Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
28. Malam Penuh Perjuangan Part 3


__ADS_3

"Mandi? Malam-malam begini? Bukankah Kakak sebelum tidur kemarin sudah mandi?"


Jelas saja Alvaro ingim mandi. Tubuhnya terasa panas saat ini, begitu gelisah dan tidak bisa menahan pikiran liarnya. Mamanya sungguh keterlaluan telah menyiapkan minuman sialan itu hingga dia terjebak pada situasi sulit. Apalagi saat ini tubuh Azlina begitu erat menempel padanya. Dia ingin segera mendinginkan pikiran serta hasrat yang menggebu dalam diri.


"Aku ... merasa panas. Bisakah kau melepaskanku? Aku merasa gerah."


"Merasa gerah? Di ruangan ber-AC?"


Kendati masih banyak sebab yang mengganggu pikiran Azlina, gadis itu segera melepaskan pelukannya dari tubuh Alvaro, membiarkan lelaki itu menuntaskan keinginannya di dalam kamar mandi. Memilih mengabaikan semua hal yang terjadi, Azlina akhirnya kembali tidur tanpa menunggu Alvaro lagi.


...***...


Pagi pertama di rumah keluarga Agus Cahyono, Azlina bangun sangat petang. Kendati Mama Rani tak menyuruhnya bangun sepagi itu, tetapi Azlina sudah terbiasa membantu ibunya di rumah utuk menyiapkan sarapan pagi. Sehingga sebelum azan Subuh berkumandang, dia segera mandi membersihkan diri.


Azlina melangkahkan kaki perlahan menuju kamar mandi dengan membawa handuk juga pakaian ganti. Dia tidak mungkin mengganti baju di depan Alvaro meski lelaki itu tampaknya belum bangun. Dia menutup pintu kamar mandi itu dan tak lupa menguncinya. Satu per satu pakaian telah ditanggalkan, Azlina membuka tirai putih bathup yang tertutup itu. Dia ingin berendam air hangat sebentar sebelum azan Subuh tiba.


Namun, tepat ketika dirinya membuka tirai berbahan poliester putih itu, kepala seseorang menyembul dari dalam.


"Aaaaghh!" Azlina berteriak keras seraya menyembunyikan tubuhnya di dalam tirai. Lelaki itu adalah Alvaro. Semalam dia ternyata tidur di bathup kamar mandi agar tidak tergoda dengan Azlina.


Buru-buru Alvaro membungkam mulut Azlina agar tidak membangunkan orang-orang yang masih tertidur.


"Hhhsssst! Ini aku!" ucap Alvaro kemudian.


"Kakak, kenapa di sini? Keluarlah! Aku sedang tidak berpakaian!"


"Iya, tahu. Aku sudah melihatnya. Oopps!"


Keceplosan. Jelas saja Alvaro melihatnya, karena itu dia segera ingin keluar dari kamar mandi setelah melihat Azlina menanggalkan pakaiannya.

__ADS_1


"Apa?!"


"Mm-maksudku, tidak begitu. Aku ... hanya menerka karena kamu bersembunyi saat ini." Gugup, Alvaro merasa begitu gugup menjawab pertanyaan Azlina.


"Kalau begitu, Kakak pergilah cepat! Aku mau mandi."


"Iya, aku akan keluar."


Tak ingin berdebat lama, Alvaro akhirnya keluar dari kamar mandi, membiarkan Azlina membersihkan diri dengan tenang.


Ini hanya satu malam dirinya sudah merasa begitu tersiksa. Apakah dia bisa menjalani dengan baik untuk malam-malam selanjutnya?


Jantung Alvaro masih berdetak keras. Matanya sudah ternodai dengan tubuh molek nan indah yang baru saja tertangkap matanya. Dia bahkan beberapa kali meneguk ludah agar tidak terlepas kendali. Semalam sudah sangat menyiksanya, dan pagi ini Azlina membuatnya kembali merasakan hal yang sama. Benar-benar keterlaluan gadis itu.


Selepas melakukan salat Subuh berjamaah dengan sang istri, Alvaro berolahraga sebentar. Lelaki itu memilih berkeliling pekarangan rumahnya yang luas, sementara Azlina sibuk menyiapkan sarapan pagi dengan para pembantu di dapur.


"Enggak usah, Non. Kata Nyona, Nona masih sekolah, kan. Nanti Nona terlambat jika membantu kami."


Wajah Azlina tampak sedih ketika mendapatkan penolakan dari Mbak Sari, wanita berusia tiga puluh lima tahun yang bertanggung jawab akan menu masakan setiap harinya. Dia sudah menikah dengan sopir pribadi Pak Agus, sementara anaknya tinggal bersama orang tuanya di kampung.


"Ah, bukan gitu, Non. Hanya takut merepotkan saja."


"Enggak, Mbak. Saya biasa bantu Ibuk di rumah. Saya malah enggak enak cuman duduk-duduk dan enggak ngerjain apa-apa di sini." Azlina menyandarkan patatnya di sisi pantri dapur dengan kedua tangan menumpu ke belakang.


"Ya udah, Non ...."


"Panggil Zizi aja, Mbak!" sergah Azlina. Dia memang suka berteman dengan karyawan atau pembantu.


"Eh, mana bisa. Non Zizi potong-potong sayur saja, ya? Itu sayurnya di dalam kulkas. Mau masak oseng kangkung pagi ini."

__ADS_1


"Siap, Mbak!" ucap Azlina dengan melakukan hormat.


Hampir satu jam Azlina berkutat di dapur, hingga melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, dia segera pergi ke kamarnya guna menyiapkan diri. Di sana sudah terlihat Alvaro keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe-nya. Azlina memilih menunggu lelaki itu dengan duduk di atas ranjang.


Alvaro melangkah menuju lemari, mengeluarkan pakaian stelan untuk dirinya berangkat ke kantor. Dan sebelum Alvaro mengenakan pakaiannya, dia menoleh ke belakang di mana Azlina sedang duduk memandanginya.


"Apakah kau ingin melihatku berganti pakaian?"


"Oh, tentu saja tidak. Aku hanya ingin tahu apa yang Kakak butuhkan sebelum berangkat bekerja. Bukankah seorang istri biasa menyiapkan pakaian suaminya sebelum bekerja?"


Alvaro membalikkan tubuh, lalu mendekat ke arah Azlina sembari membawa stelan pakaian di tangan. Dia meletakkan pakaiannya di samping gadis itu.


"Kau ingin tahu hal lain yang dibutuhkan seorang suami?"


Azlina mengangguk mengiakan. Jelas saja dia mengerti, karena setiap hari ibunya juga melakukannya untuk bapaknya.


"Iya, aku tahu."


"Apa?!"


"Iya, tentu saja aku tahu, Kakak. Ibu setiap hari melakukannya."


"Mm-maksudmu, Ibu mertua sudah membahas masalah itu kepadamu?" tanya Alvaro penasaran.


"Tentu saja sudah. Ibu sudah memberitahuku semuanya."


Alvaro tampak meneguk ludah. Dia tak menyangka jika bocil ini sudah matang untuk segera dipetik. Bahkan ibu mertuanya sudah mengajari apa saja tugas istri kepada suaminya.


"Lantas, kau setuju?" tanyanya dengan penuh harap.

__ADS_1



__ADS_2