Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
36. Pangeran Negeri Dongeng


__ADS_3

"Al!" Almeera meninggikan suaranya, tetapi Alvaro masih bersikap tenang.


"Itu kenyataan, Ra. Jika sebuah hubungan tak membuatmu bahagia, bagaimana kau akan menjalani semua itu dalam rentan waktu yang lama?"


Almeera tampak menunduk, dia tak tahu harus berkata apa, karena selama ini hanya sedikit kebahagiaan yang dia dapatkan dari Ren, sedangkan sisanya hanyalah rasa sakit hati.


...***...


Lulu masih menarik lengan Azlina dengan tidak sabar agar segera sampai ke tempat Elang dan kawan-kawannya. Pria itu tampak berbincang dengan Airin, sekretaris kelas mereka.


"Lihat, Na. Kamu sih kelamaan. Itu si Ay sudah gerak cepat buat narik perhatian Elang." Lulu masih mengomel dengan tetap menarik lengan Azlina. Gadis itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang merasa tidak rela jika si Airin selangkah lebih gesit daripada dirinya.



Langkah mereka terhenti ketika sudah berada di depan sekelompok pria berbadan atletis itu. Dan pandangan Azlina mengarah ke satu orang, Elang.



"Malam semua!" Lulu menyapa semua orang yang sedang bersenda gurau itu, membuat pandangan semua orang beralih pada mereka berdua. Senyum terbaik ditampilkan oleh Lulu mengharap salah satu di antara mereka akan takluk dengan wajah manisnya itu.



"Malam. Kalian datang juga," ucap salah seorang teman sekelas Azlina.



"Tentu saja. Mana mungkin kami melewatkan acara seperti ini. Iya, kan, Na?"



Azlina hanya mengangguk saja, tanpa mengucapkan sepatah kata. Sementara Lulu saat ini sudah sibuk membaur dengan teman-teman yang lain, Azlina hanya berdiam diri di belakang gadis itu.



Airin yang menganggap Lulu dan Azlina hanyalah angin lalu yang tidak patut mendapat perhatian, tampak mengambil alih kendali. Dia mengajak Elang mengobrol lagi, tetapi lelaki itu sama sekali tak menggubrisnya. Pandangan Elang masih bersua dengan sosok yang berada di belakang Lulu yang kini juga sedang menatapnya.


Azlina terlihat tersenyum tipis dengan sedikit mengangguk, seolah-olah memberi isyarat sapaan kepada Elang.


Senyuman itu ternyata mampu menarik perhatian Elang, sehingga dia mengabaikan Airin yang sejak tadi mencari perhatiannya, lalu memilih menghampiri Azlina.



"Hai!" sapa Elang kepada Azlina.

__ADS_1



Lelaki itu mengenakan kemeja slim fit yang begitu pas di badan, mengikuti lekuk tubuh atletisnya dengan tiga kancing atas dibiarkan terbuka. Senyumannya begitu menawan, bak pangeran dari negeri dongeng yang duduk di atas pelana, lalu turun dari atas kuda putih menyambut sang putri. Dia mengangsurkan tangannya ke arah Azlina untuk sekadar memberi ucapan selamat datang.



"Hai!" Azlina menyambut uluran tangan Elang. "Selamat, ya, atas kesuksesan tim kamu."



"Yeah, terima kasih. Aku senang akhirnya kau mau datang."



Azlina menggeleng, senyuman tak pernah luput dari bibir mungilnya. "Tidak. Harusnya aku yang berterima kasih karena kau mau mengundangku."



Sejenak keduanya saling beradu pandang dengan senyum yang terus melekat di bibir. Seolah-olah waktu berhenti berputar, hanya ada Azlina dan Elang. Detak jantung Azlina mulai berdegup lebih kencang. Senyuman itu seakan sanggup menghipnotisnya dalam waktu cukup singkat. Hingga suara deheman dari sebelah Azlina, menyadarkan keduanya.


"Ehem, sudah kali salamannya." Suara cempreng Lulu yang terdengar menyindir Azlina dan Elang membuat keduanya segera melepas jabatan tangan itu.


Mereka tampak tertawa kemudian, mentertawakan sikap malu-malu Azlina dan Elang. "Mending kalian jadian, deh! Gak usah malu-malu kayak gitu." Salah seorang teman Elang yang merupakan anggota tim basket kelas profesional memberi usul.



