My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 87


__ADS_3

"Sudah cukup lama kita tak makan siang bersama, aku harap nanti kalian sering-sering mampir ke sini. Kau tahu kan sekarang ayah sudah semakin tua dan merasa kesepian setelah kau menikah. Jadi Al, aku harap kau mengijinkan Nina untuk menjenguk ayahnya ini setiap akhir pekan," ucap Dado


"Tentu saja ayah, mulai sekarang aku akan menginap di sini setiap weekend," jawab Khalif kemudian merangkul Nina.


"Tapi ... Sebelumnya aku meminta izin ayah karena akan membawa Nina berbulan madu. Doakan kami agar pulang membawa Al junior," ucap Khalif langsung di sambut cubitan kecil oleh Nina


"Ish apaan sih," ujar Nina


"Emang kamu gak mau bulan madu sama aku?" tanya Khalif


Nina tampak diam mendengar pertanyaan suaminya.


Khalif kemudian menggenggam tangan istrinya itu dan menatapnya tajam.


"Di depan ayahmu aku Khalif Wiraatmadja ingin meminta maaf atas perlakuan kasar ku padamu selama ini. Kalau kau bersedia memberikan aku kesempatan lagi aku ingin memperbaiki diri dan memulai lagi hubungan kita dari awal. Aku ingin mengawalinya dengan berbulan madu layaknya pengantin baru. Secara kita sudah dua kali gagal berbulan madu, jadi bagaimana apa kau mau memaafkan aku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita?" tanya Khalif penuh harap


Nina terlihat menatap ayahnya untuk meminta pendapatnya. Namu Dado justru mengangkat bahu seolah menyerahkan keputusan seutuhnya kepada putrinya itu.


Melihat Nina yang terus diam membuat Khalif mengira Nina menolak permintaannya. Ia kemudian segera melepaskan tangannya.


Ia buru-buru menyelesaikan makannya kemudian segera pamit pulang.


"Sepertinya Nina sangat kangen dengan ayahnya, jadi sebaiknya aku biarkan dia menginap di sini akhir pekan ini. Hubungi aku jika kamu ingin pulang," ucap Khalif kemudian beranjak dari duduknya.


"Kenapa kamu tidak menemani ku menginap di rumah ayah, bukankah seorang suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya sendirian," jawab Nina membuat Khalif langsung memeluknya erat


Malam itu untuk pertama kalinya Khalif dan Nina tidur bersama. Ada rasa canggung diantara keduanya, hingga membuat suasana hening yang lumayan lama.


Nina menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya. Namun gadis itu tak bisa tidur meskipun berkali-kali ia mengubah posisi tidurnya.


Entah mengapa ia merasa berdebar-debar saat itu hingga membuatnya sulit tidur. Hal serupa juga dialami Khalif. Mungkin karena ia begitu bahagia akhirnya Nina mau menerima permintaan maafnya hingga membuatnya tak bisa tidur.


Melihat Nina yang gelisah, Khalif pun memberanikan diri untuk mendekatinya.


Ia memeluk erat saat gadis itu membelakanginya.


Khalif tersenyum simpul saat Nina membalikkan badannya.


"Kalau kamu susah tidur aku punya trik khusus biar kamu bisa cepat tidur, gimana mau coba gak?" tanya Khalif


"Trik apa?" jawab Nina

__ADS_1


"Story telling, dulu waktu kecil, ibu selalu menceritakan tentang dongeng kepada ku, dan entah kenapa aku selalu terlelap saat mendengar cerita-cerita itu,"


"Yaudah kalau begitu kau boleh menceritakan dongeng untukku,"


"Ok," Khalif kemudian mulai bercerita tentang sebuah dongen yang ia karang sendiri.


Nina tampak antusias mendengarkan cerita Khalif yang berbeda dengan dongeng-dongeng yang pernah ia dengar sebelumnya.


Semakin lama rasa kantuk pun mulai menyerang Nina hingga ia terlelap di samping Khalif.


Melihat istrinya sudah terlelap Khalif pun mengecup kening Nina.


"Have a nice dream sayang," ucapnya lirih


Ia tampak memandangi wajah Nina saat terlelap.


