My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 73


__ADS_3

Mutia akhirnya berhasil masuk kedalam berkat bantuan Dama. Wanita itu diam-diam mengirim seorang anak buahnya untuk menjemput Mutia.


Mutia yang melihat Naira sedang menyeret Nina langsung menghampirinya. Kali ini ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyingkirkan wanita yang sudah mempermalukannya.


Ia segera menarik Nina saat Naira mendorongnya dan mendorong gadis itu hingga tercebur ke kolam renang.


*Byuur!!


Naira begitu kaget saat mengetahui dirinya tercebur di kolam renang. Bukannya menolong Naira Khalif justru menghampiri Nina.


"Apa kamu terluka?" tanya Khalif seketika membuat Mutia langsung jengah mendengarnya


"Aku baik-baik saja," jawab Nina singkat


Ia segera bergegas meninggalkan Khalif setelah berterima kasih kepada Mutia.


"Apa kau tidak berterima kasih padaku?" tanya Mutia menatap sinis kearah Khalif


"Untuk apa?"


"Karena aku sudah menyingkirkan benalu yang menempel di tubuh mu," jawab Mutia melirik kearah Naira yang berjalan menghampiri mereka.


Naira langsung menampar wajah Khalif, membuat semua orang menoleh kearahnya.


"Dasar tak tahu diri, bagaimana bisa kau diam saja melihat kekasih mu hampir mati tenggelam!" seru Naira dengan nada kesal


"Dan kau... Siapa yang mengijinkan kamu masuk ke sini!" seru Naira menatap sinis kearah Mutia


"Aku yang mengijinkan dia masuk, memangnya kenapa, apa kau tidak suka?" jawab Dama membuat Mutia semakin besar kepala


"Kenapa Ibu tak bertanya dulu padaku, bukankah ini acara Al jadi aku berhak menentukan siapa saja yang pantas diundang dan dalam acara ini!" sahur Naira


"Memangnya kau siapa Nai, kau bukan lagi tunangan Khalif. Khalif sudah menikah sekarang dan kau bukan siapa-siapa baginya. Kau hanya mantan tunangannya saja jadi jangan pernah berpikir untuk menjadi nyonya rumah ini!" ucap Dama membuat Khalif tampak mengerutkan keningnya


"Menikah, Ibu bilang aku sudah menikah, apa maksudnya Ibu?" tanya Khalif sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.


*Bruugghhh!!


Khalif pun terjatuh pingsan, Dama segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa Khalif ke rumah sakit.


Mendengar Khalif dibawa ke rumah sakit Nina pun bergegas menyusulnya.


Nina buru-buru berlari menuju Halte bus. Terlihat jelas kekhawatiran diwajahnya, hingga membuatnya hampir menangis saat menunggu cukup lama karena bus tak kunjung datang.


Melihat Nina yang mulai berkaca-kaca membuat Panji melesatkan mobilnya kearahnya.


*Ciit!!


Panji menghentikan mobilnya tepat di depan Nina dan menyuruhnya untuk segera naik.

__ADS_1


Nina segera membuka pintu mobil itu dan duduk di samping pemuda itu.


"Dirawat dimana dia?" tanya Panji


"Rumah sakit Harapan Kasih," jawab Nina


Panji kemudian menginjak gas mobilnya dan melesat menuju ke rumah sakit tempat Khalif dirawat.


Sementara itu di rumah sakit, tampak dokter Adi tengah memberikan ultimatum kepada Dama untuk tidak memberitahukan kabar yang bisa membuat Khalif shock ataupun terkejut.


"Aku takut jika berita-berita negatif itu akan membahayakan jiwa Al. Ibu tak mau kan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Al?" tanya Dokter Adi


"Tentu saja tidak, mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati lagi dn tidak akan membiarkan siapapun berbicara hal-hal negatif terhadap Al," jawab Dama


Adi kemudian pergi setelah memberikan nasihatnya kepada Dama. Sementara itu tak berselang lama setelah kepergian Adi, Khalif mulai membuka matanya.


Dama segera menghampirinya saat pria itu memanggil namanya.


"Ibu??"


"Iya sayang ada apa?" sahut Dama


"Tolong jawab pertanyaan ku dengan jujur Ibu?"


"Tanyakan saja apa yang ingin kau ketahui dari Ibu?" jawab Dama


"Ibu bilang aku sudah menikah, apa itu benar!" tanya Khalif


"Lalu siapa yang menjadi istriku, siapa wanita yang sudah aku nikahi Ibu?" tanya Khalif


"Aku," jawab Mutia berjalan memasuki ruang perawatan itu dengan penuh percaya diri


Mutia kemudian mengarang cerita untuk meyakinkan Khalif jika ia benar-benar istrinya. Ia mulai bercerita bagaimana awal mula mereka bertemu hingga menikah.


