Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
115. Diusir


__ADS_3

Di ruangan itu sudah berjajar beberapa orang dengan air muka terlihat serius dan penuh ketegangan. Azlina meremas kedua tangannya gugup, duduk bersebelahan dengan Alvaro. Sementara di seberang mereka sudah ada Pak Samsul dan Bu Darmini yang siap memberikan ceramah panjang kepada mereka.


Bu Darmini yang sebelumnya akan pergi ke surau untuk melaksanakan salat Subuh pun memutuskan salat di rumah agar segera bisa menceramahi kedua orang tersebut.


"Maksudmu apa datang sembunyi-sembunyi begitu? Datang ke rumah seseorang ada etikanya, bukan seperti maling begitu." Pak Samsul memulai membuka percakapan dengan wajah marah yang terlihat begitu jelas.


Alvaro dan Azlina hanya menunduk. Lebih baik menjadi pendengar yang baik daripada harus mendebat kedua orang tua itu.


"Sekarang, apakah kamu sudah bisa meyakinkan mamamu untuk menerima Azlina kembali? Apakah ada kemajuan atas usahamu seminggu ini?"


Alvaro masih bergeming, kepalanya tetap menunduk tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan mertuanya. Usahanya memang belum ada kemajuan yang berarti. Mama Rani justru meminta Almeera untuk membujuk dirinya agar mau keluar kamar. Perempuan yang melahirkannya itu sampai saat ini belum memiliki niatan untuk mengajak Azlina kembali ke rumahnya.


"Belum ada kemajuan, 'kan? Lantas, kamu mau memberi harapan palsu untuk putriku?"


Alvaro buru-buru menggelengkan kepala. Dia tidak memiliki niat seperti itu, bahkan tak sempat tebersit dalam kepalanya akan meninggalkan Azlina, karena dia sangat mencintai istrinya itu. "Kami saling mencintai, Pak. Tidak mungkin saya melakukan itu kepada Azlina, Saya sedang berusaha."

__ADS_1


Pria paruh baya itu menghela napas kasar, tangannya mengusap kening yang mulai terasa pusing memikirkan nasib rumah tangga putri bungsunya itu. Sejenak dia terdiam, meenatap secara bergantian Azlina dan Alvaro, lalu melanjutkan kalimatnya. "Sampai kapan? Apa kau tahu apa yang telah dilakukn mamamu kepadanya?"


Bola mata Alvaro yang semula tak mampu menatap bapak mertuanya kini langsung menghadap ke arah pria paruh baya itu, menanggapi dengan serius dan penuh tanda tanya tentang hal yang mungkin tidak dia ketahui.


Namun, bukan Pak Samsul yang menjawab pertanyaan Alvaro, melainkan Bu Darmini. Wanita itu kini tampak bersungut-sungut seolah-olah sedang menumpahkan rasa kesal dan sakit hati yang sebelumnya dia pendam.


"Mamamu memperkenalkan Almeera di depan semua orang sebagai calon menantunya, dan itu berarti dia akan menjadi istrimu. Dia mempermalukan Azlina, istri sahmu, lalu lebih memilih Almeera yang lebih cantik, berpendidikan tinggi, dan memiliki karier cemerlang. Ibuk tidak rela jika Azlina tinggal dengan seseorang yang tidak menganggapnya. Kamu tahu bagaimana perasaan seorang istri jika mertuanya membanding-bandingkan dirinya dengan perempuan lain, apalagi perempuan itu lebih segalanya dibanding dia?"


Perkataan Bu Darmini begitu runtut dan terdengar menyakitkan. Sungguh, orang tua mana sanggup melihat putrinya dipermalukan dan dihina seperti itu, meskipun semuanya tahu bahwa apa yang terjadi selama ini hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka.


"Maaf, Buk." Hanya itu yang mampu Alvaro katakan. Dia tak menyangka jika mamanya berbuat senekat itu. Kebungkaman mamanya selama ini ternyata memberikan dampak buruk terhadap cara berpikir perempuan itu. Bukannya menjadi lebih baik, tetapi justru melakukan hal-hal yang tidak bisa dibenarkan.


Alvaro beralih menatap Azlina, digenggamnya tangan sang istri lembut, lalu menyunggingkan senyum penuh permintamaafan. Tatapan lelaki itu sayu, merasa tak enak juga tak berdaya, tak mampu mengontrol sikap mamanya yang sudah kelewat batas.


Tanpa saling bicara, hanya dengan isyarat mata Azlina dan Alvaro bisa memahami isi hati masing-masing. Azlina mengangguk, menanggapi tatapan lelaki itu yang merasa tak enak kepadanya. Jika dua hati telah saling terpaut, tanpa ucapan atau ungkapan, keduanya bisa memahami perasaan.

__ADS_1


"Sekarang pulanglah! Selesaikan masalahmu!"


Kalimat perintah yang sarat akan pengusiran itu membuat Alvaro melepaskan pandangannya dari Azlina.


"Saya berjanji akan menjemput Azlina secepatnya dari sini. Saya tidak akan mengecewakan kalian. Beri saya waktu sedikit lagi, karena saya sendiri tak bisa hidup jauh darinya." Alvaro berdehem sejenak, untuk kemudian meminta izin kepada sang mertua. "Apakah saya bisa pinjam kamar mandinya sebentar. Saya belum salat."


"Kamu bisa ke surau. Di sana ada kamar mandi dan alat salat lengkap." Bu Darmini benar-benar ingin Alvaro segera pergi, tetapi lelaki itu tetap kekeh meminjam kamar mandi di rumahnya.


"Tapi, saya harus mandi ... besar," ucap Alvaro sedikit ragu dan hal itu cukup membuat Bu Darmini dan Pak Samsul terkejut.


"Apa?!" Tatapan Bu Darmini beralih ke arah Azlina, lalu menggeleng perlahan. "Jadi semalam kalian ...."


Alvaro tampak meringis, sementara Azlina hanya menunduk tak bisa menunjukkan ekspresi apa pun karena begitu malu ketahuan diam-diam berhubungan badan dengan Alvaro.


"Ya sudah, buruan mandi sana, sebelum habis waktu subuh!" perintah Bu Darmini kemudian kepada Alvaro dan Azlina.

__ADS_1


Perempuan itu mengangguk, lalu beranjak berdiri dari duduknya ingin segera pergi ke kamar mandi. Alvaro pun turut mengikuti, dengan tidak tahu malu lelaki itu berkata, "Zi, mandinya bareng, yuuk!"


Namun, perkataan Alvaro justru dibalas dengan teriakan Pak Samsul. "Jangan mengada-ada. Mandi sendiri-sendiri, lalu pulang!"


__ADS_2