
Nina merasakan hatinya terluka saat mendengar ucapan Khalif, meskipun ia sudah tahu akan berakhir seperti itu, tetap saja ia merasa sakit.
Hati memang tak bisa ditebak, meskipun mulut sudah berkata tidak, namun hati berkata lain. Meskipun Nina sudah berusaha untuk tidak baper saat Khalif bersikap manis kepadanya namun hati tak bisa berdusta jika sebenarnya ia mulai baper dengan idolanya itu.
Sepulang dari pesta itu Nina lebih banyak diam dan memilih untuk tak keluar kamar hingga membuat sang ayah khawatir dengannya.
"Kenapa mukanya di tekuk gitu?" tanya Dado kemudian duduk di samping Nina yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.
"Ayah ngarang ih, muka masih rata gini kok dibilang di tekuk," sahut Nina ketus
"Hmmm, pasti kamu sama Khalif lagi berantem ya makanya badmood gini?"
"Kami gak berantem ayah," sahut Nina
"Terus...putus gitu??" tanya Dado lagi
"Kan belum jadian jadi mana mungkin putus," jawab Nina kemudian meletakkan penanya dan menatap sendu wajah ayahnya
"Oh gitu, yaudah lanjutkan saja. Maaf kalau ayah ganggu. Btw kalau butuh bahu buat bersandar ayah selalu siap 24 jam," jawab Dado kemudian meninggalkan putri semata wayangnya tersebut
......................
Seorang pria berjas hitam menemui Handoko dan menjelaskan semua yang terjadi di kediamannya.
Handoko tersenyum sinis saat mendengar Dama memaki Nina, dan kabar tentang Khalif yang sengaja memutuskan hubungannya dengan Nina.
"Aku sudah menduga kalau dia akan melakukan hal itu kepada Nina." Handoko kemudian menuliskan sesuatu dan meminta Broto untuk memberikannya kepada pengacara keluarga Wiraatmadja.
"Sepertinya aku harus memberikan selamat kepada Khalif dan Dama yang berhasil mempecundangi aparat kepolisian," ucap Handoko
"Tapi kondisi anda belum membaik Tuan, aku khawatir jika kesehatan anda akan kembali memburuk jika pulang sekarang," cegah Broto yang mengkhawatirkan kondisi atasannya tersebut
"Kadang aku merasa jika kau lebih peduli denganku daripada keluargaku sendiri. Bahkan putraku sendiri tak menjengukku selama aku terbaring di sini," tutur Handoko tersenyum getir
Pria itu kemudian mengambil tongkatnya dan berjalan menghampiri Broto.
"Terimakasih karena sudah memperhatikan aku selama ini, aku harap kau bisa menjadi orang yang bisa ku andalkan saat aku tidak ada," ucap pria itu menepuk bahu Broto
__ADS_1
#Kediaman Wiraatmadja
*Krieett!!
Handoko membuka pintu kamarnya perlahan. Ia melihat istrinya sedang membersihkan riasannya di depan meja rias.
Dama begitu terkejut saat melihat kedatangan suaminya.
"Kenapa kau tak memberitahu ku jika sudah boleh pulang," ucap wanita itu segera beranjak dari duduknya dan menghampiri suaminya
"Apa itu perlu?" jawab Handoko sinis
"Tentu saja dengan begitu aku bisa menjemput mu, jadi kau tak perlu pulang sendirian seperti ini," sahut Dama
"Dimana Alif?"
"Dia ada di kamarnya, memangnya ada apa?" Jawab Dama mulai merasakan ada sesuatu dalam diri suaminya
"Aku hanya ingin mengajarinya sopan santun," jawab Handoko
Dama mulai curiga dengan Handoko. Ia tahu benar bagaimana tabiat suaminya. Pria itu selalu tahu apapun yang dikerjakan oleh anak istrinya meskipun ia terlihat mengacuhkannya.
Kali ini Dama tahu benar kesalahan yang dibuat Khalif tak bisa termaafkan, hingga membuatnya begitu takut jika Suaminya itu akan berbuat hal buruk kepadanya.
"Sudahlah sayang, sekarang sudah malam kau kan bisa memberitahunya besok pagi. Lagian aku yakin kamu pasti cape dan butuh istirahat. Jadi jangan paksakan dirimu dan istirahat saja," ujar Dama berusaha meredam keinginan suaminya
"Kau tak bisa menghalangi ku lagi Dama. Sudah cukup kau membuat putraku menjadi anak yang manja. Karena kau selalu menuruti kemauannya maka ia berubah menjadi monster, seperti sekarang. Bagaimana bisa seorang Ibu harusnya kau menasihatinya saat ia berbuat salah bukan malah membantunya menghilangkan barang bukti dan mendukungnya. Meskipun aku tahu kau sangat membenci Tika tidak seharusnya kau juga membunuh Janaka. Dia tak bersalah dan tak ada hubungannya dengan permusuhan kalian. Apa kau kira dengan membunuh mereka berdua aku akan memberikan perusahaan itu kepada kalian, tidak sama sekali. Dan jangan pernah bermimpi!" seru Handoko kemudian meninggalkan Dama di kamarnya
Ia segera naik ke atas menuju kamar Khalif.
