
Di rumah itu, dipenuhi ketegangan yang nyata di mana beberapa orang berkumpul dengan perasaan tegang bercampur marah.
Mama Rani mendatangi rumah Azlina untuk mencari Alvaro. Wanita itu dengan kemauannya sendiri tanpa melibatkan suami datang dengan sikap arogan ke kediaman Samsul Arifin, berteriak mencari putra semata wayangnya.
"Di mana kalian menyembunyikan putraku!"
Bu Darmini yang baru saja pulang dari surau terkejut dengan kehadiran sang besan, tetapi dengan raut yang berbeda. Tiada senyum ramah seperti pertama kali perempuan itu datang meminta Azlina untuk menjadi menantunya, tetapi hanya ada wajah masam penuh kemurkaan di sana.
"Bu Rani, apa yang terjadi? Mengapa mencari Alvaro ke sini?" Bu Darmini masih mencoba sabar untuk menguasai keadaan. Tak mungkin membuat keributan di rumahnya sendiri, karena tetangga pasti akan kepo dengan urusan keluarganya.
"Jangan sok tidak tahu apa-apa! Suruh Alvaro keluar!" Dengan nada berapi-api, perempuan itu berteriak. Pak Samsul pun keluar dari kamarnya mendengar keributan itu, padahal kondisi pria itu sedang tidak sehat.
"Ada apa, Bu? Bicarakan baik-baik. Dua hari yang lalu Alvaro memang ke sini, tetapi dia segera pergi. Bahkan, kami sudah beberapa minggu tak melihat putri kami Azlina. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Wanita itu masih saja tak melepas raut kesal di wajahnya kendati Pak Samsul dan Bu Darmini berusaha mencoba bersikap sabar dan ramah.
"Kalian seharusnya tahu dengan apa yang dilakukan oleh putri kesayangan kalian! Putraku koma selama tujuh hari karena kesalahan Azlina. Dia meracuni makanan anakku. Bukan hanya itu, putri yang selama ini kalian bangga-banggakan ternyata tukang selingkuh. Dia berselingkuh di belakang Alvaro tanpa tahu malu. Apa itu yang kalian ajarkan selama ini? Hah?"
Perkataan Nyonya Rani sangatlah tajam. Bagai belati yang baru diasah, lalu menusuk tepat di jantung, tak memberi kesempatan lawan bicaranya beradu argumen.
"Tidak mungkin. Azlina tidak mungkin melakukan itu!" Pak Samsul terlihat memegangi dadanya. Ada rasa sesak yang menerjang jiwa, mengetahui jika putri bungsu kesayangannya dituduh melakukan perbuatan hina seperti itu. "Pasti ada kesalahpahaman. Tolong jangan merendahkan putri kami seperti itu!"
Bu Darmini segera menghampiri suaminya, menopang tubuh pria paruh baya itu sembari berkata, "Sabar, Pak. Tenang!" Tangannya mengusap-usap dada sang suami, menenangkannya agar tidak terbawa emosi.
"Itulah kenyataannya. Putri kalian hanyalah seorang pezina!"
"Cukup!" Pak Samsul berteriak, tak terima dengan hinaan yang begitu rendah yang ditujukan kepada Azlina. Bersamaan dengan itu, Nyonya Rani melemparkan beberapa lembar foto yang sengaja dia cetak. Foto itu terlempar, berhamburan, dan berserakan di depan Pak Samsul juga Bu Darmini.
__ADS_1
Mereka melihat foto-foto kebersamaan Azlina bersama Elang yang sengaja ber-wefie foto untuk dipasang di media sosial milik Elang. Kedua orang tua itu menitikkan air mata, melihat apa yang tersaji di depan mata.
Nyonya Rani tampak tersenyum mengejek, merendahkan Azlina di depan kedua besannya. "Begitulah kelakuan putri kalian di belakang putraku. Bagaimana kalian mendidik anak sehingga memiliki akhlak buruk seperti itu." Matanya menatap sinis ke arah kedua orang tua Azlina, lalu melanjutkan kalimat yang membuat mereka tercengang. "Bahkan, Alvaro rela kabur dari rumah sakit hanya untuk mencari putri kalian yang sudah kuusir dari rumah!"
"Apa? Diusir?!" Pak Samsul semakin terdesak, dadanya kian sesak memikirkan nasib Azlina. "Mengapa harus diusir, Bu? Saya sudah mengatakan sebelumnya, jika kalian sudah tidak menginginkan putri kami, maka kembalikan! Jangan diusir seperti itu! Ya Allah, bagaimana nasib putri kita, Buk?"
"Pak, sabar, Pak!" Bu Darmini mencoba menenangkan suaminya, bagaimanapun kondisi suaminya sedang tidak baik-baik saja. Berita mengejutkan yang diterimanya sore ini begitu mengejutkan, membiat Bu Darmini begitu mencemaskan kondisi sang suami juga Azlina.