"Mulai sekarang aku akan selalu ada di sisimu untuk menjaga dan melindungi mu Nin," ucapnya serasa membelai rambut panjang Nina.


Ia kemudian memejamkan matanya sambil memeluk erat istrinya itu.


Pagi harinya suara kicauan burung membangunkan Khalif. Ia tersenyum saat melihat Nina masih terlelap sambil memeluknya.


"Jam berapa ini?" Nina segera melirik jam beker yang ada di atas meja.


"Ya ampun jam 6," saat Nina hendak bangun Khalif sengaja menarik wanita itu kedalam pelukannya.


Nina berusaha melepaskan diri darinya, Namun Al sengaja terus memeluknya hingga membuat Nina terpaksa menggelitiki suaminya itu.


Karena geli Khalif meronta-ronta hingga ia jatuh dari ranjangnya.


"Bruughh, awww!" pekiknya sambil memegangi kepalanya


"Sorry, aku gak sengaja," ucap Nina langsung membantunya bangun


"Sakit ya?" tanya Nina lagi


Khalif mengangguk.


"Maaf ya, abis kamu sih gak mau lepasin aku jadi ya gitu deh," tukas Nina


"Iya gak papa kok sayang," jawab Khalif kemudian mengacak-acak rambut istrinya

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu aku mau bikin sarapan dulu ya," ucap Nina kemudian meninggalkannya.


Karena tak mau melewatkan momen dengan Nina, Khalif pun menyusulnya.


"Mau masak apa sayang?" tanya Khalif.


"Hmm, mungkin nasi goreng aja, karena ayah gak punya stok sayuran," jawab Nina


"Baik, kalau gitu biar aku yang bikin bumbunya," ucap Khalif


"Memang kamu bisa?" tanya Nina


"Bisa dong," Khalif kemudian memasukkan semua bumbu halus kedalam blender dan menghaluskannya.


Setelah selesai ia memberikannya kepada Nina. Dado tampak senang melihat perubahan sikap Khalif yang mulai peduli dan menyayangi Nina.


"Semoga cinta kalian langgeng sampai maut memisahkan," ucap Dado.


Selesai mengunjungi Dado, Khalif kemudian mengajak Nina berbulan madu.


Kali ini ia sengaja mengajak Nina bulan madu ke vila keluarganya yang ada di Cipanas Cianjur.


Cukup lama ia menghabiskan bulan madu di sana.


Khalif bahkan menyerahkan semua urusan perusahaan kepada Panji.


Bahkan saat kembali Khalif lebih memilih menjadi Komisaris Independen daripada menjadi CEO perusahaan.


"Sekarang aku sadar kenapa dulu ayah menyerahkan perusahaan ini kepada Janaka, ternyata ia ingin agar aku tetap menjadi pembalap. Untuk itulah sekarang aku serahkan perusahaan ini kepadamu, biarkan aku tetap menjadi Komisaris Independen saja, jadi dengan begitu aku masih bisa menjadi pembalap dan memperhatikan istriku. Kali ini aku tidak mau membiarkannya kesepian, jadi aku akan selalu ada di sisinya," ucap Khalif saat menandatangani surat serah terima jabatan.


Broto begitu terharu dengan keputusan Khalif, setidaknya ia bisa mengembalikan perusahaan ini kepada pemiliknya yaitu Jenaka atau Panji sesuai keinginan Handoko.


Tiga bulan setelah itu Nina hamil dan kabar tersebut membuat Khalif begitu bahagia.


Di hari bahagia itupun Broto memberitahukan Khalif jika Panji adalah Janaka.


Broto sengaja tidak memberitahukan identitas Panji buru-buru karena ia takut Khalif akan shock mendengarnya.


Untuk itulah di hari bahagia itu ia merasa jika itu adalah momen yang pas untuk memberitahukan siapa Panji sebenarnya kepada Khalif.


Meskipun demikian tetap saja Khalif merasa shock saat mendengar pemberitahuan dari Broto. Ia buru-buru menemui Panji untuk meminta maaf.

__ADS_1


__ADS_2