
Ketika menjelang malam di saat Azlina baru selesai belajar untuk ujian keesokan harinya, Alvaro baru pulang bekerja. Lelaki itu segera masuk ke kamar tak mau membuang waktu untuk bertemu sang istri. Meskipun dia menahan diri untuk tak menunjukkan perasaannya sampai waktunya tiba, tetapi lelaki itu berusaha membuat Azlina semakin nyaman dengannya.
"Sudah selesai belajarnya?"
"Sudah, barusan." Azlina merapikan buku-bukunya. Bibirnya masih mengerucut mengingat kue yang membuatnya kesal sejak sore tadi.
Menyadari hal itu, Alvaro duduk di ranjang sambil melepaskan sepatu serta dasinya. "Kuenya masih ada? Atau habis kamu makan?"
"Ada di kulkas." Dengan malas Azlina menjawabnya.
"Bisa ambilkan? Aku ingin memakan kue itu. Sepertinya enak setelah melihat fotonya."
Bertambah panjanglah bibir Azlina, merasa Alvaro tidak peka dengan perasaannya. "Iya, sebentar. Aku ambilkan."
Gadis itu berlalu setelahnya, melangkah keluar kamar menuju dapur untuk mengambil kue pemberian Almeera. Dalam hati dia mengamini jika Almeera adalah sosok yang sempurna; cantik, anggun, dan pandai memasak. Sangat berkebalikan dengan dirinya yang hanya seorang bocah ingusan dan tidak memiliki keterampilan.
Dengan langkah malas Azlina kembali ke kamar sembari membawa kue yang diminta Alvaro. Terdengar suara gemericik dari arah kamar mandi pertanda jika Alvaro sedang membersihkan diri.
Gadis itu menduduki kursi di depan meja yang biasa digunakan sebagai belajar, menunggu lelaki itu keluar dari kamar mandi. Mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk, Azlina sekadar mengusir kebosanan yang melanda. Diliriknya kue itu dengan perasaan dongkol. Tidak ada yang salah dengan kue itu, pasti rasanya enak jika dilihat dari tekstur dan aromanya yang menggoda, tetapi si pembuatlah yang menjadi masalah.
Azlina merasa Almeera memang mulai menyukai Alvaro. Akan tetapi, bukannya perempuan itu tahu jika Alvaro sudah memiliki istri. Mengapa dia tidak risih dekat dengan pria beristri? Mungkin, Almeera sudah tahu jika hubungan Azlina dan Alvaro hanyalah sebatas hubungan settingan, pura-pura. Sehingga perempuan itu nekat mendekat kepada Alvaro setelah cintanya dengan Ren kandas di tengah jalan.
Mengapa secepat itu Almeera berpaling?
Apakah Alvaro hanya dijadikan pelampiasan atas rasa sakit hatinya terhadap Ren?
Azlina mulai khawatir akan hubungan Alvaro dengan Almeera, takut jika perempuan itu tak sungguh-sungguh mencintai Alvaro. Sehingga Azlina memutuskan untuk memperingatkan Alvaro agar meyakinkan perasaan Almeera terlebih dulu sebelum menikahi perempuan itu.
Sampai ketika pintu kamar mandi itu terbuka, Azlina belum juga menyadarinya. Gadis itu masih termenung dengan satu tangan menyangga dagu, sementara tangan yang lain berada di atas meja. Pandangannya tak beralih dari kotak kue yang diletakkan di meja itu, sementara pikirannya masih stagnan dalam lamunan.
Kesadaran Azlina segera kembali setelah sebuah kecupan mendarat di pipinya. Dia terkesiap dengan membelalakkan mata.
"Kakaaak!"
Yang dipanggil hanya tertawa. Sungguh wajah Azlina terlihat lucu dengan rona merah yang tak bisa disembunyikan.
__ADS_1
"Memikirkanku, 'kan?" Alvaro masih mengenakan bathrobe dengan rambut yang tampak basah habis keramas.
"Enggak, kata siapa?"
Alvaro menarik kursi untuk didekatkan di sisi kiri Azlina, lalu mendudukinya dengan tangan menumpu kepala yang menghadap gadis itu.
"Matamu yang mengatakannya."
"Eh!"
Azlina menggerak-gerakkan kelopak matanya, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alvaro. Mana mungkin matanya berbicara begitu, meskipun apa yang Alvaro katakan benar adanya.
Lelaki itu tersenyum, menyeret kotak kue yang masih tertutup tak tersentuh itu. "Bisa potong-potongkan?" pinta Alvaro dengan menyodorkan kotak kue itu ke depan Azlina.