"Lantas, saya harus apa? Mengantarkan dia kembali ke sini? Anak saya masuk rumah sakit gara-gara dia dan dia ketahuan selingkuh, apakah saya harus berbaik hati mengantarkan dia kembali pulang? Apa yang kalian pikirkan! Orang tua dengan anak sama saja!"
"Cukup, Bu Rani!" Bu Darmini berteriak, menghentikan cacian yang mungkin akan keluar lebih banyak dari mulut perempuan itu. "Azlina dan Alvaro tidak ada di rumah ini. Sebaiknya sekarang Bu Rani segera pergi dari rumah ini!"
"Kalian mengusir saya?" Wanita itu menggeleng tak percaya. "Saya pastikan Alvaro akan menceraikan putri kalian tanpa memberikan harta gono gini kepadanya."
"Kami tidak butuh harta itu. Silakan keluar dari rumah ini!" teriak Bu Darmini dengan menudingkan telunjuknya ke arah pintu.
"Buk, telepon kakak-kakaknya! Suruh mereka pulang untuk mencari Azlina, Buk. Bapak sangat mencemaskan anak itu. Ya Allah, ujian apalagi yang Engkau berikan kepada putri kami." Pak Samsul berkata sambil menahan tangannya di dada, menahan rasa sakit yang menggebu di dada.
Entah apa yang sudah dilakukan Azlina, yang jelas sebagai orang tua, mereka lebih mementingkan keselamatan Azlina daripada menghakimi kesalahan putri mereka yang belum jelas kebenarannya.
...***...
"Dingin, ya, Kak?"
Azlina datang sembari membawa dua cangkir teh hangat untuk diletakkan di atas meja di depan Alvaro. Lelaki itu tersenyum, meraih tangan Azlina untuk menggiring perempuan itu duduk di sofa berdekatan dengannya. Jemari itu terasa dingin, sangat kontras dengan suhu air yang ada di cangkir dengan asap mengepul di atasnya.
"Masih sakit itunya?"
__ADS_1
Dia mengangguk, tak bisa menyembunyikan rona merah di wajah. "Kakak bilang tidak akan sakit." Disesapnya teh hangat itu, meredakan rasa dingin yang menyeruak tubuh.
Tangan Alvaro memeluk tubuh itu, mendekapnya dengan lembut. Pipinya mengusap ke pipi sang istri, menyalurkan hawa panas menghangatkan tubuh yang kedinginan. "Masih sekali. Kalau berkali-kali, kamu akan ketagihan."
"Heem, tidak mungkin." Azlina menggeleng, membuat gerakan menggesek di pipi Alvaro.
"Aku akan buktikan jika perkataanku itu benar. Kamu pasti akan ketagihan jika kita mencobanya lagi." Suara Alvaro terdengar lembut, menguarkan hawa panas di telinga Azlina. Lelaki itu tampaknya ingin memancing gaìrah sang istri yang belum mengerti apa-apa. Akan tetapi, Azlina belum juga faham maksud Alvaro sekalipun tubuhnya meremang ketika Alvaro berbisik di telinganya.
"Aku belum bisa mencuci spreinya. Jangan sampai ketahuan Mbak Asri. Yang Kakak pakai itu kamar mereka."
Alvaro tertawa kecil, semakin eratlah pelukan itu, mendekap tubuh langsing sang istri. "Jangan cemaskan itu. Besok kita ganti spreinya dengan yang baru." Tangannya mengambil cangkir teh hangat itu, lalu disesapnya sebelum airnya dingin, menciptakan sensai hangat di tenggorokan juga tubuhnya. "Malam ini, kita coba lagi, ya? Siapa tahu sudah enggak sakit?"
Dengan suara manja yang langgam, perempuan itu meneriaki Alvaro, "Kakak!" Mata bulatnya melebar begitu merasakan pipinya dikecup lelaki itu.
"Kalau kamu enggak ketagihan, mungkin aku yang sudah ketagihan." Alvaro terkekeh kemudian, tak henti-henti mencium pipi sang istri yang sudah semerah tomat.
"Kakak kuat mandi pagi-pagi. Di sini dingin, loh, Kak. Enggak ada pemanas air di kamar mandi."
Alvaro tampak berpikir. Benar juga, di sini sangat dingin, sangat cocok jika digunakan untuk memadu kasih, melakukan malam panas yang menggairahkan, tetapi dia juga tak sanggup mandi menggunakan air dingin di udara yang menusuk tulang seperti ini.
Namun, Alvaro tetaplah Alvaro. Dia tak mungkin kalah dengan hawa dingin di pegunungan. Niatnya yang begitu mulia tak mungkin tertahan hanya karena suhu udara yang tak mendukung. Dia tersenyum setelahnya, lalu mengusap rambut Azlina. "Ayo bersiap! Kita menginap di hotel sajalah."
"Apa?"
"Besok kita kembali ke sini. Yuk, berangkat. Aku ... sudah tidak bisa menahannya lagi."
》Lanjutannya sore, ya.
__ADS_1
Makasih, yg udah ninggalin jejak. Hanya bisa bilang makasih, tidak bisa memberikan apa-apa. 😁