Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
52. Serangga Itu Ternyata ....


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan hawa sejuk menyambut begitu Azlina membuka pintu balkon kamar Alvaro. Semilir angin yang berembus tak terlalu kencang menerbangkan helain rambut gadis itu satu per satu.


Azlina melangkah maju, menikmati udara pagi di atas balkon dengan mendekat tepat di batas pagar terali besi yang menampilkan taman belakang rumah besar keluarga Alvaro.


Hampir satu bulan dia menetap di rumah Alvaro, tetapi dia bahkan tak sempat untuk menginjakkan kaki di taman belakang itu. Azlina hanya sibuk sekolah, ke kantor, lalu ke rumah orang tuanya karena masih tidak rela berpisah secepat itu dengan bapak, ibunya.


Dia tersenyum ketika menatap bunga-bunga yang tampak bermekaran cantik di bawah sana. Ada kolam ikan yang berada di antara bunga-bunga itu dengan air mancur berada di tengahnya. Mungkin memang rumah ini terlalu mewah yang belum pernah dibayangkan Azlina akan sempat menempatinya. Tak pernah sedikit pun terbesit dalam pikiran Azlina akan tinggal di rumah semewah itu.


Agak jauh dari taman itu, di mana letaknya lebih ke belakang lagi, ada sebuah kolam renang yang didesain seolah-olah berada di tengah hutan. Banyaknya pepohonan rimbun dengan ornamen hewan-hewan buas yang menambah kesan jungle pada kolam renang itu. Pun dengan desain kolam yang tak biasa. Azlina belum pernah sekalipun mencoba berenang di sana. Mungkin, akhir pekan dia akan mengagendakan untuk tak perlu ke mana-mana. Cukup bersantai di dalam rumah sudah membuat dirinya terhibur mengingat banyak sekali fasilitas di rumah besar itu.


Belum sempat Azlina menyelesaikan lamunan sambil menikmati keindahan rumah yang selama satu bulan lebih dia tempati, dia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya dengan kepala menunduk di bahunya.


Dia menoleh kemudian, menyadari jika Alvarolah pelakunya. Sejak kejadian semalam, Azlina merasa tingkah Alvaro semakin berubah lebih manja kepadanya. Agak risih juga, tetapi entah mengapa Azlina mulai menyukai tingkah aneh lelaki itu. Disadari atau tidak, kedekatan mereka seakan-akan sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan.


Dagu lelaki itu menekan bahu kirinya dengan tangan melingkar di perut Azlina. Tangan gadis itu terulur untuk mengusap rambut Alvaro sembari menyunggingkan senyum. "Ada apa?" Azlina akhirnya bersuara setelah beberapa saat membiarkan posisi mereka yang ternyata mampu membuatnya nyaman.


Azlina masih beranggapan jika perasaan nyaman itu hanya karena suatu hubungan antara kakak beradik saja. Dia tak menyadari bahwa kenyamanan itu adalah titik awal dari tumbuhnya rasa cinta di antara mereka.


"Enggak ada. Hanya ingin meluk kamu."


"Ish, semalaman masih kurang meluknya?"


Kuranglah, karena sesungguhnya Alvaro ingin lebih dari sekadar berpelukan. "Bukannya kamu juga kegirangan dipeluk seperti ini?"


Perkataan Alvaro malah membuat Azlina menjadi kesal. Memang benar dia senang, tetapi tak perlu juga diperjelas seperti itu. Bikin orang ilfil saja.

__ADS_1


"Dah, lepaskan. Aku mau mandi. Nanti telat ke sekolah!" Azlina melepas pelukan itu dari tubuhnya karena jika dibiarkan terus pasti lelaki di belakangnya itu akan meminta hal yang tidak-tidak lagi.


"Bareng, yuuk!"


"Enggak! Dasar mesum!"


Terdengar tawa kecil dari bibir Alvaro. Akhir-akhir ini menggoda si bocil membuat mood-nya membaik. Selalu saja ada hal yang bisa dijadikan candaan meskipun hanya sesuatu yang remeh. Dia membungkuk dengan kedua tangan menahan tubuhnya di pagar terali besi, menghirup udara pagi yang masih jauh dari polusi.


Gadis itu segera berlalu meninggalkan Alvaro, tak mau menoleh lagi. Akan tetapi, bibirnya tak bisa menahan senyum yang masih setia bertengger hingga saat ini.