Azlina menerimanya meskipun wajahnya mendadak kecut ketika dihadapkan pada kue itu lagi. Mengambil pisau yang sudah disediakan di dalam kotak tersebut, Azlina dengan cekatan memotong kue itu dalam bentuk kotak kecil-kecil. Dia menyodorkan potongan kue itu dengan menyeret box-nya ke depan Alvaro.
"Suapin!"
"Apa? Enggak mau." Dia menggeleng pelan.
"Tapi aku mau disuapin."
Alvaro menahan tangan Azlina dalam mulutnya setelah kue itu masuk dengan mengatupkan mulut yang masih terdapat jari telunjuk dan ibu jari sang istri, membuat Azlina membulatkan mata seketika.
"Lepas, deh, Kak. Jangan mulai lagi!"
Wajahnya bertambah merah, terlihat begitu menggemaskan. Alvaro segera melepaskan jemari itu dari mulutnya, lalu menatap Azlina dengan senyum mengembang. Rasanya dia sudah tidak bisa menahan diri untuk tak menyentuh sang istri.
"Kuenya enak."
"Ya, tidak perlu memamerkannya." Azlina berkata dengan kesal.
"Ayo, makanlah sedikit! Biar kamu tahu bagaimana rasanya."
Azlina menggeleng, tak melirik sedikit pun dengan kue yang memang tampak lezat menggoda itu. Namun, Alvaro tak tinggal diam. Lelaki itu menyuapkan satu potong kue itu ke mulut Azlina, memaksa gadis itu agar membuka mulutnya.
__ADS_1
Satu suapan berhasil masuk ke mulut Azlina. Kue itu seketika lumer di mulut, begitu lembut dan lezat. Azlina harus mengakui itu, meskipun pikirannya ingin mengelak.
"Enak, 'kan?" Mau tidak mau Azlina harus mengangguk. Memang rasanya enak, pasti dibuat dengan baham-bahan premium dan berkualitas.
"Pandai sekali yang membuat kue," imbuh Alvaro lagi.
"Sudahlah, Kak. Kakak makan aja. Aku mau tidur dulu." Azlina beranjak dari kursi itu, ingin segera tidur meninggalkan Alvaro yang tampak begitu menyukai kue pemberian Almeera. Entah mengapa Azlina merasa kesal jika Alvaro memuji pemberian perempuan itu, padahal dia juga mengakui apa yang dikatakan Alvaro benar adanya.
"Baiklah, aku juga ingin tidur." Alvaro ikut beranjak, meninggalkan kue itu begitu saja dalam keadaan terbuka.
"Lalu, kuenya?"
"Biarkan saja. Aku tidak bisa makan jika tidak ada yang menemani." Lelaki itu berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil piyama untuk dikenakannya.
Azlina merasa bersalah karenanya. Bukankah sebagai seorang istri harus menemani sang suami agar mau melanjutkan makannya jika sedang diminta? Akan tetapi, dia kesal jika Alvaro selalu memuji-muji si pembuat kue.
Matanya menatap ke arah Alvaro yang sudah selesai berganti pakaian. Lelaki itu hendak berbaring di ranjang dengan rambut yang masih basah. Azlina hanya menggelengkan kepala memperhatikan sikap lelaki itu yang lebih mirip anak kecil merajuk daripada seorang pria dewasa yang penuh karisma.
"Kau akan masuk angin jika tidur dengan rambut basah seperti itu." Azlina melangkah, mengambil handuk kering yang ada di kamar mandi. Lalu, dia duduk di ranjang sambil membawa handuk itu di tangan.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan apa yang akan Azlina lakukan setelah itu.
"Sini, biar aku keringkan!"
Lelaki itu mengulas senyum kemudian. Mencoba menuruti perkataan sang istri, dia duduk di karpet bulu tepat di bawah Azlina yang sedang duduk di atas ranjang.
Kini, Alvaro sudah berada di bawah Azlia dengan kedua kaki gadis itu mengapit tubuhnya. Azlina mulai mengusapkan handuk itu ke kepala Alvaro, sedikit memijit-mijitnya perlahan.
Rambut itu tidak terlalu tebal, bahkan cenderung lembut jika dikategorikan sebagai rambut laki-laki. Aromanya pun harum, menggelitik penciuman Azlina hingga gadis itu tak menyadari jika dia sudah mengendus bau rambut Alvaro dengan begitu dekat.
"Cium saja kalau kamu menginginkannya."
"A-apa?"
Alvaro menengadah, kepalanya bertumpu pada kedua paha Azlina. Lalu, menyunggingkan senyum yang menggoda. "Aku tampan, 'kan?"
__ADS_1
γNote :
Mohon maaf, telat update. Karena baru sempat setelah mudik beberpaa hari. Selamat membaca, ya. ππ