*Dor, dor, dor!!
"Siapa sih gedor-gedor kamar orang malam-malam begini, gak sopan banget!" gerutu Khalif segera bangun dan membuka pintu kamarnya.
*Plaakkk!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya membuat wajahnya memerah.
__ADS_1
"Ayah, kenapa kau menampar ku?" tanya Khalif membuat Handoko kembali menamparnya
"Apa kau masih tidak tahu kenapa aku menampar mu!" seru Handoko
Khalif tiba-tiba mengingat kejadian saat ia sengaja menabrak mobil Janaka dan menewaskan ibu tirinya.
"Aku tidak tahu apa kesalahan ku, tentu saja aku bertanya kepada mu," jawab Khalif berusaha bersikap biasa dan menyembunyikan ketakutannya
Handoko kemudian melemparkan sebuah kwitansi pembayaran rental mobil kepadanya.
"Sepandai-pandainya kau menyembunyikan bangkai maka bau busuk itu suatu saat akan tercium juga." tukas Handoko membuat Khalif seketika memucat.
Pemuda itu seketika langsung bersimpuh dan meminta maaf kepadanya.
"Maafkan aku ayah, aku khilaf saat itu. Aku terpaksa melakukannya karena aku benci dengan ayah yang selalu memperlakukan kami berbeda. Kau bahkan lebih menyayangi Jan daripada aku, aku harap dengan memberikan pelajaran kepada mereka akan membuat mu lebih menyayangi ku," tandas Khalif menatapnya
"Kalau kau membenciku kenapa kau tidak membunuh ku saja hah!" seru Handoko kemudian menarik kerah baju Khalif dan menatapnya tajam
"Kau bilang aku tak sayang padamu, bagaimana mungkin aku tidak sayang padamu sampai aku meninggalkan wanita yang ku sayangi yang sedang melahirkan anak kedua kami hingga bayi kami meninggal, demi menjagamu yang sedang sakit. Kau pasti tidak tahu karena kau tidak sadar waktu itu. Bagaimana mungkin aku tak menyayangi mu jika aku selalu datang untuk mengambil raport mu daripada raport Janaka. Karena aku tahu kau lebih membutuhkan aku daripada dia. Kau juga pasti berpikir jika ayah tak adil makanya memberikan Hawi Corporation kepada Janaka bukan??, sebelum kau menuduhku harusnya kau sudah tahu jika kau mendapatkan lebih dari separuh kekayaan Wiratmaja. Sedangkan Janaka ia hanya mendapatkan Hawi Corporation saja yang nilainya tidak lebih dari 25 persen dari kekayaan Wiraatmadja, apa itu masih kurang adil di matamu!" terang Handoko
"Tapi tidak berarti kau memberikan perusahaan itu kepadanya, bukankah masih banyak perusahaan lainnya. Tapi kenapa kau memilih perusahaan itu, kau tahu kan kalau Hawi Corporation adalah perusahaan pertama kita yang kita rintis hingga membuat keluarga kita menjadi seperti ini. Apa semudah itu kau memberikan sesuatu yang menjadi kenangan kita??"
"Lalu apa kau akan setuju jika aku memberikan perusahaan Elektronik yang ada di China, atau perusahaan Kosmetik yang kau kelola?" jawab Handoko balik bertanya
Dama tampak terdiam mendengar pertanyaan Handoko.
"Asal kau tahu modal yang kita dapatkan saat mendirikan Hawi Corporation adalah dari Wilantika, ia bahkan rela menjual semua warisannya demi membantuku waktu itu. Kau harusnya curiga padaku waktu itu, bagaimana mungkin seorang mahasiswa miskin seperti ku punya banyak uang untuk mendirikan sebuah perusahaan??" jawab Handoko semakin membuat Dama mati kutu.
Ia kemudian menghubungi seorang polisi guna menangkap Khalif. Mendengar Handoko menelpon polisi Dama berusaha menghentikannya dengan merebut ponsel suaminya itu.
"Jangan lakukan itu Mas, apa kau tega menjadikan putramu sebagai seorang narapidana dan merusak masa depannya!" seru Dama sambil terus berusaha merebut ponsel suaminya.
*Grep!!
Dama akhirnya berhasil mendapatkan ponsel Han dan berlari keluar kamar Khalif ia berusaha turun dari tangga dan Handoko terus mengejarnya.
Namun Kondisi Han yang belum pulih benar membuat lelaki itu jatuh saat menuruni tangga.
__ADS_1
Dama menjerit histeris saat melihat suaminya bersimbah darah di depannya.