
Suasana di apartemen tempat Khalif tinggal menjadi ramai dipenuhi wartawan.
Mereka sengaja menunggu kemunculan Khalif untuk meminta klarifikasi tentang pemberitaan yang menudingnya sebagai pelaku pembunuhan Saudara tirinya Janaka.
Banyaknya wartawan yang terus berdatangan dan tak mau pergi dari apartemen membuat Khalif stress. Bagaimana tidak, ia harus melakukan uji coba sirkuit untuk pertandingannya yang akan di gelar dua hari lagi.
Berkali-kali ia menghubungi Martin yang merupakan manajer sekaligus sahabatnya agar segera menjemputnya dari apartemen. Namun pria itu tak kunjung datang dengan alasan mencari waktu yang tepat.
"Ah sial, kenapa di saat seperti ini tak ada satupun orang yang mau membantuku. Mereka seolah lari dan menjauh dariku," gerutunya
Tak lama terdengar suara bel rumahnya berbunyi. Ia buru-buru mengecek siapa yang datang.
"Paket!"
Khalif mengernyitkan keningnya saat mendengar suara pengantar paket, karena selama ini ia tidak pernah memesan paket. Namun melihat topi yang dipakainya ia tahu jika itu bukan pengirim paket.
Buru-buru ia membuka pintu rumahnya dan menariknya masuk.
Wanita itu segera membuka topinya dan menampar wajah Khalif.
*Plakk!!
"Kenapa kau bodoh sekali Alif. Bahkan kerbau yang dikenal sebagai hewan yang paling bodoh pun tidak akan pernah masuk lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tapi kenapa kamu yang memiliki akal dan pikiran justru mengulangi kesalahan yang sama!" ucap Damayanti mencacinya
"Sudah ku katakan jika kau hanya perlu mendekati gadis itu, dan tidak perlu mengusik Janaka. Karena aku yang akan mengurusnya, tapi kenapa kau malah mengacaukan semua rencanaku. Kalau sudah seperti ini lalu apa yang harus aku lakukan??" imbuh Dama terlihat frustasi
Ia berkali-kali menghela nafas panjang dan duduk di sofa sembari terus mencari jalan keluar atas masalah yang menimpa putranya itu.
Khalif membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral. Ia kemudian memberikannya kepada Dama.
"Maafkan aku. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan apa dia benar-benar sudah membaik atau masih kritis, tapi tidak ku sangka aku malah ke jebak di sana," jawab Khalif berusaha membela diri
"Sekarang semuanya sudah menjadi rumit, meskipun ayahmu sedang koma tapi kita tak bisa menghindari wartawan. Dan karena berita ini sudah viral maka bersiaplah jika polisi akan menginterogasi mu,"
"Aku tidak mau masuk penjara mah, tolong aku please. Aku bersedia melakukan apapun termasuk menikahi gadis itu asal aku tidak dibui," Khalif tampak menyesali perbuatannya
Ia bahkan bersimpuh di bawah kaki Dama dan terus memohon agar wanita itu membantunya agar tidak menjadi tersangka.
"Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlanjur jadi jalani saja seperti air mengalir. Asalkan kau mau mendengarkan aku, mamah pasti akan membantumu sebisaku," tegas Dama
__ADS_1
"Kalau begitu keluarkan aku dari sini, aku harus keluar untuk uji sirkuit, pertandingan ku tinggal dua hari lagi mah,"
Dama mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tunggu saja, sebentar lagi Leo akan menjemput mu menggunakan pesawat,"
Benar saja hanya berselang Satu jam sebuah pesawat jet nampak terbang di atas apartemen. Seorang pria turun menggunakan tali dan membawa Khalif keluar melalui jendela.
Melihat Khalif berhasil keluar apartemen menggunakan pesawat jet sebagian wartawan memilih pergi mengikuti pria itu menuju sirkuit .
......................
Siang itu Nina terlihat ikut melayat di kediaman Mutia. Ia datang untuk memberikan support kepada sahabatnya itu.
