
Jelas saja Almeera merasakan semua itu mustahil untuk terkuak, karena semua orang yang terlibat di dalamnya telah menutup rapat mulut mereka, dan melenyapkan segala bukti yang ada. Namun, ketika melihat semua bukti berada dalam tangannya cukup membuktikan jika usaha mereka semua dalam menenggelamkan bukti ternyata sia-sia belaka.
"Bangkai meskipun ditimbun dan disiram dengan wewangian, baunya masih saja tercium, Nona Almeera." Sean akhirnya ikut bersuara, membuat wajah perempuan itu kian pasi.
Almeera kini tak sanggup hanya untuk bersuara. Lidahnya bertambah kelu meski hanya sekadar mengatakan tidak. Sampai ketika Mr. Richard kembali menanyainya, membuat perempuan itu harus berusaha keras mencari jawaban.
"Apakah kau terlibat di dalamnya, Almeera?"
"Sa-saya tidak tahu apa-apa mengenai ini, Pak. Saya merasa sedang dijebak."
Almeera tak memiliki jawaban yang bisa menolongnya sehingga dia hanya melakukan playing victim untuk menyelamatkan posisinya saat ini. Namun, sayangnya dia tak mengenal sosok yang sedang dihadapinya.
Sean beranjak dari duduknya, berdiri, melangkah mendekat ke arah Almeera, membuat perempuan itu segera mengambil jarak aman dengan sedikit menjauh.
"Mungkin kau memang tidak tahu apa-apa, Nona Almeera. Karena dua orang ini memanipulatif bukan hanya data-data, tetapi juga situasi dan kondisi serta bukti-bukti. Akan tetapi, sangat janggal jika dari banyak staf keuangan yang mumpuni, hanya kau yang terpilih. Kau yang saat itu baru tiga bulan bekerja dengan cepat diangkat sebagai Manager keuangan menggantikan Manager Keuangan yang lama. Bukankah itu hal yang sangat aneh?"
Tidak setuju dengan ucapan Sean, Almeera berusaha mengelak perkataan lelaki itu. "Aneh? Apanya yang aneh? Mungkin ... mereka menganggapku cukup kompeten sehingga memberiku kesempatan untuk mengemban posisi penting tersebut."
__ADS_1
Sean mengangguk sembari tersenyum miring. Wajahnya terlihat penuh teka-teki dan pastinya membuat Almeera semakin waswas akan apa yang lelaki itu utarakan selanjutnya.
"Karena dengan mengangkatmu sebagai Manager Keuangan justru membuat kebusukan mereka mudah terkuak. Sebelum bukti penting lain aku tunjukkan dan membuatmu malu, sebaiknya kau mengakui semuanya!" ucap Sean dengan penuh penekanan.
Perkataan Sean membuat perempuan itu gemetar. Jangankan rasa percaya diri dan kesombongan serta keangkuhan yang selama ini dia banggakan, kesanggupan untuk berdiri tegak sambil menatap manik biru yang menatapnya tajam seperti sedang menguliti dirinya saja, dia merasa tak mampu. Apalagi di ruangan tersebut dia tak memiliki satu orang pun yang bisa membela atau sekadar dijadikan kambing hitam. Tenggorokannya terasa tertahan ketika ingin mengucapkan sesuatu.
Namun, kendati rasa gugup serta takut sudah menyelimuti, membelenggu dirinya, tetap saja Almeera harus bjsa menguasai keadaan agar dirinya tidak terlalu terdesak dan menghancurkan segala reputasi yang sudah dia bangun sejak lama.
"Sa-ya ... tidak tahu apa-apa. Jangan memaksa saya mengakui hal yang tidak saya lakukan! Lagipula Manager yang lama dipecat juga karena keputusan Anda 'kan, Pak Richard?"
Mr. Richard mengangguk, tetapi tetap saja alasan Sean sangat logis dengan melihat bukti-bukti yang sudah dikumpulkan. Sehingga lelaki berusia lima puluh tahun itu menjawab dengan lugas. "Jika kamu memang kompeten, mengapa Direktur Keuangan perusahaan ikut andil mengerjakan perkerjaanmu, Almeera. Itu semua terjadi karena kalian bersekongkol menjebak Manager Keuangan lama agar kedok manupulatif data dan korupsi kalian tak terendus hingga ke lingkup teratas!"
...***...
Alvaro mengecek sebuah email dari nama baru. Email tersebut tidak terdapat dalam daftar kontaknya, tetapi dia bisa memastikan siapa yang tengah mengirimkan email tersebut dari nama yang tertera di sana.
Tidak salah lagi, itu adalah email dari Sean Paderson. Bukan email perusahaan, melainkan email pribadi.
__ADS_1
Alvaro mengernyitkan kening, karena tidak biasanya dia mendapatkan email dari lelaki itu. Segera dibukanya email tersebut yang ternyata berisi link beberapa rekaman video.
Tanpa membuang waktu, Alvaro segera men-download semua rekaman video tersebut karena sudah sangat penasaran. Hanya butuh belasan menit saja, semua video itu berhasil diunduh.
Satu per satu video tersebut dibuka dengan segera oleh Alvaro. Dan dirinya begitu tercengang melihat apa yang dikirimkan oleh Sean Paderson kepadanya. Sebuah rekaman CCTV scandal Almeera dengan seseorang yang entah siapa itu.
Dia tersenyum kemudian, mendapatkan bukti penting yang bisa menguatkan alasannya untuk menolak permintaan mamanya menikahi Almeera. Namun, ada hal yang masih menjadi tanda tanya. Siapakah lelaki yang sedang bersama Almeera tersebut?
Sebuah email baru masuk setelah beberapa saat dia menyelesaikan mengunduh dan memutar video tersebut. Sebuah email dari pengirim yang sama mengantre untuk dibuka. Alvaro tak banyak berpikir lagi, karena tangannya segera mengarahkan kursor untuk membuka email tersebut dari laptopnya.
[Cari tahu tentang pria itu!]
Sebuah pesan singkat yang berisi perintah sekaligus petunjuk itu membuat Alvaro lebih bersemangat lagi. Titik terang mulai muncul untuk menyatukan keluarganya dan keluarga Azlina. Dia bisa membawa Azlina kembali ke rumahnya, membuka mata Mama Rani akan siapa yang sebenarnya layak dipertahankan dan mana yang seharusnya dibuang.
》Maaf dikit. Ada tamu, jd gak enak pegang HP terus ðŸ¤
Terima kasih, ya, yg sudah ngasih komentar lucu2. 😀😀
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini.
Salam sayang selalu.