Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
13. Saling Mencinta


__ADS_3

Malam kian larut berangsur pagi, rasa kantuk mereka seolah lenyap tak berbekas. Hujan masih setia mengguyur bumi dengan angin kencang yang telah menumbangkan pepohonan di sisi jalan.


Dari balik kaca mobil, Salwa bisa melihat petugas damkar sedang sibuk memotong dan memindahkan gelondongan kayu bekas pohon tumbang yang dibantu oleh aparat TNI juga warga sekitar. Mobil-mobil terpaksa berhenti dan menepi, menunggu semua kekacauan itu telah selesai dibereskan. Sepertinya mereka telah bekerja keras menertibkan lalu lintas kembali, mengabaikan lebatnya hujan serta ngin kencang bersamaan gemuruh petir dan guntur yang acapkali terdengar memekakkan telinga.


Hingga satu keputusan bijak diambil oleh seorang Sean Paderson. "Kita berhenti di mesjid terdekat sembari menunggu badai berhenti."


...***...


Selepas azan Subuh berkumandang, lantunan kalimat-kalimat suci yang terngiang merdu di telinga membangunkan mereka yang sejak tadi telah tertidur di dalam mobil. Hawa dingin masih mendominasi, membuat semua orang yang masih terlelap memilih abai akan panggilan yang harusnya segera ditunaikan, menarik selimut lebih rapat, menenggelamkan tubuh dalam kehangatan dan kenyamanan semu yang melenakan.


Beberapa orang tampak mulai berdatangan memasuki area masjid untuk melaksanakan salat berjamaah dengan membawa payung warna-warni, berlindung dari hujan yang mulai mereda. Hanya rintik-rintik kecil yang kini terlihat, bagaikan buliran-buliran kristal yang berkialauan diterpa pendaran cahaya lampu jalanan. Sean dan rombongan ikut ke sana, menunaikan ibadah wajib bagi seorang muslim.


Ketika semua orang sedang khusyuk dan mahsyuk menjalani ibadah, menciptakan suasana hening dan tenang, menambah daya spritual antara makhluk dengan Tuhannya, Salwa tampak memanjatkan doa, mengharapkan hal yang terbaik untuk adik bungsunya itu agar tak melakukan hal yang merusak masa depannya.


Hingga ketika semua orang beranjak dari sajadah, menyelesaikan ritual ibadahnya, Sean sampai harus menyusul istrinya itu agar mempercepat kegiatannya.


"Ayo, kita akan berangkat sekarang!"


...***...


Perlu membujuk dan mengancam petugas hotel ketika Sean dan rombongan sampai di hotel di mana Alvaro dan Azlina menginap. Peraturan hotel yang menjaga privasi penyewanya, membuat petugas hotel tidak mau bekerja sama untuk melakukan penggrebekan secara paksa kamar pelanggan yang telah menyewa kamar di tempatnya bekerja.


Hingga lelaki itu mulai naik pitam, mencengkeram kerah seragam petugas itu. "Lakukan, atau kau dipecat!" Mata itu tampak menyeramkan, begitu dingin dan mengerikan. Aura gelap tiba-tiba menerpa sekelilingnya, menciptakan bulu halus petugas itu berdiri, merinding seketika. Hingga tegukan besar ludah dirasa dalam tenggorakan petugas itu, ketika merasakan kegugupan tepat di saat mata mereka saling beradu pandang.


"Sa-ya akan melakukannya!" Gugup bercampur takut yang kini dirasakan petugas itu, sampai Sean melepaskan cengkeraman tangan di seragam lelaki itu.


Mereka semua berjalan di belakang petugas itu yang sedang membawa kunci akses lain untuk membuka pintu kamar seorang tamu.


"Buka! Sekarang!" Terdengar teriakan Sean kepada petugas itu, seolah-olah sudah tak sabar dengan sikap yang kurang tanggap sang petugas dalam menjalankan perintanya.

__ADS_1


"Sabar, Mas!" Salwa mencoba menenangkan suaminya itu yang memang sangat mudah tersulut emosi dengan mengusap dadanya. Mungkin obat mujarab amarah seorang Sean hanya terdapat pada Salwa, karena tidak ada orang lain yang sanggup meredahkan dan mengendalikan emosi seorang Sean Paderson selain istrinya.


Hingga bunyi bip terdengar, lelaki itu tak sabar untuk membuka dengan mendorong pintu itu kuat.


Brak!


Pintu terbuka secara kasar dengan dihadapkan pemandangan yang tidak layak untuk dilihat.


Azlina tertangkap satu ranjang dengan Alvaro. Bahkan lelaki itu tampak bertelanjang dada membuat siapa pun bisa menebak apa yang sudah terjadi semalam.


"Azlina!" Sean memekik, tatapannya begitu murka sekaligus kecewa. Bukan hanya Sean, semua orang yang menangkap basah kedua orang itu sama-sama syok dan kecewa, tetapi hanya Sean yang mampu mengekspresikan kemarahannya secara brutal. Bahkan Ahsan dan Alfatih masih mematung tak berkutik dengan apa yang dia lihat di depan mata. Hatinya kecewa melihat sikap adik kesayangannya yang telah berbuat di luar batas.


