Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
122. Jatuhkan Talak!


__ADS_3

Alvaro memukul-mukul setir mobil, merasa ceroboh melakukan banyak hal. Dia sempat menelepon rumahnya dan pelayan memgatakan jika Mama Rani sedang keluar bersama sopir pribadi dalam kondisi marah besar. Dia yakin jika Mama Rani sedang menuju rumah Azlina.


"Tuan Paderson menyuruh atasanku untuk memecatku karena alasan yang tidak jelas. Aku yakin jika semua itu karena aku mencintaimu."


Perkataan Almeera kepada Mama Rani yang tak mengakui alasan sebenarnya mengapa dirinya dipecat membuat sang Mama murka. Perempuan paruh baya itu merasa keluarga Azlina terlalu menekan calon menantu barunya sehingga merasa tak terima dengan perilaku mereka.


Alvaro mempercepat laju mobilnya, berharap masih bisa menahan sang Mama agar tak berbuat sesuatu yang membuat dirinya malu. Bagaimana jika mamanya menghina Azlina habis-habisan dan membuat hubungannya dengan sang istri semakin sulit?


Alvaro menggelengkan kepala, mengusir pikiran buruk terkait mamanya. Dia harus melerai atau bahkan menghentikan mamanya agar tak mencampuri urusannya lagi. Sungguh, pengaruh Almeera dengan sikap dan perkataan lembutnya sangat besar terhadap cara berpikir Mama Rani. Seolah-olah sang Mama telah dicuci otaknya dengan perkataan-perkataan lembut dan persuasif untuk menggiringnya melakukan hal sesuai kehendak Almeera.


Butuh waktu sekitar dua puluh menit akhirnya Alvaro mencapai depan rumah Azlina. Sesuai dugaannya, mobil Mama Rani sudah terparkir tak jauh dari rumah itu. Alvaro menghela napas kasar, menguatkan diri untuk menghadang badai yang sebentar lagi terjadi.

__ADS_1


Dengan terburu-buru, lelaki itu segera turun dari mobil, melangkah setengah berlari masuk ke dalam rumah Azlina yang pagarnya tak tertutup sempurna. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara histeris Bu Darmini mengusir seseorang.


Alvaro menelan ludah. Dia terlambat mencegah pertikaian itu terjadi karena semuanya terdengar sedang berada di puncak emosi. Hingga ketika kaki jenjangnya yang beralas sepatu berkilat menapak lantai ruang tamu Azlina, dengan mata kepala sendiri Alvaro melihat mamanya hampir menampar Azlina, tetapi segera dicegah oleh Bu Darmini.


Sebuah dorongan di tangan Bu Darmini membuat Mama Rani hampir terjatuh jika saja Alvaro tidak segera menahannya. Semua orang yang berada di rumah itu terkejut mendapati Alvaro sudah berada di tengah mereka. Namun, hal itu justru membuat Mama Rani berada di atas angin.


Wanita itu begitu bangga karena merasa Alvaro berada di pihaknya. Siapa yang bisa menerima seoeang ibu yang melahirkannya disakiti oleh orang lain. Pasti Alvaro marah melihat insiden yang baru saja terjadi.


Kepala lelaki itu menegak seketika, perkataan Mama Rani benar-benar mengguncang perasaannya. Dilihatnya air mata Azlina meleleh dengan lancar membasahi pipi yang tampak kemerahan itu. Ingin sekali dia memeluk perempuan itu, membawanya pergi dari ruangan tersebut, mengungsi berdua, meninggalkan keluarga besar dengan menjalani kehidupan berdua. Namun, tentu hal itu akan semakin melukai hati kedua orang tua mereka.


Keinginan untuk membahagiakan para sepuh, menjadi anak berbakti dengan tidak melawan kehendak orang tua justru membuat mereka tak bisa menemukan kebahagiaan sendiri.

__ADS_1


"Ma, sebaiknya kita pulang!" Alvaro melingkarkan tangannya di bahu Mama Rani, berusaha menghindarkan pertikaian lebih lanjut. Entah apa yang baru saja terjadi, sehingga semuanya tampak semakin rumit saja.


"Lakukan saja seperti apa kata mamamu. Ceraikan Azlina sekarang juga!" Pak Samsul akhirnya bersuara, membuat Alvaro semakin tersudut.


Hubungan yang secara mati-matian dia pertahankan, kini justru ditentang oleh kedua belah pihak. Semuanya ini terjadi karena Almeera. Entah apa saja yang telah perempuan itu katakan kepada Mama Rani, sehingga menjadi begitu murka dan anti kepada keluarga Azlina.


Mereka masih bersitegang dengan tatapan mengarah kepada Alvaro, menuntut keputusan lelaki itu. Namun, perhatian mereka teralihkan begitu Azlina pergi meninggalkan ruang tamu, berlari menaiki tangga untuk menuju kamarnya dengan menangis.


"Apa yang sebenarnya kalian inginkan?" Alvaro berucap tegas, merasa mereka semua sudah keterlaluan. Dia menatap semua orang secara bergantian dan berakhir pada Mama Rani. "Apakah kalian ingin anak kalian menderita? Jika kalian ingin kami menderita dan hal itu bisa membuat kalian puas, aku akan melakukannya!"


...***...

__ADS_1


Next, ya...


__ADS_2