku sendiri dengan sebutan sayang,"


"Boleh sih, hanya saja aku tidak terbiasa, jadi aneh aja rasanya," jawab Nina


"Ya udah mulai sekarang aku akan biasakan manggil kamu sayang, begitupun sebaliknya, kau juga harus memanggilku dengan sebutan sayang juga,"

__ADS_1


__ADS_2