Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
126. Rasa Bersalah


__ADS_3

Mama Rani menangis sesenggukan, meletakkan wajahnya di punggung tangan Alvaro. Dia menyesal telah mementingkan ego lantaran terlalu gengsi untuk meminta maaf kepada keluarga Azlina terkait kesalahpahaman itu.


Tangisnya semakin pecah ketika mengingat kejadian tadi pagi di mana dirinya mengetahui jika Alvaro telah pingsan di kamarnya.


Seperti biasa, Mama Rani setiap pagi membujuk Alvaro untuk makan pagi. Lelaki itu tak lagi mengunci kamar, sehingga Mama Rani bisa dengan mudah masuk ke kamarnya.


Perempuan paruh baya itu meletakkan menu sarapan pagi di meja yang terletak di sisi ruangan. Pandangannya beralih ke arah Alvaro yang masih tidur dengan posisi terlentang. Tangan lelaki itu memeluk Smartphone-nya dalam posisi telungkup.


Mama Rani terlihat heran, keningnya berkerut melihat pemandangan tak biasa itu. Meskipun Alvaro mogok makan, tetapi lelaki itu selalu terjaga jika jam makan pagi berlangsung.


Langkahnya cukup tenang tak terlalu terburu-buru ketika mendekati ranjang Alvaro dan baru berhenti begitu kakinya berada tepat di sisi ranjang.

__ADS_1


Tubuhnya membungkuk, hendak membangunkan putra semata wayangnya, tetapi apa yang dia lihat cukup mengejutkan. Wajah Alvaro tampak begitu pucat, bibirnya kering dan kebiruan. Mama Rani mengguncang tubuh Alvaro, tetapi lelaki itu tetap bergeming dari posisinya. Hingga rasa takut menyelimuti perempuan itu, dia segera berteriak meminta tolong.


"Pa, Papa! Tolooong ...!"


Suara Mama Rani terdengar dari bawah, di mana Papa Agus sedang menyeruput kopi buatannya. Pria dengan rambut memutih sebagian itu segera meletakkan cangkir kopi yang telah berkurang isinya separuh, lalu segera berlari menaiki tangga menemui istrinya.


"Ada apa, Ma? Apa yang terjadi?"


Pertanyaannya terdengar menggantung, karena melihat sang istri hanya menangis dengan memeluk tubuh Alvaro.


Kedua mata Alvaro dibuka menggunakan ibu jari dan telunjuk, seolah-olah seperti seorang dokter profesional. Lalu, dia meletakkan telapak tangannya di dahi Alvaro.

__ADS_1


"Ma, Papa nyari bantuan dulu. Kita bawa Alvaro ke dokter." Setelah mengatakan hal itu, Papa Agus segera pergi meninggalkan Mama Rani di samping Alvaro. Lelaki itu bergegas mencari bantuan untuk membawa Alvaro turun dari kamarnya agar segera dilarikan ke rumah sakit.


Mama Rani masih menangis di samping tubuh putranya. Pandangannya tanpa sengaja menatap layar ponsel yang berkedip lantaran notifikasi daya baterai yang hampir menipis. Diraihnya smartphone tersebut untuk diisi dayanya, berjaga-jaga jika Alvaro siuman, lelaki itu biasanya mencari ponselnya.


Namun, begitu memastikan berapa daya yang masih tersisa di smartphone itu, Mama Rani justru disuguhkan dengan foto-foto yang membuat hatinya menangis pilu.


Itu adalah foto Alvaro dengan Azlina sedang menghadiri acara wisudah sekolah. Mereka tampak serasi dengan senyum merekah diliputi kebahagiaan.


Azlina terlihat cantik dengan busana modern berwarna biru nude yang selaras dengan kemeja Alvaro. Ibu jarinya menggeser layar smartphone itu, terdapat banyak foto mereka berdua dengan berbagai macam pose dan mimik muka. Betapa bahagianya sepasang suami istri itu, tanpa beban dan tanpa air mata.


Apakah dirinya bersalah, membuat anaknya menderita seperti ini? Apakah benar jika Azlina adalah wanita yang bisa membahagiakan anaknya? Apakah ia salah jika ingin memberikan putranya dengan jodoh yang lebih baik?

__ADS_1


Mama Rani kembali menitikkan air mata, menatap tampilan Alvaro yang begitu bahagia di setiap foto yang ada di galeri smartphone itu.


》Nyicil, Kak. Nanti lagi ...🤭


__ADS_2