
Nicko tak percaya jika ada seseorang yang mengingat ulang tahunnya setelah sekian lama. Selama ini hanya ibunya saja yang selalu ingat hari ulang tahunnya dan tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun lagi kepadanya pasca ibunya meninggal. Itulah yang membuat Nicko menjadi pribadi yang dingin.
Ia benar-benar tersentuh saat mendengar suara Nina menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Meskipun suaranya tidak begitu merdu tapi ia merasa ketulusan Nina membuat hatinya tersentuh.
Nicko segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Nina yang tersenyum simpul menatapnya.
Nina mengingatkan pemuda itu kepada sosok ibunya yang selalu tersenyum saat mengucap ulang tahunnya. Tak ada yang lebih indah dan di nantikan oleh Nicko selain ucapan ulang tahun dari ibunya yang sudah sepuluh tahun tak di dengarnya.
Ia langsung memeluk Nina dengan erat dan mengelus rambut panjangnya.
*Deg
Ada apa lagi, kenapa lagi-lagi aku tidak suka melihat Nicko dengan Nina. Kenapa seperti seperti ada duri yang menusuk-nusuk jantungku saat pria itu menatapnya penuh cinta. Sebenarnya siapa Nina, kenapa aku merasa ia sangat dekat denganku??
Khalif segera memalingkan wajahnya agar tak melihat Nicko dan Nina.
"Terimakasih sudah menyanyikan lagu ulang tahun di hari ulang tahunku. Bagaimana kau tahu jika aku berulang tahun hari ini?" tanya Nicko
"Itu...dari biola ini," Nina kemudian menunjukkan sebuah angka yang tertera di biola itu
"Aku rasa ini adalah angka spesial, melihat tak ada satupun photo wanita di rumah ini, aku menyimpulkan jika itu bukan tanggal jadian atau hari pernikahan. Karena biola ini adalah milikmu, jadi aku berpikir jika itu adalah hari ulang tahun mu," jawab Nina
"Kau benar-benar genius Nina," Nicko kemudian menggandeng gadis itu dan mengajaknya duduk kembali.
Nicko kemudian menuju ke dapur dan tak lama keluar dengan membawa kue ulang tahun.
Ia menyalakan lilin.
"Selamat ulang tahun kami ucapkan, selamat panjang umur kita kan doakan, selamat sejahtera sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia,"
Khalif yang tadinya hanya terdiam tiba-tiba langsung ikut bertepuk tangan dan menyanyikan lagu ulang tahun bersama Nina.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juugaa... sekarang juga!"
Nicko kemudian meniup lilin itu dan Nina pun langsung bertepuk tangan untuknya.
"Yeay, selamat ulang tahun Nicko!" seru Nina
"Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga, sekarang juga!"
Nicko segera mengambil pisau dan memotong kue ulang tahunnya. Ia memberikan potongan pertamanya untuk Nina.
"Terimakasih," ucap Nina kemudian mencicipi kuenya
"Hmm enak," ucapnya penuh semangat
"Apa kau mau lagi?" tanya Nicko
Nina menggelengkan kepalanya, Ia malah menyuapi Nicko membuat pemuda itu tampak tersipu-sipu.
Saat mereka tengah menikmati kue ulang tahun Nicko, Naira terlihat memasuki ruangan itu.
"Siapa yang berulang tahun??" tanya gadis itu
"Nicko," jawab Khalif
Naira tampak terkejut mendengar jawaban Khalif namun ia segera memberikan ucapan ulang tahun kepada sahabatnya itu.
"Selamat ulang tahun Nick,"
__ADS_1
"Thanks," jawab Nicko datar
"Terus gimana dengan perjanjian kita?" tanya Naira
"Sepertinya itu sudah tidak berlaku lagi," jawab Nicko membuat Khalif dan Naira langsung tercengang mendengarnya.
"Kenapa, apa karena aku datang terlambat?" tanya Naira
"Bukan begitu, tapi karena aku sudah memutuskan kerjasama dengan orang lain," jawab Nicko
Khalif seketika merasa lemas saat mengetahui Nicko tidak jadi berinvestasi di Hawi Corporation.
Alih-alih menyembunyikan rasa malunya Khalif mengajak Naira untuk meninggalkan tempat itu.
Sebelum Khalif pergi Nicko justru memberikan pengumuman yang membuat Khalif dan Naira tercengang.
Ia memberitahu mereka jika dirinya akan tetap berinvestasi di perusahaan Khalif karena Nina.
Seketika Khalif langsung bersorak bahagia hingga tak sadar memeluk Nina.
"Terimakasih Nina," ucapnya tampak canggung
"Sama-sama,"
Nina kemudian berpamitan setelah mendapatkan kepastian dari Nicko tentang investasinya.
"Jangan telat makan dan selalu jaga kesehatan ok," ucap Nina sebelum pergi
Nicko mengangguk dan mengantarnya sampai ke gerbang rumahnya.
Nicko melambaikan tangannya saat Nina melesatkan motornya.
"Ayo jalan, kenapa diam saja!" seru Naira
Khalif kemudian menginjak gas mobilnya dan melaju meninggalkan halaman vila Nicholas.