Alvaro tampak termenung beberapa saat, membayangkan hubungan yang saat ini sedang ia jalani bersama Azlina. Apakah dia akan rela melepaskan gadis itu begitu saja. Rasanya sangat sayang jika memang itu yang akan terjadi. Diakui atau tidak, dia sudah merasa nyaman bersama Azlina. Kendati hati masih belum berpaling seutuhnya dari Almeera, tetapi sosok polos yang setiap hari menemani harinya mampu sedikit demi sedikit mengisi kekosongan hatinya.


Alvaro masih termenung memikirkan semua itu, tetapi suara teriakan Azlina tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


"Kakaaaak!"


Ketika pintu itu telah terbuka lebar, Alvaro disuguhkan dengan pemandangan yang memanjakan mata. Azlina sudah menutup tubuhnya dengan handuk yang dililit sebatas dada, tetapi dia tampak gelagapan setelah melihat Alvaro tiba-tiba masuk ke kamar Mandi.


"Aah! Kenapa Kakak masuk?!" Azlina setengah berteriak kepada Alvaro. Dia belum sempat mengenakan pakaian, hingga kedua tangan dia silangkan ke depan menutupi seusatu yang tak boleh dipandang. Meskipun dia sudah mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya, tetap saja Azlina merasa belum terlindungi sempurna.


"Kenapa tadi manggil-manggil?" Alvaro berjalan mendekat, membuat gadis itu memundurkan langkahnya ke belakang.


"Ish, jangan dekat-dekat! Bahaya!"


Sekaan tak peduli, Alvaro masih saja mendekat ke arah Azlina. Berani-beraninya si bocil sudah manggil-manggil, sekarang malah menolaknya. Lelaki itu menghentikan langkahnya tepat di depan Azlina, membuat jarak hanya selangkah saja.

__ADS_1


Azlina semakin mundur, tetapi pergerakannya terbatas karena terhalang dinding kamar mandi yang terasa dingin menerpa punggungnya yang tak berlapis. Matanya melotot ketika Alvaro memerangkapnya dengan kedua tangan lelaki itu berada di sisi kiri dan kanan tubuh gadis itu.


"Kak, kau ... mau apa?" Azlina tampak gugup mengatakannya. Melihat wajah Alvaro yang tampak dipenuhi nàfsu itu membuat Azlina bergidik ngeri. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu saat ini, yang jelas Azlina tak ingin membayangkan apa yang Alvaro sedang pikirkan.


"Kenapa kau memanggilku? Apa berencana ingin menggodaku?"


Kepala Azlina menggeleng kuat-kuat. Mana ada rencana dia menggoda Alvaro, hanya saja dia tadi terkejut karena melihat satu hal, yaitu ....


Dengan wajah merah menahan malu, Azlina melepaskan kedua tangannya yang menyilang di depan dada. Dia menunjukkan sesuatu yang tampak berderet memanjang dan banyak membekas di sekitar leher dan di atas dadanya.


"Apa ini, Kak? Mengapa banyak sekali?"


Alvaro mengamati tanda-tanda itu. Dia juga sama terkejutnya dengan Azlina, tak menyadari jika kelakuannya semalam memberikan bekas sebanyak itu. Akan tetapi, tentu saja Alvaro enggan menyalahlan diri sendiri. "Apa yang salah? Bukankah bentuknya indah?"


"Ish, Kakak! Aku serius? Bagaiamana jika teman-teman melihatnya? Aku harus jawab apa? Tapi ..., tunggu!"


Azlina tampak termenung beberapa saat, mengingat-ingat sesuatu. Ini sepeti dejavu, Azlina sempat mengalami hal ini sebelumnya. Ya, dia telah mengingatnya dengan jelas peristiwa itu.


"Kak, bukankah tanda ini sama seperti luka di leherku sebelumnya?" Azlina bertanya dengan sedikit memicingkan mata. "Jadi, luka itu Kakak pelakunya? Jadi serangga nakal yang selama ini aku cari enggak ketemu itu Kakak?"


"Apa, serangga?" Alvaro malah terkekeh mendengar penuturan lugu Azlina. Mana mungkin dirinya yang tampan disamakan dengan serangga. Serangga akan merasa inscure jika dibanding-bandingkan dengan dirinya.


"Ih, dasar menyebalkan! Serangga tua! Serangga mesum!" Azlina memukuli dada Alvaro, tetapi hanya disambut gelak tawa lelaki itu.


Wajah kesal Azlina yang ditujukan kepada lelaki itu justru menjadi hiburan tersendiri baginya.

__ADS_1


Ya, Alvaro terlupa jika cinta bukan pekara seberapa lama dia mengenal seseorang, tetapi tentang seseorang yang mampu membuat dirinya tersenyum sejak pertama mengenalnya.


__ADS_2