My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 30


__ADS_3

"Pokoknya aku gak mau tahu, malam ini kamu harus buat Nina benci sama kamu atau kau cari-cari kesalahannya agar kau punya alasan untuk menceraikannya!" tegas Mutia


"Tapi pernikahan gue sama Nina kan masih baru dan belum ada seminggu masa sudah mau cerai. Itu gak masuk akal Mut, dan semua orang pasti mengira ada sesuatu jika aku buru-buru menceraikannya. Setidaknya tunggulah satu tahu baru aku bisa menceraikannya," jawan Khalif


Seketika wajah Mutia langsung berubah. Bola matanya membulat sempurna seolah menunjukkan rasa keraguan terhadap kekasihnya.


"Kenapa aku harus menunggu selama satu tahun, itu terlalu lama Al. Bukan tidak mungkin dengan waktu selama itu perasaan mu terhadap Nina juga berubah. Kau tahu kan pepatah yang mengatakan waiting tresno jalaran Soko Kulino. Jangan-jangan kau memang tidak serius dengan hubungan kita dan selama ini hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan karena kau terpaksa menikahi Nina?" tukas Mutia dengan ketus


"Jangan salah paham Mut, selama ini aku benar-benar tulus mencintai kamu, dan tidak ada wanita lain dalam hatiku selain dirimu," jawab Khalif berusaha meyakinkan Mutia


"Terserah apa katamu, tapi aku lebih percaya dengan tindakan daripada ucapan. Jadi jika kau benar-benar mencintai aku maka buktikan, dan jangan menemui aku jika kau belum melakukan apa yang aku inginkan!" seru Mutia kemudian mendorong Khalif keluar dari kamarnya.


"Mut, Mutia, Mutia, dengar dulu penjelasan gue!" teriak Khalif berusaha memberi penjelasan, namun Mutia tak mau mendengarnya dan memilih mengunci diri di kamarnya.


Khalif tampak bingung, meskipun sebenarnya ia belum ingin membuat masalah dengan Nina namun demi hubungannya dengan Nina. Namun melihat kekasihnya merajuk membuat ia terpaksa harus melakukan sesuatu demi menyelamatkan hubungannya dengan Mutia.


Apalagi Khalif sangat mencintai gadis itu dan tak mau berpisah dengannya.


Setibanya di VIP room tempatnya menginap Khalif terkejut bukan main saat melihat kedatangan ibunya.


Ia mulai ketakutan, apalagi ia baru tiba di sana.


"Haduuh, bagaimana ini?, bagaimana jika ibu tahu aku dan Nina berangkat terpisah,"


Di saat bersamaan Khalif semakin panik saat mendengar Nina akan memberitahukan ibunya tentang dirinya yang belum tiba Jepang.


Ia buru-buru masuk dan memotong ucapan Nina hingga membuat gadis itu merasa bersalah.


Mengetahui gesture tubuh Nina yang menyiratkan rasa bersalah karena hampir saja membocorkan rahasia mereka berdua, maka Khalif pun berencana untuk menjadikan itu untuk memarahinya.


Baginya itu akan terlihat natural dan Nina tidak akan curiga saat ia memarahinya.


Baginya ia hanya perlu mencari-cari kesalahannya agar ia bisa menjauh darinya dan membuat Nina merasa tak nyaman dengannya.

__ADS_1


Meskipun ada rasa bersalah dan kasian terhadap Nina setelah memarahinya namun Khalif tak mau ambil pusing. Baginya Nina itu gadis menyebalkan yang membuat hidupnya menjadi rumit.


Ia buru-buru pergi meninggalkannya setelah memarahinya agar Nina semakin merasa bersalah.


"Semoga saja dia down dan mulai membenciku," tutur Khalif buru-buru turun untuk menemui Mutia.


Sementara itu Dama yang menangkap gerak-gerik mencurigakan Khalif kemudian mengikutinya diam-diam.


"Gimana sayang, apa rencanamu berhasil?" tanya Mutia begitu sumringah menyambut kedatangan kekasihnya


Wajah Khalif langsung berbinar-binar saat melihat Mutia sudah tak marah lagi dengannya.


Ia kemudian memberitahukan Mutia tentang apa yang sudah lakukan terhadap Nina dengan antusias.


