Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
85. Kabur


__ADS_3

"Tentu saja di rumah. Memang mau ke mana lagi dia?"


"Benarkah?" Alvaro mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk, menatap Mama Rani penuh selidik. "Di rumah, tetapi tak menjengukku sama sekali. Tidak mungkin jika dia tak merindukanku."


Tatapan Alvaro yang tajam sempat membuat Mama Rani kelimpungan, tetapi perkataan Alvaro terkait Azlina yang tak pernah menjenguknya membuat perempuan paruh baya itu memiliki ide agar tidak disalahkan.


"Apa kau yakin dia mencintaimu? Al, Mama rasa istrimu tidak pernah mencintaimu. Mana mungkin ada istri yang tidak mau menjenguk suami yang sedang sakit, bukan? Atau mungkin dia tak pernah mencintaimu."


"Mama!"


"Ayolah, Al. Buka matamu! Azlina sama sekali tak pantas menyandang sebutan istri, bahkan dia tidak tahu apa-apa tentang suaminya." Mama Rani berupaya memprovokasi, mengutarakan niatnya sedikit demi sedikit agar Alvaro mau menceraikan Azlina.


"Apa yang sebenarnya ingin Mama katakan?" Tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada perempuan itu, Alvaro memilih menanyakan apa sebenarnya yang ingin mamanya katakan, karena setiap kalimat yang Mama Rani ucapkan mengandung teka-teki dan mengarah kepada hal yang tidak baik.


"Al, kau tahu, kan, jika Mama sangat menyayangimu? Mama tidak mungkin melakukan hal yang bisa melukaimu."


Alvaro semakin penasaran dengan arah pembahasan Mama Rani selanjutnya. Dia masih menatap penuh antusias dengan kalimat selanjutnya yang akan terucap dari bibir sang Mama.


"Mama ingin kau menceraikan istrimu secepatnya karena dia telah berselingkuh!"

__ADS_1


"Apa? Apa yang Mama tahu tentang Zizi?" Alvaro tak menyangka jika perceraian yang dibicarakan Mama Rani kepadanya. Padahal sebelumnya dia telah berjuang keras agar perceraian tidak terjadi dalam rumah tangganya, menahan perempuan itu untuk tetap menemaninya menjadi istri yang sesungguhnya.


"Istri yang begitu kau cintai, istri yang kau bangga-banggakan itu tidak lain hanya seorang gadis labil dan tukang selingkuh. Dia tidak pantas untuk bersanding denganmu, karena itu Mama sudah mengusirnya dari rumah."


"A-pa, Ma? Mama mengusirya?" Alvaro tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak. Pantas saja sejak sadarkan diri dia hanya memikirkan Azlina, merasa perempyan itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kini, instingnya sebagai suami telah terbukti, bahwa Azlina sedang dalam masalah.


Apa yang akan dia katakan kepada kedua mertuanya nanti mendapati putri bungsu kesayangan mereka telah diusir oleh mamanya sendiri.


Alvaro mengacak rambutnya frustrasi. Mengapa mamanya bertindak sendiri tanpa menunggu persetujuan darinya? Kepala Alvaro tiba-tiba merasa berdenyut kesakitan. Hingga dia tak tahan lagi dengan rasa sakit itu, membuatnya berteriak keras.


"Aaaarrggghhhh!"


"Suster, tolong anak saya!"


Perawat itu mengangguk, meminta izin mengambil alat suntik dan obat-obatan. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang tercengang. Belum sempat sang Suster mengambil perlengkapan medis, kejadian di depan mereka membuat situasi semakin panik.


Allvaro masih memegangi kepalanya sembari berteriak keras sebab merasakan dentuman yang menjadi-jadi, lelaki itu masih berusaha kuat menahan semuanya.


Di kepalanya saat ini hanya ada nama Azlina. Bayangan sang istri menyeret koper dengan wajah begitu menyedihkan terbayang-bayang di kepala pria itu..

__ADS_1


Tidak, dia tidak ingin kehilangan Zizi. Dia mencintainya, ingin hidup selamanya dengan perempuan itu. Hingga sikap implusif yang dilakukan Alvaro membuat semua orang tercengang.


Satu teriakan lantang bersamaan darah yang mengucur deras keluar dari bekas jarum infus yang tiba-tiba ditarik paksa oleh Alvaro membuat semua orang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Mama Rani berteriak histeris, melihat Alvaro nekat mencabut paksa jarum infus di lengannya. Dengan sigap perawat mengambil plester untuk direkatkan dengan sedikit menekan menggunakan kapas agar darah berhenti mengucur.


"Minggir!" teriak Alvaro lantang.


Lelaki itu dengan sedikit kesusahan akhirnya berdiri, melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangannya.


"Al, Alvaro, berhenti!"


Lelaki itu tak peduli. Dia tetap saja merangsek keluar dari ruang perawatannya meskipun tenaganya belum pulih benar. Kepala yang berdenyut keras tak dihiraukannya, tenaga yang lemah tak membuat dirinya berhenti melangkah.


Di kepalanya hanya ada satu nama dan satu wajah. Zizi, Zizi, Zizi, perempuan itu sedang menunggunya, menanti kedatangannya, menanti uluran tangannya.


Entah apa yang telah diucapkan oleh Mama Rani kepada sang istri, hingga perempuan itu pergi tanpa berpamitan kepadanya, tanpa menunggu dia tersadar dari koma.


"Al, berhenti! Jangan keras kepala! Kau belum pulih, Nak." Mama Rani berlari mengejar, tetapi pintu lift yang sudah dimasuki Alvaro menutup sebelum perempuan itu berhasil menyusulnya.

__ADS_1


"Aaal!" Mama Rani berteriak setelah gagal menghalangi Alvaro pergi. Dia semakin kesal melihat putranya lebih memilih perempuan murahan yang hobi berselingkuh daripada dirinya yang mamanya sendiri.


__ADS_2