Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
127. Bawa Dia Kembali!


__ADS_3

Rasa takut serta khawatir kini benar-benar membelenggu Mama Rani. Alvaro belum juga sadar sejak dibawa ke rumah sakit pagi tadi. Perempuan itu menunggunya dengan hati cemas, melihat putranya masih terbaring lemah tak berdaya.


Papa Agus berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya. "Bisa bicara di luar sebentar?"


Perempuan itu memandang sekilas ke arah suaminya, lalu mengangguk menyetujui. Tanpa kata dan bicara, dia mengikuti sang suami keluar dari ruangan Alvaro.


Mereka duduk di sana, yang mana ada kursi berbahan besi berjajar di depan kamar Alvaro. Papa Agus mengehela napas kemudian, duduk bersisian dengan Mama Rani. "Mama sudah melihatnya, 'kan?"


Dengan menatap ke arah suaminya, wanita itu menjawab, "Apa?"

__ADS_1


"Cinta putra kita pada Zizi. Menagapa Mama tidak sadar jika mereka saling mencintai? Mama tega melukai perasaan putra kita satu-satunya dengan memaksakan kehendak Mama kepadanya?"


Digenggamnya tangan sang istri sehingga tertutup oleh tangannya yang lebih besar. "Papa juga akan berbuat yang sama dengan Alvaro jika orang tua Papa memaksa Papa meninggalkan Mama. Karena Papa sangat mencintai Mama."


Mama Rani tak bisa menyembunyikan tangisnya. Perempuan itu menyesal, begitu egois telah memaksa Alvaro meninggalkan cintanya, meninggalkan kehidupannya. Hingga lelaki itu harus terbaring di rumah sakit seperti ini karena perjuangannya untuk meluluhkan hati sang Mama.


"Maafkan Mama, Pa? Mama menyesal. Mama salah telah memisahkan mereka berdua."


Perempuan itu kian terisak, merasakan gemuruh penyesalan di dada. Dia hampir menjadi ibu yang zalim, mertua yang mau menang sendiri, tak memikirkan perasaan anak serta menantunya yang tertekan dan tersakiti. Hingga lelaki yang telah bersamanya hampir tiga puluh tiga tahun itu memeluk tubuhnya, menenangkan dirinya yang diliputi penyesalan sesungguhnya.

__ADS_1


Satu gerakan tangan Alvaro membuyarkan lamunan Mama Rani. Perempuan berusia kepala lima yang masih tampak awet muda itu mengalihkan perhatiannya ke arah Alvaro.


"Apakah Mama sudah mau menerima Zizi kembali? Apakah Mama sudah tidak marah dengan Zizi lagi?"


Pertanyaan lemah Alvaro ditanggapi anggukan dan senyuman oleh Mama Rani. "Tidak, Sayang. Mama merestui hubungan kalian berdua. Susullah Zizi kembali, bawa dia pulang ke rumah kita. Mama akan meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Maafkan Mama yang sudah membuatmu terluka seperti ini. Maafkan Mama, ya?"


Bagaikan diguyur hujan es, Alvaro mengembangkan senyumnya, begitu bahagia telah berhasil meluluhkan hati mamanya. "Mama tidak akan menyesal memiliki menantu seperti Zizi, Ma. Dia gadis baik-baik. Dan mungkin, dia akan segera hamil. Varo sudah ... melakukan itu bersamanya, berkali-kali. Kami berniat tidak akan menunda memiliki momongan."


Mendengar kata momongan dari mulut Alvaro berhasil membuat Mama Rani tersenyum senang. Sudah lama sekali dia menginginkan menimang seorang cucu, seorang bayi yang lucu.

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa kamu tidak bilang sama Mama? Mama tidak tahu jika kalian sudah sejauh itu. Mama pikir kamu belum menyentuhnya sama sekali. Bawa Zizi kembali ke rumah kita! Mama janji akan memperlakukannya dengan baik sebagai wujud permintamaafan Mama kepadanya."


》Nyicil sedikit-sedikit, ya 🤭😂


__ADS_2