********
Setibanya di kantor, Nina langsung mengumpulkan para komisaris dan direksi untuk melakukan rapat darurat.
Wanita itu membahas tentang pengangkatan Khalif sebagai CEO perusahaan.
Meskipun sebagian besar komisaris dan direksi tak setuju dengan rencananya, namun Nina tetap bersikeras untuk menjadikan Khalif sebagai CEO Menggantikan dirinya.
Ia bahkan memberitahu mereka tentang keberhasilan Khalif membawa seorang investor asing bernama Nicko.
Setelah berhasil meyakinkan para direksi dan komisaris kini Nina mempersiapkan pertemuan dengan para pemegang saham.
Ia juga harus mendapatkan persetujuan mereka untuk menjadikan Khalif sebagai CEO agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Berita pengangkatan Khalif menjadi CEO membuat Mutia kembali mendekati Khalif. Wanita itu langsung menjauhi Panji dan kembali menempel dengan Khalif.
Ia bahkan tak peduli dengan Naira yang akan menjadi lawan terberatnya.
"Sekarang sudah saatnya menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya,"
Malam itu Dama sengaja membuat pesta besar-besaran untuk merayakan keberhasilan Khalif menjadi CEO Hawi Corporation.
Nina tampak hadir di acara itu menggunakan gaun berwarna navy membalut tubuh mungilnya.
__ADS_1
Sementara itu Naira tampak anggun menggunakan gaun pesta berwarna hitam.
Melihat kedatangan Mutia, ia sengaja mengerahkan anak buahnya untuk mengusir wanita itu.
Mutia tampak kesal saat dua orang sekuriti mengusirnya keluar.
Mutia tak kenal lelah meskipun ia sudah diusir dari pesta itu ia tepat mencari cara agar bisa masuk ke pesta itu.
Melihat Nina mendekati Khalif, membuat Naira langsung menghampirinya.
Gadis itu langsung menggandeng lengan Khalif seolah tak membiarkan pria itu dekat dengannya.
"Selamat Al, akhirnya kamu berhasil juga menjadi seorang CEO," ucap Nina
"Thanks Nin, semua ini kare bantuan lo juga. So enjoy the party," jawab Khalif
Nina hanya tersenyum mendengar jawaban Khalif.
Ia kemudian menghampiri Panji dan berbincang dengannya.
"Kenapa kau memberikan posisi CEO kepada Al?" tanya Panji
"Karena itulah yang diinginkan nenek. Ia tahu tak bisa menjadikan Al sebagai CEO karena wasiat Pak Handoko, itulah alasannya ia memberikan semuanya kepadaku. Ia ingin agar aku melatih Al menjadi CEO dan memberikan posisi itu padanya setelah ia siap," jawab Nina
"Kenapa mereka jahat sekali, mereka hanya memanfaatkan dirimu untuk mewujudkan keinginan mereka tanpa memikirkan perasaanmu. Lalu apa rencanamu setelah ini?" Tanya Panji
"Mungkin aku akan resign dan memilih melanjutkan kuliahku untuk menjadi seorang pengacara seperti harapan ayahku," jawab Nina
"Apa kau benar-benar akan meninggalkan Khalif??" tanya Panji lagi
"Tentu saja, untuk apa mempertahankan rumah tangga bersama pria yang sama sekali tak mencintai diriku," ucap Nina menerawang
Panji seolah bisa merasakan pedih hati yang dirasakan Nina.
Melihat Nina yang tampak gusar membuat Panji ingin menghiburnya.
Saat semua tamu mulai berdansa, Panji mengajak Nina berdansa dengannya. Meskipun Nina menolaknya karena ia tak bisa berdansa namun Panji tetap memaksanya.
"Kau tidak boleh terlihat sedih di sini, jadi mari kita bersenang-senang sekarang . Sekarang saatnya menunjukkan kepada mereka bahwa kau juga bahagia dengan apa yang kau miliki sekarang," ucap Panji mengulurkan tangannya
Nina tersenyum dan menyambut uluran tangannya.
Panji tampak dengan sabar mengajari Nina berdansa, membuat semua orang berdecak kagum padanya.
Melihat Nina dan Panji berdansa dengan romantis membuat Khalif kembali merasa cemburu.
Ia kemudian meninggalkan Naira dan menarik Nina untuk berdandan dengannya.
Nina tak pernah melihat tatapan mata Khalif yang begitu dalam terhadapnya.
Tatapan mata itu seolah memperlihatkan betapa ia tak rela melihatnya dengan pria lain.
"Maaf tapi aku tidak bisa berdansa," ucap Nina tampak menurunkan pandangannya
"Jangan khawatir aku juga bisa membimbing mu sampai kau bisa, untuk itulah kau harus memberiku kesempatan agar aku bisa memulainya dari awal," jawab Khalif
Nina hanya mengangguk, meksipun keduanya tampak canggung, namun situasi itu mampu membuat Naira naik darah..
Naira yang kesal langsung menarik Nina dan menyeretnya keluar. Ia kemudian menghentikan langkahnya dan mendorong Nina ke kolam renang.
__ADS_1
*Byuur!!!!