Terlihat di sana Azlina dan Alvaro ikut terkejut akan kedatangan mereka secara bersamaan. Gadis itu menunduk, seakan-akan malu dengan perbuatan yang telah mereka lakukan.


"Anak tidak tahu diri!" Tuan Agus dengan murka mendatangi Alvaro, merangsek kerumunan orang untuk melangkah ke arah ranjang.


"Papa, ini tidak seperti yang Papa pikirkan!" Alvaro mencoba membela diri, tetapi tamparan selanjutnya membuat lelaki itu tak lagi bisa melanjutkan perkataannya.


Alvaro ingin menjelaskan, tetapi bingung harus bagaimana karena dia sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi. Dia merasa telah tidur secara terpisah dengan berada di lantai, tetapi pagi ini mengapa berubah menjadi seperti ini?


"Lalu, seperti apa, hah?! Papa tidak mau tahu, kau harus bertanggung jawab. Nikahi dia!"


"Apa?!" pekik Azlina dan Alvaro hampir bersamaan.


Azlina menggelengkan kepala kuat. Menikah? Tidak, itu tidak mungkin. Dirinya masih sekolah, apa yang akan dia katakan kepada teman-teman serta guru di sekolahnya jika dia harus menikah secara dadakan seperti ini? Azlina juga tidak punya keinginan menikah muda. Dia masih memiliki mimpi-mimpi yang belum sempat diraihnya.


Pun dengan Alvaro. Lelaki itu tidak mungkin menikah dengan gadis ingusan yang masih anak-anak seperti Azlina. Dia menyukai wanita lain, dan saat ini sedang berusaha mendapatkan hati wanita itu. Lantas, bagaimana dia bisa melanjutkan mimpi-mimpinya itu jika harus menikah dengan Azlina?


"Kalian sudah mencoreng nama baik keluarga, sekarang masih berkilah dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan kalian untuk menikah?" Agus masih berapi-api memarahi anaknya.

__ADS_1


"Tapi, kami tidak melakukan apa-apa, Pa."


"Jadi, tidur seranjang dengan hampir telanjang kau bilang tidak melakukan apa-apa?" Sean lepas kendali, dia merangsek maju, lalu memegang batang leher Alvaro, membuat Salwa panik dengan berteriak.


"Mas, jangan!"


"Kau tidak mau bertanggung jawab?! Katakan!" Sean masih mempertahankan tangan kekarnya mencekik leher Alvaro, membuat semua orang ketakutan dengan sikap kasar lelaki itu.


"Mas, hentikan! Kita bisa bicara baik-baik." Salwa masih membujuk suaminya agar mau melepaskan Alvaro. Dia juga kecewa, tetapi pikiran rasionalnya masih bekerja, tak ingin Sean mencelakai keduanya.


Cengkeraman tangan itu terlepas dengan Alvaro terbatuk-batuk, mengais pasokan oksigen yang hampir menipis di paru-paru. Sementara Azlina tampak pasi, ketakutan dengan sikap kasar kakak iparnya.


"Jadi, kau mau menikahinya atau tidak?!" bentak Sean kemudian setelah melepaskan cengkeraman tangannya. Tatapannya begitu tajam, menghunjam tepat pada bola mata Alvaro.


"Tidak! Aku tidak mau menikah!"


Azlina yang sedari tadi diam saja tiba-tiba berteriak. Dia malu, tetapi merasa harga dirinya direndahkan. Tatapannya berubah sinis ketika menatap Alvaro. Lelaki yang menurutnya hidung belang dan tak menepati janjinya.


Dia susah berkali-kali mewanti-wanti lelaki itu agar tidak macam-macam, tetapi di saat Azlina lengah, lelaki itu malah menidurinya. Rasa percaya Azlina sudah rusak bercampur kecewa. Alvaro bisa melihat itu.


Ada rasa bersalah ketika tatapan Azlina yang semua baik-baik saja kini berubah seperti benci dan jijik kepadanya. Alvaro hanya memikirkan bagaimana agar dia terlepas dari pernikahan yang tidak diinginkannya, tetapi tak memikirkan ada hati yang terluka lebih dalam karena insiden ini.


Bagaimanapun juga, seseorang yang paling dirugikan adalah Azlina. Dia masih sekolah dan harus terlibat dalam situasi seperti sekarang. Dan bisa dipastikan, Alvarolah yang bersalah karena dia tiba-tiba berada di atas ranjang yang sama juga selimut yang sama dengan Azlina.


Azlina membuka selimut ingin segera pergi, menghilang dari tatapan penuh kecaman semua orang. Dia tak ingin disalahkan, dia punya harga diri. Namun, sebelum gadis itu pergi, Alvaro menahan tangannya.


"Aku ... akan menikahinya. Kami ... saling mencintai."


"A-apa?" Seketika semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan pernyataan yang terlontar dari bibir Alvaro, termasuk Azlina.

__ADS_1


__ADS_2