Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
24. Pelukan Hangat


__ADS_3

Gemerlap pendaran lampu tengah kota tak membuat para penduduknya menikmati akan keindahannya. Semerbak wangi bunga sedap malam yang telah tertanam di sisi tengah jalanan taman kota tak membuat pengguna jalan menikmati ranumnnya. Pun sama hal yang terjadi dengan Azlina saat ini.


Hari pernikahan yang seharusnya disenangi dan ditunggu-tunggu oleh seorang lajang, tak membuatnya ikut larut akan kebahagiaan yang harusnya dia rasakan.


Sesaat dirinya masuk ke dalam mobil pengantin yang mengantarkannya keluar dari rumah yang selama ini menjadi tempatnya berpulang, hatinya merasa tidak rela. Seolah-olah kebahagiaan dan kebebasan yang selama ini dia dapatkan terenggut secara paksa. Dia bahkan merasa berat harus keluar dari rumah itu, meninggalkan kedua orang tua serta kedua kakak laki-lakinya, Ahsan dan Alfatih, yang acapkali mengganggunya.


Dia masih menatap kaca spion mobil di mana jalan area belakang mobil terpampang jelas di sana. Seakan hatinya masih terpaut di sana, jalan kembali ke rumahnya.


Dia masih terpaku dalam lamunan, mengingat satu per satu kenangan saat dia masih berada dalam rumah itu, rumah yang tak terlalu besar, tetapi penuh akan kenangan dan kebahagiaan. Hingga seseorang di sampingnya menggenggam jemarinya lembut, dia menoleh.


"Kak!"



"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alvaro lembut, mengusap punggung tangan Azlina.



"Apakah yang kita lakukan sudah benar? Mengapa perasaanku menjadi takut?"

__ADS_1


Alvaro tersenyum kemudian, mengerti apa yang dirasakan oleh gadis itu. Hingga sebuah penyangkalan diutarakan tanpa berpikir lagi


"Bukankah pernikahan adalah hal yang baik, mampu menjaga kehormatan seorang wanita juga nama baiknya. Seharusnya tiada yang salah dengan apa yang kita lakukan."


"Benarkah? Bukankah kita tidak menikah seperti kebanyakan orang lakukan? Apakah kita tidak berdosa melakukan ini?"


Azlina menatap Alvaro dengan penuh tanya dan keingintahuan, tetapi Alvaro melihat hal lain dari tatapan gadis itu. Azlina ternyata benar-benar cantik, apalagi sorot mata yang masih polos itu tak bisa menampik pesonanya. Sayangnya, dia masih terikat janji kesepakatan, bahwa dia tak akan menyentuh Azlina sampai mereka benar-benar ingin saling memiliki.


Bukankah Alvaro mencintai Almeera? Apakah perasaannya mulai goyah dengan perempuan itu dan beralih kepada Azlina? Tidak, Alvaro masih menginginkan Almeera, perempuan yang sangat sulit dia taklukan, mengingatkan dia pada sosok Salwa, kakak Azlina yang sempat memiliki hatinya. Saat ini, Alvaro hanya terpesona dengan sosok di sampingnya yang sebenarnya telah halal untuk dimiliki seutuhnya.



Azlina mengangguk kemudian, twk mengalihkan perhatiannya dari Alvaro.


"Benarkah? Emm, apakah aku boleh memeluk Kakak? Aku ... tiba-tiba merindukan orang tuaku."



"Eh, apa?" Alvaro tampak terkejut dengan permintaan Azlina. Pelukan? Hai, itu bisa sangat berbahaya untuknya. Bagaimana pun dia laki-laki normal yang akan tergoda dengan tubuh molek nan cantik di sampingnya.

__ADS_1


Jika saja tidak ada keinginan untuk memperjuangkan cintanya kepada Almeera, Alvaro tak akan segan dan tak mau membuang waktu untuk menerjang istri kecilnya itu di malam pengantinnya. Akan tetapi, dia tak ingin merusak Azlina. Dia akan menjaga kehormatan gadis itu sampai menemukan pria yang benar-benar mencintainya.


"Ah, sudahlah, lupakan! Maaf, permintaanku sangat konyol."


Azlina mengalihkan pandangannya keluar jendela. Matanya tampak berkaca-kaca, bukan karena penolakan dari Alvaro, tetapi saat ini dia merasa sendiri. Pergi ke tempat asing dan dikelilingi oleh orang-orang asing. Hati dan jiwanya merasa kesepian, tetapi tak ada seorang pun yang mau memahami kondisi psikisnya. Sampai di detik ketika dia hampir mengusap air mata yang sempat keluar dari sudut matanya, sebuah tangan menariknya. Azlina merasakan tubuhnya didekap dengan erat oleh seseorang di sampingnya.


"Kak!"



"Jangan anggap aku orang asing. Kau bisa menganggapku sebagai kakakmu. Bukankah kita partner?" ucap Alvaro dengan sebuah kecupan hangat berlabuh di puncak kepala gadis itu.



Senyuman kecil tampak indah terlihat di bibir Azlina. Gadis itu membalas pelukan Alvaro dengan memejamkan mata. Entah hubungan seperti apa yang akan mereka jalani, setidaknya awal yang baik akan memudahkan keduanya menjalani mahligai pernikahan tanpa rasa canggung dan juga permusuhan.


"Ehhmm, terima kasih, Kak."


》masih ada satu lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak. ☺☺

__ADS_1


__ADS_2