
Azlina sempat tergemap dengan permintaan Alvaro yang aneh itu. Hei, dia mengatakan akan mencium lelaki itu nanti ketika mereka berada di kamar pribadi. Itu pun hanya sebentar dengan saling menempelkan bibir, tidak lebih. Namun, lelaki yang kini sedang memangkunya itu dengan tidak tahu malu meminta hadiahnya sekarang.
Bagaimana jika ada orang lain yang melihat atau jika ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu? Pasti Azlina akan merasa malu bukan kepalang.
Gadis berseragam putih abu-abu itu tampak gugup. Dia tak bisa menolak ataupun menghindar permintaan Alvaro. Lelaki itu sudah mengunci pergerakannya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Azlina. Kini bibir mereka hanya berjarak beberapa senti saja dengan bola mata saling menatap.
Alvaro mengambil alih map yang berisi sketsa gambar mikik Azlina, lalu meletakkannya di atas meja. Lelaki itu semakin memajukan wajahnya dengan pandangan yang mulai meredup seiring bibir itu telah menempel sempurna di permukaan bibir sang istri.
Azlina yang tak terlalu mengerti tentang berciuman hanya bisa pasrah akan apa yang Alvaro lakukan kepadanya. Gadis itu mulai terbuai akan permainan yang Alvaro berikan, menenerima serta menyambutnya dengan baik, hingga tanpa sadar lelaki itu menurunkan tangannya, lalu menelusup di bawah rok abu-abu, mengusap paha Azlina dengan bebas.
Azlina membelalakkan mata. Tunggu! Harusnya tidak sampai seperti itu, bukan?
Tepat ketika Azlina ingin mendorong dada pria yang tampak sudah terbuai nàfsu itu, berniat memprotes tindakan Alvaro yang sudah di luar batas, seseorang masuk ke ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dulu.
"Hai! Oopps! Apa yang kalian lakukan?"
Alvaro segera melepaskam ciumannya dengan raut tidak rela. Dia begitu tenggelam dengan ciuman itu hingga terlupa jika mereka masih berada di dalam kantor.
Azlina hanya bisa menunduk. Tubuhnya kaku setelah tertangkap basah oleh seseorang melakukan hal itu. Alvaro benar-benar keterlaluan, harusnya lelaki itu mengunci ruangannya sebelum meminta ciuman dari Azlina. Kini dia tak bisa ke mana-mana. Rasanya sungguh memalukan. Azlina hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Alvaro dalam melindunginya dari sangkaan tak baik orang lain terhadapnya.
Pria yang menerobos itu adalah Soni. Entah apa maunya lelaki itu selalu datang kepada Alvaro meski mereka bekerja pada divisi yang berbeda. Dia memandang Azlina dengan tatapan yang sulit diartikan. Semacam sinis dan melecehkan. Lelaki itu menganggap Azlina adalah gadis sekolah murahan yang menjual tubuhnya kepada lelaki yang kesepian seperti Alvaro. Dia menyeringai sejurus kemudian, seolah-olah memiliki satu rencana yang tidak baik terhadap gadis itu.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?! Cepat keluar!"
Alvaro membentak ke arah Soni. Dia tidak terima lelaki itu selalu seenak saja keluar masuk ruangannya. Kendati mereka adalah teman sekolah, tetapi atitude Soni sudah termasuk melampaui batas ketidaksopanan.
__ADS_1
"Ya, ya, aku akan keluar. Selesaikan adegan mesum kalian." Dia melirik ke arah Azlina dengan pandangan yang sulit dimengerti. Pandangan mereka tanpa sengaja bertemu, tetapi Azlina segera memalingkan muka.
Entah mengapa Azlina sangat tidak menyukai lelaki itu meski mereka baru pertama bertemu. Dia merasa pria itu bukanlah pria baik-baik hingga membuat Azlina merasa seperti sedang ditelànjangi ketika mata itu tengah menatapnya.
Soni keluar dari ruangan Alvaro setelah mendapat pengusiran dari lelaki itu. Seringai liciknya masih terpatri dalam bibirnya hingga pria yang mengenakan stelan formal itu sudah melangkah menjauh dari ruangan Alvaro.
Azlina ingin segera bangkit dari paha Alvaro, tetapi lelaki itu malah menahannya. "Kita belum selesai."
"Apa? Aku hampir kehabisan napas Kakak bilang belum selesai?" Azlina tampak melototkan matanya, menatap kesal ke arah Alvaro. "Lalu kenapa tangannya ikut-ikutan masuk ke dalam rok? Kakak mau mesum, 'kan?"
Alvaro bahkan tak menyadari pergerakan implusif yang dilakukan tangannya. Dia hanya tenggelam dalam ciuman yang terasa memabukkan. Apalagi secara agama mereka telah sah sehingga tiada halangan dan dosa melakukan hal itu.
