Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
99. Tinggal Terpisah


__ADS_3

"Jadi, pernikahan kalian hanya sandiwara?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir lelaki itu membuat Azlina makin menundukkan kepalanya. Pernyataan itu benar, tetapi juga tidak benar. Dia bingung harus menjawab apa.


Namun, berbeda dengan Alvaro. Lelaki jauh lebih tenang dari Azlina. Dia menegakkan kepalanya, menatap ke arah sang mertua yang sedang mengintrogasinya.


"Lebih tepatnya kami baru menyadari bahwa kami benar-benar saling mencintai. Kami baru sadar jika pernikahan ini adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan untuk kami. Dan tentunya kami akan berjuang untuk mempertahankan pernikahan ini apa pun yang terjadi."


Pak Samsul menghela napas, menoleh ke arah sang istri yang selalu setia menemani. Tangan perempuan itu menggenggam tangan sang suami, memberikan kekuatan untuk menghadapi semuanya dengan sabar.


"Berikan Azlina rumah yang nyaman, maka kau bisa membawanya lagi. Untuk saat ini, lebih baik kalian tinggal di rumah masing-masing."


Perkataan itu membuat Alvaro tercengang. Mana bisa dia tinggal terpisah dengan Azlina? Sehingga lelaki itu menggeleng tak menyetujui.


"Saya akan membeli apartemen untuk tempat kami tinggal, Pak. Atau saya bisa membeli rumah baru untuk Azlina tempati, tetapi saya tidak bisa jika tinggal terpisah dengannya."


Pak Samsul masih menunjukkan raut tegang di wajahnya, tetapi berusaha menerbitkan senyum tipis di bibir seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Bukan rumah seperti itu yang Bapak maksudkan. Rumah bukan hanya sebagai tempat bernaung dari panas dan hujan, bukan hanya tempat berlindung dari dinginnya malam. Rumah adalah tempat kita hidup, bersosialisasi dengan seluruh anggota di dalamnya. Dan rumah itu adalah keluarga."

__ADS_1


Pak Samsul menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatap lurus ke arah Alvaro. "Jika kamu benar-benar mencintai anak Bapak, buktikan! Kejar restu orang tuamu untuk menerima Azlina kembali. Bapak tidak ingin Azlina meneteskan air mata lagi karena sakit hati atas perlakuan yang telah dia dapatkan."


Alvaro menyadari apa yang dikatakan bapak mertuanya memang benar. Sebelum masalah Almeera hadir ke dalam biduk rumah tangganya, semua terlihat tenang dan membahagiakan. Dan apa yang terjadi saat ini juga karena kesalahannya. Dia memberikan celah untuk orang luar mengusik keutuhan rumah tangganya dan berakibat Azlina sebagai korban. Hubungan Azlina dan mamanya tak lagi bisa seperti dulu.


Tidak, bukan tidak bisa seperti dulu. Akan tetapi, Mama Rani belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia harus segera meluruskan permasalahan ini dan memulai hidup baru dengan sang istri.


"Jadi, apakah kau sanggup melakukannya?"


Dengan sungguh-sungguh, lelaki itu mengangguk. Sorot matanya memancarkan kesungguhan yang nyata. "Ya, saya akan melakukannya. Saya yakin bisa mendapatkan restu orang tua saya dan membawa Azlina kembali ke rumah yang akan menyambutnya dengan penuh suka cita."


"Bagus!" Pak Samsul mengulas senyum, lalu melanjutkan kalimatnya, "Mulai malam ini, sebaiknya kamu kembali ke rumahmu. Biar Azlina tidur di rumah Bapak."


"Ini untuk membuktikan keseriusanmu meluruskan masalah ini. Bapak ingin kalian bersama, tetapi dengan masalah yang sudah selesai diluruskan sehingga Azlina tak mengalami hal yang sama untuk yang kedua kalinya." Pria paruh baya itu menghela napas kemudian, bersikap tenang dan penuh wibawa. "Kamu boleh pulang sekarang!"


Tak ada alasan lain selain menyetujui. Meski sulit untuk berpisah, tetapi dia akan menunjukkan kepada sang mertua bahwa dirinya benar-benar serius dengan Azlina. Dia akan menyelesaikan masalah itu secepatnya dan membawa Azlina kembali dalam pelukannya.

__ADS_1


"Baik, saya setuju. Tapi, saya ingin bicara beberapa hal dengan Azlina sebelum kami berpisah."


Azlina hanya menunduk, tak berani menatap kedua orang tuanya. Meski ada rasa tak rela jika Alvaro berjauhan dengannya, tetapi tak ada yang bisa dia lakukan selain menyetujui. Begitu tangan Alvaro menggenggam tangannya, dia menengadah. Pandangan mereka saling bersitatap dalam beberapa detik. Lalu, lelaki itu tersenyum kepadanya membuat hati Azlina semakin pedih.


"Saya izin mengantar Kakak sampai depan!" ucap Azlina kepada kedua orang tuanya.


"Pergilah!"


Setelah mendengar perkataan Pak Samsul, Alvaro segera mengajak Azlina keluar dari ruangan itu, sedikit menarik sang istri untuk mengucapkan perpisahan sementara mereka.


Melewati koridor rumah sakit, mereka masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai bawah. Begitu pintu lift tertutup, Alvaro segera memeluk tubuh itu, mendekapnya.


"Kak!"


"Hemmm, aku pasti akan merindukanmu. Tapi, aku janji akan segera membawamu kembali."

__ADS_1


Azlina hanya bisa mengangguk dalam pelukan Alvaro. Dia memejamkan mata, meraskan begitu hangatnya pelukan itu, seolah-olah itu adalah pelukan terakhir mereka. Rasa tak rela untuk berpisah sangatlah besar, tetapi dia harus bisa menahan diri sesuai perintah orang tuanya untuk tidak membantah lagi.


》Lanjut, ya


__ADS_2