"Namanya juga usaha," ucap Lulu, tersenyum kecut setelah mendapat sorakan dari banyak orang.



Airin yang merasa diabaikan tidak tinggal diam. Dia menghampiri Azlina dan Elang yang tampak berbincang di pinggir kolam. Dia berdecih melihat sikap Azlina yang sok malu-malu. Menurutnya Azlina hanya bersandiwara agar terlihat imut di mata Elang. "Sangat memuakkan."



Dia berjalan cepat, merangsek kerumunan anak-anak yang lain. Entah jiwa iri dan dengki lantaran merasa tersaingi pesonanya oleh Azlina, membuat Airin tak sanggup berpikir panjang. Gadis itu mengabaikan perkataan teman-temannya yang tertabrak dirinya karena ingin segera menjadi penengah antara Azlina dan Elang.



Omong kosong jika pesonanya bisa kalah dengan Azlina yang notabenenya berwajah pas-pasan. Dia digandrungi banyak pria di sekolah, tak mungkin kalah bersaing jika dibandingkan sosok Azlina yang berpenampilan sedikit kampungan.



Langkahnya terhenti tepat di sisi kolam. Menipiskan bibir untuk membuat senyuman terbaik, Airin memanggil Elang. "El, kepalaku sedikit pusing. Apakah kau bisa membantuku mengambil Aspirin di ruang kesehatan. Rasanya sakit sekali, aku hanya ingin lebih lama di sini."

__ADS_1



"Apakah kau kurang sehat. Ayo, aku antar ke ruang kesehatan." Elang menawarkan bantuan. Bukan ruang kesehatan besar, hanya sebuah ruangan tempat karyawan hotel beristirahat ketika mereka merasa tidak enak badan. Kendati hanya ruangan kecil, tetapi dilengkapi obat-obatan untuk pertolongan pertama, sehingga bisa membantu jika ada tamu ataupun karyawan hotel yang mengalami masalah kesehatan.



"Tidak perlu. Aku hanya perlu obatnya saja. Azlina akan membantuku di sini. Iya, kan, Na?"



"Eh, iya. Tentu saja, dengan senang hati." Azlina menjawab dengan cepat. Dia merasa sedikit aneh dengan sikap Airin, tetapi firasat itu segera ditepis olehnya. Bukankah tidak baik berburuk sangka kepada orang lain, apalagi dia adalah teman sendiri.



"Okey! Nyamankan dirimu. Aku akan segera kembali." Elang kemudian meninggalkan Azlina bersama Airin berdua.



"Ayo, aku antar ke tempat duduk! Berdiri di sini pasti membuatmu tak nyaman." Azlina menyentuh lengan Airin, hendak memapahnya. Namun, bukannya menurut, Airin justru menepis tangan Azlina.



"Jangan menyentuhku! Aku tidak membutuhkan bantuanmu."



"Apa? Kau bilang tadi ...." Belum sempat Azlina melanjutkan perkatannya, Airin justru tertawa.



"Aku hanya bersandiwara." Airin menatap lurus kemudian. Tawa yang sebelumnya terdengar, kini senyap cuma dalam hitungan detik. Hanya suara alunan melodi dari sound sistem yang sedari tadi mengiringi pesta itu yang kini terdengar mendominasi dengan beberapa suara senda gurau anak-anak lainnya. Sorot mata Airin berubah tajam, menusuk tepat ke kedalaman mata Azlina. "Na, aku peringatkan sekali lagi. Jauhi Elang! Aku tidak suka kau mencari perhatian dengannya. Kau tahu, Elang hanya pantas denganku. Dia anak orang kaya dan aku anak seorsng pejabat. Kami sangat cocok dan serasi. Jangan bermimpi untuk menggeser posisiku dengan sok manis di depan Elang."



"Apa maksudmu, Ay?" Azlina masih tak mengerti.



"Jangan berpura-pura bodoh dan sok manis. Kau pikir kau siapa bisa mencuri perhatian Ellang, hah?" Airin membentak, lalu dengan kasar mendorong tubuh Azlina.



"Ay, tidak! Ay!"Azlina tak bisa menahan keseimbangan. Gadis itu akhirnya limbung dan terjatuh ke dalam kolam.

__ADS_1


》Next, ya ...


__ADS_2