
Mata Azlina membeliak, tak menyangka jika dia mendapat tuduhan seperti itu. Dia adalah wanita baik-baik, bukan wanita murahan seperti apa yang dituduhkan lelaki itu kepadanya.
"Aku bukan wanita seperti itu? Jaga ucapan Anda!"
Lelaki itu kembali menunjukkan wajah menyebalkannya. Senyuman miring dengan mata yang sedikit dipicingkan, seolah-olah mentertawakan sikap sok suci Azlina. Jelas saja dia tak percaya, melihat bagaimana posisi gadis itu dengan Alvaro yang hampir membuat hasràtnya ikut terpancing sudah cukup membuktikan siapa gadis SMA di depannya itu.
"Ayolah! Jangan sok suci. Kalau Alvaro bisa memuaskanmu, aku akan lebih gila dari Alvaro."
Azlina tak sanggup lagi menahan marah di dada. Ucapan lelaki itu sangat keterlaluan. Wajahnya merah padam dengan hidung kembang-kempis menahan marah hingga satu tamparan kerasa Azlina layangkan di pipi lelaki kurang ajar itu.
"Saya ulangi sekali lagi. Saya bukan wanita seperti itu!"Azlina mendorong dada pria itu yang kini memegang pipinya sebab tamparan Azlina terasa begitu panas.
Sebelum gadis itu berhasil keluar dari ruang toilet itu, Soni menarik tangannya, kembali mengentakkan tubuh gadis itu di dinding. Azlina belum sempat berteriak, lelaki itu meletakkan bibirnya untuk berusaha memberi kecupan di leher itu.
Azlina berontak, sangat jijik dengan laki-laki yang tidak tahu diri itu. Dia terus saja menjambak dan memukul-mukul kepala pria itu meskipun tangannya kini telah berhasil diamankan oleh Soni. Azlina membelalakkan mata, air matanya meluncur deras di pipi tatkala bibir Soni berhasil berlabuh ke lehernya.
Suara bising di luar yoilet tak membuat Soni menghentikan aksinya kepada Azlina. Dia tak menyadari jika perilakunya itu membawa petaka pada karier yang selama ini sulit dia dapatkan. Karena kasihan, Alvaro mengajak Soni untuk menjadi staf adiministrasi di perusahaan papanya, tetapi apa balasannya sekarang. Soni justru menusuk Alvaro dengan berupaya melecehkan sang istri.
"Keparat!"
Alvaro murka melihat sikap Soni yang sudah berani melakukan hal menjijikkan kepada Azlina. Dia tahu jika kawannya itu adalah pria hidung belang sejak.sekolah, tetapi dia tak menyangka jika Soni justru melakukan itu kepada Azlina.
Sebuah tendangan di pinggang Soni berhasil menghuyungkan tubuh setinggi seratus tujuh puluh enam sentimeter itu. Lelaki itu telah roboh dengan jatuh tersungkur di lantai kamar mandi meninggalkan Azlina yang tampak ketakutan dengan wajah pucat pasi.
Alvaro tak berhenti begitu saja. Lelaki itu segera menyambut Soni dengan ikut membungkuk ke arah lelaki itu. Tangan kokohnya menarik secara paksa kemeja yang dikenakan Soni, lalu menghempaskannya dengan satu pukulan berlabuh di wajah.
Tubuh Soni terentak di meja wastafel dengan kening membentur marmer berwarna putih mengkilat itu, membekaskan darah segar di sana. Semua karyawan kantor yang mengetahui keributan itu hanya bisa menonton dari luar toilet tanpa berani melerai. Mereka hanya bisa menjulurkan leher setinggi-tingginya agar tak ketinggalan tontonan seru yang ada di depan mata.
Entah apa yang terjadi, Azlina tiba-tiba lemas tak bertenaga dengan tubuh mulai luruh ke bawah.
Alvaro ingin melanjutkan menghajar Soni, tetapi pandangannya kini beralih ke arah Azlina yang telah pingsan. Gadis itu tak sadarkan diri dengan terduduk sedikit miring menempel di dinding marmer.
Tanpa ingin membuang waktu, Alvaro segera melepaskan jas yang dia kenakan untuk menutupi tubuh gadis itu. Dia membawa Azlina dalam gendongannya menguraikan kerumunan karyawan yang secara otomatis segera memberi jalan untuk Alvaro keluar dari kerumunan itu.
__ADS_1
Kini, tinggallah Soni dengan wajah babak belur yang tampak mengenaskan menahan sakit serta remuk di tubuhnya. Alvaro yang sebelumnya adalah ketua dari klub beladiri di sekolah tak mungkin bisa dia lawan hanya dengan jurus yang asal-asalan. Lelaki itu tampak mengeram kesakitan merasakan nyeri-nyeri di sekujur tubuh dengan para karyawan yang menatapnya sinis seolah-olah mensyukuri apa yang telah terjadi terhadap lelaki itu.
Alvaro membawa Azlina masuk kembali ke ruangannya. Ia tak menyangka jika sang istri bisa mengalami hal menyedihkan seperti itu. Apakah itu sebuah karma karena dia perna melakukan itu kepada Salwa?
Alvaro tampak menggeleng, tak ingin mengingat kisah menyedihkan percintaannya dulu. Kini di depannya, Azlina dibaringkan di atas sofa panjang yang berada di sisi ruangan.