"Tentu saja, sepertinya semuanya berjalan dengan lancar dan terkesan alami karena aku tak menyangka ada ibu yang datang ke kamar kami. Dan aku jadi punya alasan untuk memarahinya saat tahu ia hampir saja memberitahukan ibu jika aku baru tiba di hotel," jawab Khalif dengan begitu bangga


Mutia begitu bahagia saat mengetahui Khalif sudah melakukan semua permintaannya, dan langsung memeluknya erat.


"Kamu memang bisa diandalkan, sekarang aku percaya kalau kamu benar-benar serius denganku," jawab Nina kemudian memeluknya erat.


"Oh jadi ini alasan kamu baru datang menemui istrimu!" seru Dama dengan suara lantang membuat Khalif dan Mutia tercengang melihat kedatangannya.


"Kau tega membohonginya hanya demi Iblis ini, ck, ck, ck!" imbuh Dama


"Ibu, Saat ini aku sudah menjadi CEO Hawi Corporation jadi tak masalah jika aku menceraikan Nina dan menikahi Mutia," jawab Khalif yang langsung di balas dengan tamparan keras dari Dama.


*Plaakkk!!


"Kau pikir semudah itu, apa kau kira nenekmu akan memberikan ijin kau tetap menjadi CEO Hawi Corporation setelah menceraikan Nina, jangan mimpi!" sahut Dama


Wanita itu kemudian mendekati Mutia dan mendorongnya agar menjauh Khalif.


"Dan kau aku merasa jijik denganmu. Ku pikir dulu kau adalah wanita setia hingga begitu gigih mencari keadilan untuk kekasihmu tapi ternyata kau tidak lebih dari seorang wanita murahan yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan kekayaan... jangan pikir kau akan menang melawan ku dengan menggunakan putraku, kita lihat saja sampai kapan kau bisa bertahan di Hawi Corporation," imbuh Dama kemudian meninggalkan keduanya

__ADS_1


Dama yang begitu murka segera menghubungi orang kepercayaannya. Ia meminta anak buahnya itu untuk memberikan bukti jika Mutia adalah orang yang berusaha membunuh Nina di hari pernikahannya.


*Kediaman Wiraatmadja


Pagi itu seperti biasa Broto memberikan laporan kepada Mariyah dikediamannya.


"Bagaimana dengan kasus percobaan pembunuhan Nina, apa kau sudah menemukan siapa pelakunya?" tanya wanita itu


"Tentu saja, namun saya tidak berani menyebutkan nama pelakunya karena takut anda akan terkejut mendengarnya," jawab Broto


"Katakan saja siapa pelakunya!" seru Mariyah dengan nada tinggi


Broto kemudian mendekatkan dirinya kepada wanita itu dan mulai membisikkan sesuatu di telinganya.


Seketika Mariyah merasakan dadanya begitu sesak hingga terus memegangi dadanya.


Melihat Mariyah kesulitan bernafas membuat pria itu segera melarikannya ke rumah sakit.


Kabar tentang Mariyah yang terkena serangan jantung membuat Dama meminta Khalif dan Nina untuk segera kembali ke Jakarta.


Merekapun kembali dengan penerbangan yang sama. Namun siapa sangka kedatangan Mutia di bandara langsung di sambut oleh dua orang polisi yang langsung memborgolnya.


"Nona Mutia, anda kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap saudari Nina Aryakunto!"


Seketika Mutia membelalak mendengar tuduhan itu, "Itu tidak benar pak, saya sama sekali tak melakukan itu. Tidak mungkin aku mencelakai Nina sahabat ku sendiri!" seru Mutia


"Silakan anda jelaskan nanti semuanya di kantor. Anda juga bisa meminta bantuan pengacara jika memang diperlukan," jawab polisi itu kemudian memborgol tangan Mutia


Gadis itu benar-benar panik dan berusaha meminta bantuan Khalif untuk melepaskannya.


"Khalif kamu harus menolong ku. Aku benar-benar tidak melakukan itu. Ini fitnah, aku gak salah dan aku yakin ada seseorang yang sengaja menjebak ku. Jadi tolong lepaskan aku Al," rengek Mutia


"Tenang saja aku pastikan akan membantumu setelah menemui nenekku, sekarang kau ikuti saja mereka dan jangan katakan apapun jika kamu memang tak bersalah," ucap Khalif berusaha menenangkan Mutia

__ADS_1


Melihat suaminya kini mulai terang-terangan memberikan perhatian kepada Mutia membuat Nina semakin kesal dengannya. Kata-kata Khalif bak seperti jarum yang menusuk-nusuk jantungnya hingga butiran air mulai menggenang di sudut matanya.


__ADS_2