
Mungkin jika perjalanan panjang itu bisa dipersingkat dengan menggunakan pintu kemana saja milik Doraemon dan Alvaro bisa menyewanyanya meski harus merogoh biaya mahal sekalipun, akan ia lakukan. Namun, itu hanya sebuah angan yang tak mungkin terjadi.
Setiap detik yang bergulir dengan perasaan yang sudah tak sabar ingin segera bertemu membuat lelaki itu tak tahan jika harus duduk-duduk saja di dalam pesawat. Ingin sekali dia menelepon Azlina saat ini, tetapi hal itu tak mungkin terjadi karena akan mengganggu radar radiologi pesawat. Waktu dua puluh jam bukanlah waktu yang sedikit jika hanya digunakan untuk menunggu bersamaan perasaan yang sedari tadi gelisah serta cemas yang mendera.
Alvaro benar-benar gulana saat ini, tetapi dia hanya bisa menunggu agar segera sampai di tanah Eropa di mana istrinya sedang menunggu di sana.
...***...
Malam itu kian larut, tetapi tak juga mampu membuat perempuan itu terlelap dalam tidurnya. Ponsel di tangan sejak tadi dibuka olehnya, menanti panggilan Alvaro yang tak kunjung datang.
Sejak kemarin, ketika dirinya telah kembali ke unit apartemennya setelah tak sadarkan diri, Azlina melihat panggilan berulang-ulang yang dilakukan Alvaro kepadanya. Namun, sayangnya begitu dirinya ingin menghubungi lelaki itu, ponsel Alvaro tidak aktif. Sampai saat ini, ketika hari menjelang malam, dia tak mendapati pesan maupun panggilan telepon dari suaminya itu.
__ADS_1
Azlina melempar ponselnya ke atas kasur, membenamkan wajahnya di atas bantal. Kesal. Dia benar-benar kesal malam ini. Sudah sebulan lebih mereka berpisah dan hampir dua hari lelaki itu menghilang bagai ditelan bumi.
Azlina tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dia sudah begitu rindu, merindukan lelaki itu. Dia ingin memberi kabar tentang kehamilannya kali ini. Dia butuh dukungan akan hal berat yang akan dia lalui. Namun, Alvaro justru tidak ada, bahkan tak tahu sednag berada di mana.
Rasa kesal itu kian menjadi-jadi tatkala mengingat wajah Almeera. Apakah Almeera masuk kembali ke dalam kehidupan Alvaro? Tidak, tidak mungkin suaminya itu mengkhianatinya. Dia sudah memberikan segalanya kepada lelaki itu, bahkan kini ada anak dalam rahimnya yang mulai bertumbuh.
Azlina menyeka air matanya dengan kasar, tak suka dengan apa yang baru saja dia bayangkan terkait hubungan Alvaro dan Almeera. Dia percaya kepada lelaki itu, tetapi pikiran dan perasangka buruk itu masih saja membelenggunya sehingga air matanya tak bisa dihentikan mengalir deras membenam di atas bantal.
Tak selang berapa lama setelah Azlina tertidur, pintu kamar itu sedikit terbuka, dengan siluet tinggi tegap terlihat jelas dari kamar Azlina yang hanya diterangi cahaya lampu tidur. Sosok itu melangkah perlahan, berhenti ketika berada di dekat tubuh Azlina yang masih berbaring miring di atas ranjang. Dia duduk di samping perempuan itu, menyunggingkan senyum seraya membungkuk, menghadiahi kecupan hangat di dahi perempuan itu.
...***...
__ADS_1
Mata itu masih dalam posisi mengantuk, tetapi sedikit dia merasakan sesuatu yang merengkuh tubuhnya. Sebuah pelukan hangat yang telah lama dia rindukan, begitu hangat dan ... nyaman.
Siapakah yang telah memeluknya hingga dirinya tak sanggup untuk membuka mata? Apakah dia malaikat yang tiba-tiba datang lantaran kasihan terhadapnya karena kurang belaian kasih sayang? Jika benar itu malaikat, sebegitu menyedihkan kah dirinya?
Namun, mata itu masih terpejam, merasakan kehangatan akan pelukan yang membeius dirinya dalam kenyamanan dan ketenteraman.
...***...
》Baca sampai tamat, ya, Ges 😁😁
Lanjut ke bawah ...
__ADS_1