Sesungguhnya Alvaro ingin meminta haknya kepada Azlina, hak sebagai seorang suami yang selama ini dia tahan. Akan tetapi, Alvaro masih mengingat perjanjian mereka jika dia akan menyentuh Azlina apabila perempuan itu menginginkannya.
"Dahlah, Kak. Aku mau kumpulin ini." Azlina segera beranjak dari pangkuan lelaki itu, mengambil map yang tergeletak di atas meja, dengan Alvaro akhirnya mau memberinya akses untuk keluar dari balik meja kerja.
"Cil!"
Azlina memutar bola malas, merasa lelaki itu memperlambat dan membuang-buang waktunya. Dia berbalik kemudian, urung membuka pintu itu, lalu menghirup udara banyak-banyak guna mengisi ulang stok kesabaran untuk menghadapi suaminya.
"Apa?"
"Semoga berhasil."
Azlina tampak menunduk, tersenyum begitu samar menanggapi perkataan Alvaro. "Terima kasih." Dia segera pergi setelah mengatakan hal itu.
__ADS_1
Azlina melangkah ringan ketika menuju ke ruang desain yang mana terletak di lantai yang sama, hanya terpisah dengan beberapa ruangan juga toilet laki-laki dan perempuan. Map itu dibawanya dengan rasa percaya diri, kendati saingannya berat karena akan melibatkan pendesain andal, tetapi tak mengurungkan semangat Azlina untuk mengikuti event itu.
Bukan sebuah ruangan terrtutup, melainkan area yang luas dengan dipisahkan sekat-sekat di setiap kubikel mereka. Gadis itu mengucapkan salam dengan sopan, menyapa petugas yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Alvaro. Petugas wanita itu menatap Azlina sejenak, lalu menyunggingkan senyum ramah.
Hal pertama yang tertangkap oleh indra pengelihatan gadis itu adalah beberapa desain ternyata sudah mengantre untuk diseleksi. Tentunya desain-desain itu sangat indah dan mengagumkan jika dibandingkan milik Azlina. Namun, hal itu sama sekali tak membuat rasa percaya dirinya surut. Azlina menyerahkan map desainnya kepada karyawan wanita itu, yang baru saja meletakkan bolpoin di dalam wadah pensil yang menempel di sisi kubikel.
"Terima kasih, Kak. Saya permisi."
Gadis itu mengangguk sopan. Pekerjaannya telah selesai dengan hasil karya sudah berada di tangan yang tepat. Azlina melangkah ringan untuk segera kembali ke ruangan Alvaro. Namun, siapa sangka ketika dia melewati area toilet, sebuah tangan menariknya secara paksa.
Dia bisa merasakan tubuhnya terentak di dinding toilet yang diketahui bahwa itu adalah toilet laki-laki. Azlina tampak membelalakkan mata ketika mulutnya dibungkan oleh tangan seseorang. Seorang pria yang sejak awal sangat tidak disukai olehnya. Siapa lagi kalau bukan Soni.
Pria itu menahan tubuh Azlina dengan mencengkeram bahu gadis itu hingga membuat Azlina mendesis kesakitan. Mulutnya dibungkam oleh Soni menggunakan tangan besar yang terasa menyesakkan. Azlina bisa melihat seringai menjijikkan dari lelaki itu ketika melihat dirinya dari atas ke bawah. Dia berontak dengan menggerakkan bahunya secara kasar dengan tangan memukul-mukul dada lelaki itu.
"Diam! Aku akan melepasmu!" Suara bentakan itu telah menghentikan pergerakan Azlina.
Tatapan gadis itu tampak nyalang dengan sorot mata dipenuhi teror yang mengerikan. Apa mau lelaki itu kepadanya?
Tangan itu terlepas dari bibir Azlina, tetapi pergerakannya dikunci oleh kedua tangan lelaki itu yang diletakkan dalam posisi kanan dan kiri tubuh ramping gadis itu.
Azlina tampak mengatur napas, menghirup oksigen yang hampir menipis karena perbuatan lelaki itu yang dengan kurang ajar membungkam mulutnya.
"Berapa Alvaro membayarmu?"
Dia menggeleng, masih belum mengerti akan arah pembicaraan mereka.
__ADS_1
Lelaki itu tampak tersenyum mengejek, memindai tubuh molek yang berbalut seragam abu-abu itu. Disadari atau tidak, pesona gadis SMA memang tak bisa terelakkan.
"Aku tanya sekali lagi. Berapa tarifmu semalam? Aku bisa membayarmu lebih tinggi dari yang Alvaro berikan. Kau pasti sudah andal dalam melayani pria-pria dewasa seperti kami, bukan?"