
"Kak, pulangnya naik taksi aja, ya?"
Alvaro sebenarnya merasa tidak rela jika Azlina harus naik taksi, sementara ada dirinya yang free mengantar sang istri kembali pulang. Namun, situasi yang membuatnya harus menyetujui permintaan Azlina. Dia belum boleh bertemu dengan Azlina sampai mamanya mau menerima perempuan itu kembali menjadi menantu di rumahnya.
"Iya, baiklah." Bola mata Alvaro tak melepas pandangannya dari wajah Azlina. Senyumnya begitu tipis menyambut wajah sumringah perempuan itu, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Azlina. "Kalau kamu mau mencari kampus, hubungi Kakak, ya? Nanti Kakak antar." Alvaro mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, sebuah kartu kredit yang seharusnya telah lama dia berikan kepada Azlina. "Pakai ini jika ingin membeli sesuatu. Beli apa aja sesukamu. Ingat, ya, pembayaran kuliah Kakak yang nanggung. Jangan minta Bapak atau kakak-kakakmu. Harga diriku turun nanti."
Azlina hanya mengangguk dengan menahan tawanya. Diterimanya kartu tipis itu, lalu memasukkannya ke dalam tas setelah beberapa saat dia perhatikan.
"Terima kasih," ucap Azlina kemudian.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi hakmu. Hanya saja Kakk belum sempat memberikannya. Jangan sampai istri seorang Alvaro kelaparan dan kekurangan uang." Dia mengusap-usap kepala Azlina, tersenyum penuh ironi. Rasanya tidak rela jika mereka berpisah lagi. Waktu seharian itu rasanya tak cukup untuk membendung rindu, melepas kasih dan sayang meskipun mereka sempat berpeluh di atas ranjang.
Sapuan tipis di kepala Azlina yang dilakukan oleh Alvaro mampu menimbulkan rasa yang menancap di dada. Dia pun sama, merasa tak rela jika berpisah secepat itu. Namun, pesan bapaknya juga tak bisa dianggap sebuah angin lalu. Mungkin, dengan sedikit perpisahan sementara, Alvaro akan lebih bersemangat mencari cara untuk menyatukan cinta mereka kembali.
"Kak, aku akan merindukanmu."
__ADS_1
Pelukan itu tiada disangka-sangka. Alvaro tersenyum sembari membalas pelukan Azlina dengan sama eratnya, bahkan mungkin lebih erat. "Kita bisa bertemu di luar, lalu pesan hotel lagi," bisiknya lirih, menahan rasa yang bergelora di dalam dada, mencoba menguatkan Azlina yang mungkin merasakan hal yang sama, ingin selalu bersama, tetapi terhalang restu orang tua.
Azlina tak mampu berkata apa-apa ketika merasa keningnya dikecup oleh lelaki itu begitu lama. Hanya bisa menikmati sembari memejamkan mata, merasakan hal yang mungkin suatu saat sangat dia rindukan.
...***...
"Sari, panggilkan Alvaro agar segera sarapan!" Mama Rani memerintah Mbak Sari pelayannya untuk memanggil Alvaro yang sejak tadi tak terlihat batang hidungnya. Bahkan, ketika Papa Agus dan dirinya hampir selesai menghabiskan makanan, Alvaro belum juga turun untuk melakukan sarapan pagi.
Lima menit waktu yang cukup lama jika hanya digunakan untuk memanggil Alvaro, tetapi Sari kembali dengan menunjukkan wajah masam, lalu melapor kepada Nyonya besarnya.
"Apa?!" Mama Rani sedikit berteriak ketika mengucapkannya. "Bukannya semalam dia juga tidak makan?"
"Saya rasa begitu, Nyonya. Sisa makan malam kemarin masih sama, tidak tersentuh sama sekali."
Wajah Mama Rani sudah mulai gelisah dan khawatir. Dia tahu jika Alvaro merajuk kepadanya, sehingga memilih mengurung diri dalam kamar selama dua hari ini. Tidak keluar kamar, tidak makan, dan tidak bekerja.
__ADS_1
"Pa, kamu kok tenang-tenang saja. Anak kita mengurung diri di kamar, tapi Papa kayak enggak peduli begitu." Mama Rani terlihat kesal melihat suaminya malah bersikap tak acuh, sementara dirinya sudah cemas setengah mati.
Iris hitam itu mengalihkan fokusnya dari makanan yang ada di piring ke arah Mama Rani. Dia dengan santai menjawab, "Biarkan sajalah, Ma. Sudah besar juga. Kalau lapar pasti dia makan." Kembali tangannya menyendok nasi di piring, lalu melahapnya tanpa merasa bersalah.
"Ih, Papa. Enggak peka sekali jadi orang tua. Papa enggak takut apa Alvaro kenapa-kenapa. Dia gak kerja loh, Pa. Selain mogok makan, dia juga mogok kerja. Mau jadi apa dia nanti."
Papa Agus hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Mama Rani, lalu menyesap teh hangat untuk menyelesaikan sarapan paginya.
...***...
Hari Minggu masih ada yang baca enggak, ya ...
Ini masih ada lanjutannya, ya..
Schroll lagi ...
__ADS_1