"Yang sabar ya Mut, mungkin Allah memiliki rencana yang indah di balik musibah ini. Tetap semangat dan jangan bersedih lagi, aku yakin sebentar lagi kau akan dipertemukan dengan pengganti Janaka yang jauh lebih baik darinya. Karena aku percaya jika wanita yang baik akan mendapatkan jodoh pria yang baik pula,"
"Tak segampang itu Nin. Kadang menasihati orang itu lebih mudah daripada menjalaninya sendiri. Meskipun aku berusaha tegar dan menjadi wanita yang kuat tapi tetap saja, pada kenyataannya aku gak bisa. Aku tetap saja perempuan rapuh yang belum bisa move on dari semua kenangan yang ia tinggalkan," jawab Mutia
"Yaudah pelan-pelan saja, semuanya butuh waktu,"
Melihat para wartawan mulai berdatangan Nina akhirnya memilih pulang.
Ia yang semakin membenci Khalif setelah melihat rekaman cctv rumah sakit bertekad untuk menjebloskan pria itu ke penjara.
Mutia yakin jika Khalif adalah pembunuh calon suaminya, ia semakin yakin kala mengingat ucapannya di bar yang mengatakan dirinya akan melakukan apapun untuk mendapatkan HAWI Corporation.
Mutia meminta kepada wartawan untuk merahasiakan identitasnya identitasnya dengan alasan keselamatan.
Ia merasa puas setelah memberikan semua informasi tentang pertengkarannya dengan Khalif di bar beberapa waktu silam.
"Aku pastikan kau akan membayar mahal atas apa yang sudah kau lakukan kepada calon suamiku hingga membuat semua impianku untuk menjadi seorang istri konglomerat musnah," gumam Mutia
......................
Setelah selesai tes Drive, Khalif memutuskan untuk menemui Nina di kampusnya. Seperti permintaan Dama sang ibu, ia harus mendekati gadis itu untuk mengalihkan perhatian netizens tentang berita kematian Janaka.
Dengan bantuan Martin dan teman-temannya, Khalif berhasil keluar dari sirkuit tanpa di ketahui oleh para wartawan yang terus mengejar-ngejarnya.
Dengan motor sportnya ia melesat menuju ke kampus universitas Pembangunan.
__ADS_1
Kebetulan sekali ia melihat Nina sedang duduk di halte Bus.
Khalif tersenyum menatap Nina yang sedang duduk menunggu bus.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padaku, bukankah ini lebih terlihat natural daripada aku harus menunggunya di depan kampus??
Ia kembali melajukan motornya pelan-pelan dan berhenti tepat di depan Nina.
*Ciit!!
Ia menggerakkan telunjuknya seolah memberikan isyarat kepada Nina untuk mendekat kearahnya.
Nina yang kebingungan menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan jika pria itu benar memanggilnya.
"Aku," ucap Nina menunjuk dirinya
Khalif mengangguk, dan Nina pun segera menghampirinya.
"Maaf ada perlu apa Mas?" tanya Nina dengan sopan
Khalif membuka kaca helmnya membuat Nina seketika tak percaya melihatnya.
"Khalif??" tanyanya dengan bola matanya yang membulat sempurna
"Naiklah," ucap Khalif
Nina yang masih tak percaya hanya berdiri takjub menatap pria tampan di depannya.
Menyadari bahwa pria di halte adalah Khalif Wiratmaja yang sedang viral, orang-orang mulai mengambil gambarnya menggunakan ponselnya.
Khalif yang merasa tak nyaman segera meminta Nina untuk segera naik ke atas motornya.
"Ayo cepat naik!" serunya kemudian menutup kaca helmnya
Nina buru-buru naik keatas motor sport tersebut. Khalif yang mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi membuat Nina hampir jatuh.
Ia kemudian menarik lengan Nina dan melingkarkan di pinggangnya.
Beberapa wartawan yang mengejar Khalif pun sempat menangkap gambar keduanya yang tampak mesra dan tak canggung saat berboncengan motor bersama.
__ADS_1