Meskipun Mutia sudah bercerita panjang lebar, namun Khalif masih terlihat ragu. Tatap mata Khalif masih menyisakan sebuah tanda tanya besar tentang semua cerita Mutia yang menurutnya masih belum bisa diterima akal.


Melihat Khalif yang masih belum percaya dengan semua karangan ceritanya, maka Mutia pun menyiapkan strategi lain untuk membuat pria itu mempercayainya.


Kali ini Mutia mengeluarkan sebuah foto pernikahan mereka dan menunjukkannya kepada Khalif.


"Hanya ini satu-satunya bukti yang aku bawa, selain cincin yang melingkar di jari manisku ini!" ucap Mutia dengan wajah sendu


Khalif menatap tajam foto dirinya dan Mutia yang menggunakan pakaian pengantin.


"Apa kau masih ragu juga?" tanya Mutia


"Tentu saja tidak, maaf kalau aku sudah membuat mu kecewa," jawab Khalif tersenyum padanya


"Syukurlah, aku hampir saja putus asa kalau kau tak percaya juga. Tapi meskipun begitu aku tak mengapa toh walaupun kau melupakan pernikahan kita tapi kau masih mengingatku sebagai kekasih mu. Dokter bilang jika ingatanmu akan pulih seiring berjalannya waktu jadi aku yakin suatu hari kau pasti akan mengingat pernikahan kita," jawab Mutia mengusap lembut wajah kekasihnya.

__ADS_1


Sementara itu Naira yang mendengar semua kebohongan Mutia segera menerobos masuk. Ia berniat membongkar kebohongan Mutia kepada Khalif apapun resikonya.


"Jangan percaya Iblis itu Al!" serunya dengan wajah berapi-api


Melihat kedatangan Naira yang bisa mengacaukan rencananya maka Dama pun memerintahkan anak buahnya untuk mengusir gadis itu.


Dua orang pria bertubuh kekar segera menyeret Naira dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Lepasin gue!" seru Naira berusaha melepaskan diri dari mereka


Namun tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan diri dari pria itu.


Mereka kemudian melemparkan Naira ke depan pintu masuk rumah sakit.


*Bruugghhh!!


Tubuh Naira terjatuh tepat di depan Nina yang baru saja turun dari mobil.


Melihat Naira merintih kesakitan Nina pun segera mengulurkan tangannya dan membantunya berdiri.


"Terimakasih," ucap Naira sambil memegangi pinggangnya yang terasa remuk.


"Sepertinya kau perlu mendapatkan perawatan," ucap Nina saat melihat darah di siku dan lutut kaki Naira


Nina kemudian membawa Naira ie ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Setelah kondisinya membaik Naira segera keluar dari ruang UGD dan menemui Nina yang menunggunya di selasar ruang UGD.


"Hari ini Mutia sudah membuat kebohongan dengan mengaku sebagai istri sah Khalif, dia benar-benar wanita yang sangat licik dan aku tak bisa menghentikannya karena Tante Dama membantunya," ucap Naira


Nina mengangguk paham, "Jadi ini alasannya kau di seret keluar dari rumah sakit?" jawab Nina


"Benar, Kali ini Tante Dama sengaja menggunakan Mutia untuk menyingkirkan aku dari kehidupan Al. Tapi jangan khawatir aku tidak akan menyerah, aku akan menggunakan semua kekuatan ku untuk mengungkapkan kebohongan Mutia, jadi aku mohon bantuanmu kali ini. Aku bersumpah jika aku tidak bisa mendapatkan Al, maka wanita itu pun tak boleh mendapatkan Al," ucap Naira


"Bagaimana aku bisa membantumu?" tanya Nina


"Bawa aku masuk ke kediaman Wiraatmadja, aku tahu kau masih tinggal di sana. Hanya kau yang bisa membawaku masuk ke istana itu, dan aku berjanji akan membongkar kebusukan Mutia agar Al mengusir iblis betina itu," jawab Naira


Nina mengangguk setuju. Ia kemudian mengajak Naira ke rumahnya saat Dama tidak ada di rumahnya.


Dengan cepat Naira memasang semua photo pengantin Nina dan Khalif yang dulu ia turunkan dari kamar tidur pria itu.


Ia segera bergegas pergi setelah mendengar suara Mutia dan Khalif kembali ke rumah itu.


*Krieettt!!!


Khalif begitu terkejut saat melihat foto-foto dirinya bersama Nina dalam balutan pakaian pengantin.


Bukan hanya foto-foto ia dan Nina yang menghiasi kamar tidurnya. Namun di ruang tamu pun ia menyaksikan prosesi pernikahan mereka yang sengaja diputarkan oleh Naira sebelum pergi.

__ADS_1


"Sekarang bersiaplah untuk pergi dari kehidupan Al selamanya Mutia!" ucap Naira menyeringai lebar menatap kegundahan Mutia dari kejauhan.


__ADS_2