
Dalam suasana hening dengan pergerakan lift yang menurun secara perlahan, Alvaro mengulurkan tangannya mengangkat dagu Azlina, membuat perempuan itu segera menengadahkan wajah menatapnya. Ibu jari Alvaro mengusap lembut air mata yang menetes di sudut mata sang istri. Dan dalam sepersekian detik, lelaki itu tak mampu menahan diri untuk tidak melabuhkan bibirnya di bibir perempuan itu.
Sebuah cecapan di bibir tak henti-hentinya Azlina terima, seperti sedang meminta pasokan energi untuk menyelesaikan masalah, lelaki itu tak melepaskan pagutan bibirnya. Alvaro merasa butuh banyak bekal dari ciuman itu karena setelah ini dia akan kesulitan untuk bertemu Azlina. Cukup lama waktu berjalan, hingga denting lift berbunyi tak juga mereka hiraukan.
Beberapa detik kemudian, pintu lift bergerak menyamping, terbuka dengan beberapa orang yang hendak masuk ke dalamnya menatap sepasang suami istri itu yang sedang saling beradu bibir.
"Astaghfirullohaladzim, anak muda zaman sekarang!" Suara wanita paruh baya terdengar sedikit berteriak, membuat Alvaro tersadar akan posisinya.
Dilepaskannya rengkuhan tangan serta bibirnya dari bibir sang istri sehingga membuat Azlina malu setengah mati.
Lelaki itu berdehem, menatap tajam dan tak suka kepada orang-orang yang sedang melihatnya.
Tanpa banyak bicara, Alvaro segera keluar dari ruang sempit itu, menggandeng tangan Azlina yang wajahnya terlihat memerah menahan malu. Perempuan itu hanya menunduk seraya mengikuti langkah ke manaAlvaro pergi.
"Lain kali jangan di dalam lift. Pesen kamar!" celetuk seorang pria muda yang ikut memasuki lift itu.
Alvaro tak peduli. Dia tetap berjalan untuk segera keluar dari lobby rumah sakit.
__ADS_1
Sampailah mereka berada di area luar pintu masuk, di mana seorang satpam berdiri di pintu lobby. Alvaro menghentikan langkahnya, lalu menghadap Azlina.
Perempuan itu masih menunduk, menyembunyikan raut malu di wajahnya. Ketahuan berciuman di depan umum sangat memalukan, bukan? Apalagi oleh seorang gadis SMA sepertinya.
"Hei, kenapa wajahmu merah?" Alvaro memperhatikan wajah Azlina setelah mengangkat sedikit dagu perempuan itu.
"Kakak enggak lihat tadi banyak orang yang menonton kita?"
Tak menjawab secara langsung, Alvaro justru terkekeh kecil karenanya.
"Malah ketawa!"
"Hah?! Mana ada bekal ciuman?" Wajah perempuan itu tak bisa dikondisikan lagi. Dia benar-benar malu dengan apa yang dikatakan oleh Alvaro.
"Heem, ada. Kamu saja yang belum tahu." Alvaro menundukkan wajah, menyatukan keningnya ke kening Azlina. Tangannya masih menggenggam erat kedua tangan perempuan itu dengan sorot mata lembut, tetapi mampu mengunci pandangan sang istri agar tetap menatapnya. "Aku janji akan segera membawamu kembali. Jangan dekat-dekat dengan pria lain selama aku sedang berjuang, ya! Aku ... cemburuan."
Azlina mengangguk sembari melebarkan senyum. "Kakak juga. Jangan sampai tergoda dengan Kak Meera lagi atau dengan wanita lain. Aku ... tidak suka."
__ADS_1
"Makanya sekarang aku butuh banyak dukungan darimu. Emm, ikut ke mobil, yuuk!"
Azlina melebarkan mata, lalu keningnya mengernyit bingung. "Untuk apa?"
Alvaro hanya tertawa kecil melihat ekspresi Azlina. "Kita ciuman di dalam mobil saja biar tidak ada yang mengganggu."
"Ih, Kakak!" Dia mencebik kesal, pikiran Alvaro hanya sebatas berciuman saja.
"Tidak suka, ya? Emm, kalau ke hotel sebentar bagaimana? Biar lebih nyaman kita melakukan ciuman perpisahannya?"
Azlina memukul dada Alvaro pelan, "Adanya Kakak minta yang lain nanti."
"Hahahaha." Lelaki itu tergelak, tak bisa menyembunyikan rasa geli mendengar penuturan Azlina. "Sudah ketahuan, ya?" Dia mengusap pipi perempuan itu, lalu melabuhkan kecupan hangat di kening. "Tapi, aku pasti benar-benar merindukanmu." Kedua tangannya menangkup pipi Azlina, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Kalau kangen, kita ketemuan di luar, ya? Aku janji akan secepatnya menyelesaikan masalah ini. Jangan nakal sama cowok!"
Sekali lagi bibir itu berlabuh di sana, hanya beberapa detik saja dengan sedikit menekan, lalu dilepaskan.
Mereka berpelukan setelahnya, disaksikan oleh satpam rumah sakit yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya menatap kesal karena dirinya masih belum memiliki pasangan.
__ADS_1
》Selamat Membaca đŸ¤—