Mata sembab dengan bekas air mata di wajah gadis itu cukup menunjukkan bagaimana ketakutan Azlina sebagai seorang wanita yang hampir dilecehkan oleh lelaki biadab. Alvaro mengepalkan tangan, bibirnya bergetar seolah berucap akan membuat perhitungan kepada Soni.
Dia mengusap air mata Azlina dengan saputangan yang ada di saku jasnya, membelai lembut kepala gadis itu. Hingga Azlina tampak mengernyitkan dahi.
Gadis itu tersadar, matanya nyalang dipenuhi rasa takut juga teror. Dia beranjak duduk, lalu beringsut menjauh dari Alvaro. Kedua tangan Azlina memeluk lututnya sendiri dengan jas Alvaro dia kenakan sebagai selimut. Dia menunduk, menyembunyikan wajah ketakutannya dari luar.
Tepat ketika tangan Alvaro menyentuh bahu Azlina, gadis itu seketika menegang. Seolah-olah dirinya sedang dalam bahaya.
Alvaro tak tinggal diam. Dia segera duduk di sisi sofa yang di tempati Azlina meskipun tak cukup hanya untuk meletakkan pantàtnya saja. Alvaro memeluk tubuh gadis itu yang kini sedang terguncang karena tangis.
"Tenanglah. Jangan takut! Aku akan melindungimu."
"Kakak ...."
Azlina menangis, meraung-raung. Seolah-olah mendapatkan tempat mencurahkan keluh kesahnya. Dia memeluk Alvaro erat, tak ingin menjauh dari lelaki itu. Hingga alvaro hanya bisa mengusap punggung Azlina demi menenangkan gadis itu.
...***...
Malam itu, Alvaro tampak berjibaku dengan laptop yang ada di pangkuanmya. Dia menyandarkan punggung ke tepian ranjang, lalu melanjutkan kegiatannya dalam mengerjakan suatu hal penting yang membuatnya kesal tadi siang.
Terkait dengan nilai penjualan yang menurun, jangan sampai papanya tahu akan hal itu. Bisa-bisa Alvaro dianggap tidak becus mengemban tugasnya sebagai manager marketing di perusahaan Agus Cahyono. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari layar digital yang memancarkam warna kebiruan itu, hingga Alvaro tak menyadari jika di sampingnya ada seseorang yang tengah menangis.
Azlina meringkuk di dalam selimut, mengusap-usap lehernya menggunakan tisu. Seringai menjijikkan lelaki itu masih terpatri di memori otaknya. Setiap Azlina memejamkan mata, wajah mesum Soni selalu muncul kembali, hingga makin keraslah gadis itu mengusap leher bekas ciuman itu.
Alvaro merasakan kantuk mulai menyerang, hingga lelaki itu menguap dengan pandangan menatap ke samping. Kini dia baru menyadari jika Azlina sedang menangis dengan mengusap kasar lehernya berkali-kali.
Lelaki itu memindahkan laptopnya di atas nakas, lalu dengan cepat memegang tangan Azlina yang ingin melukai lehernya lagi.
__ADS_1
"Cukup! Kau bisa melukai lehermu sendiri."
Gadis itu berontak ingin mengusap lehernya kembali, tetapi Alvaro masih menahan tangannya.
"Jangan lakukan itu!" Lelaki itu berguling, lalu tidur miring menghadap Azlina. Tangannya masih mempertahankan tangan gadis itu agar tidak melukai lehernya lagi. "Dia menciummu di sini?"
Azlina mengangguk mengiakan. Matanya kembali berair dengan bibir yang bergetar menahan tangis. Dia tak pernah mengalami pelecehan seperti itu sebelumnya. Rasa jijik terhadap diri juga bagian yang telah terjamah lelaki itu membuatnya tak bisa menerima tubuhnya sendiri secara utuh.
"Jangan lukai lagi! Lehermu hampir berdarah karena itu."
Azlina hanya diam. Hatinya masih sakit akan apa yang dialaminya tadi siang. Hingga lelaki di sampingnya itu memerangkap tubuh rampingnya, menahan Azlina dengan memosisikan diri di atas tubuh gadis itu.
"Kak!"
"Aku suamimu, 'kan?"
Azlina mengangguk sambil mencerna kalimat Alvaro selanjutnya.
"Biarkan aku menggantikan ciuman itu dengan ciuman yang lain." Sesaat setelah kata itu terucap, Alvaro segera mrnundukkan wajahnya, melabuhkan bibir itu di leher sang istri, lalu melabuhkan beberapa ciuman yang dihunjamkan secara bertubi-tubi.
Azlina bahkan merasakan hal aneh ketika Alvaro telah membubuhkan banyak tanda di lehernya. Ada rasa panas, nikmat bercampur sesuatu yang menggelora di dalam diri.
Alvaro hampir kehilangan kendali, ketika lelaki itu hampir melepaskan kancing piyama Azlina. Gadis itu segera menahan tangannya karena tampaknya Alvaro tak sadar akan apa yang sedang dia lakukan.
"Maaf," ucap Alvaro kemudian. Dia melabuhkan kecupan ringan di dahi Azlina, lalu beranjak duduk.
Dia hampir saja melakukan itu, membuat dirinya memungkiri janji yang sempat dia ucapkan. Dan parahnya, di bawah sana terasa menegak tak bisa dikendalikan.
"Apakah aku boleh meminta bantuanmu?"
Azlina sedikit bingung dengan permintaan Alvaro, tetapi dia akhirnya mengangguk juga. "Apa?"
"Tolong tidurkan dia."
__ADS_1