
"Dah sampai, Kak. Assalamu'alaikum." Azlina mencium punggung tangan Alvaro sebagai rutinitas setiap dia selesai diantar ke sekolah oleh lelaki itu.
"Wa'alaikumsalam. Cium dulu sini!"
"Enggak, ah, Kak. Sariawan!" Azlina tampak menolak keinginan Alvaro. Sudah menjadi kebiasaan lelaki itu meminta ciuman selamat tinggal sebelum mereka berpisah di depan sekolah. Alvaro melakukan hal itu agar Azlina tak tergoda untuk mencoba berciuman dengan pria lain karena penasaran, sebab dia sudah merasakan ciuman yang lebih panas dari Alvaro.
Sebenarnya itu semua hanya akal-akalan lelaki itu saja. Azlina bahkan tak sempat berpikir untuk berciuman dengan siapa pun. Dan alasan sesungguhnya adalah Alvaro ingin mencium bibir seksi dan lembut istri kecilnya itu setiap hari, tetapi dia enggan mengakuinya.
Dengan jahat lelaki itu menjitak kening Azlina dengan jari telunjuk. "Auuh! Sakit, Kak!"
"Kan cium kening. Apanya yang sariawan?"
"Oh, cium kening. Kirain."
Gadis itu mulai memejamkan mata, menunggu Alvaro mencium keningnya. Ya, dia merasakan keningnya telah dikecup oleh lelaki itu cukup lama, tetapi belum sempat dia membuka mata, Alvaro memberi bonus ciuman di bibir juga.
Azlina membulatkan mata, merasakan Alvaro tak juga melepaskannya. Dia mendorong dada lelaki itu sambil beberapa kali memukulnya, tetapi tampaknya hal itu tak banyak berpengaruh. Dia masih terkurung dalam pelukan lelaki itu dengan bibir yang juga tak kunjung terlepas.
Merasa sudah puas, Alvaro akhirnya membebaskan Azlina.
"Dah, cukup. Berangkat sana!" Dia malah mengusir Azlina sekarang.
"Dasar mesum! Menyebalkan!" Bibir gadis itu mengerucut, merasa kesal dengan sikap Alvaro yang seenaknya. Sepertinya dia merasa jika apa yang telah Alvaro perintahkan dan lakukan hanya menguntungkan lelaki itu saja dan merugikan dirinya.
"Sudah, keluar sana! Aku sedang terburu-buru." Sedikit terkekeh lelaki itu mengucapkannya, berniat menggoda Azlina.
"Iya, mau keluar ini." Azlina membuka seatbelt-nya, lalu bergegas turun dari mobil Alvaro. Dia menoleh ke kaca spion dan mengamati bibirnya yang semakin hari terasa semakin tebal saja. "Ini semua gara-gara serangga mesum," ucapnya lirih.
Alvaro masih menatap Azlina yang sedang berjalan masuk ke gerbang sekolah. Dia enggan pergi sebelum memastikan gadis itu sudah menghilang dari pandangan.
Dia tertawa kecil kemudian, lalu menggelengkan kepala. Rasanya dia mulai gila karena terlalu sering tertawa sendiri.
...***...
Di dalam ruangan manager, Alvaro masih sibuk dengan rencana-rencana baru yang akan dia gunakan untuk sepak terjang selanjutnya. Mengumpulkan berbagai jenis informasi dari berbagai pihak juga terkait selera pasar, lelaki itu tampak termenung di depan laptop yang menyala itu dengan wajah yang terlihat begitu serius.
Berbagai desain berhasil dikumpulkan dari para peserta yang mengikuti event telah terangkum di dalam satu folder yang kini secara bergantian diperiksanya.
Semua tampak indah dan menawan, bahkan ada yang telanjur mewah mengingat tema yang mereka usung kali ini adalah kaum milenial. Alvaro menggeleng setelah mengecek beberapa desain yang sepertinya lebih cocok digunakan untuk acara pernikahan daripada untuk dipakai kaum milenial untuk pergi ke mall atau sekadar hangout dengan teman juga pacar.
Alvaro masih memilih desain mana yang cocok, tetapi seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan membuat lelaki tampak geram.
__ADS_1
"Al, kenapa kau memecatku! Kau tidak berhak memecatku. Kau hanya manager marketing, bukan bos di sini!" Soni yang baru masuk ke ruangan Alvaro langsung memberondong lelaki itu dengan berbagai macam tuduhan. Dia tak terima jika pada akhirnya kariernya dipertaruhkan karena insiden kemarin. Bukannya dia sudah babak belur dan tidak melawan, seharusnya itu sudah cukup sebagai hukuman, tidak perlu sampai mengeluarkannya dari pekerjaan.
"Siapa yang mengatakan kau berhak masuk ke ruanganku? Masih baik aku tidak membunuhmu!"
Alvaro menggebrak meja dengan kepalan tangannya, membuat Soni terkejut dengan sikap lelaki itu. "Apa salahku? Aku hanya memberi pelajaran wanita jalàng itu yang sudah berani menggodaku, tidak lebih!"
Menahan amarah yang sudah di puncak, Alvaro keluar dari balik meja, berjalan cepat ke arah Soni. Tangannya bergegas mencengkeram kerah kemeja Soni, membuat lelaki itu segera menahan kedua tangan Alvaro yang seolah-olah ingin mencekiknya.
Kilat kemarahan sudah tampak jelas di air muka lelaki itu. Sudah sangat ketara jika Alvaro begitu murka dengan perkataan Soni, tetapi Soni masih belum merasa bahwa dirinya bersalah sehingga lelaki itu masih saja mencari pembenaran.
"Kau melakukan ini kepada sahabatmu sendiri demi gadis nakal dan hina yang baru saja kau kenal?"
Perkataan Soni dijawab oleh pukulan keras di keningnya. Alvaro menghantam wajah Soni dengan keningnya sendiri, tetapi sama sekali tak melepaskan kerah kemeja pria itu.
Darah segar mengalir di hidung Soni akibat benturan kepala Alvaro mengenai pangkal hidungnya. Dia menggeleng, merasakan sakit dan pening di kepala. Namun, Alvaro tetap saja tak melepaskannya.
"Kau mengatakan apa?!"
Dia melayangkan pukulan lagi ke wajah Soni, kali ini lelaki itu membiarkan tubuh Soni terhuyung ke bawah.
"Dia perempuan nakal?!" Satu tendangan di perut membuat Soni tak mampu untuk bangun, tetapi Alvaro menarik kembali kerah kemeja lelaki itu, sehingga secara paksa Soni bangkit kembali dari tubuh yang limbung.
Pukulan demi pukulan diterima Soni, tetapi lelaki itu tak sanggup untuk menghindar atau melawannya. Dia bukanlah lawan seimbang Alvaro, hingga lelaki itu sudah tak sanggup untuk menegakkan tubuhnya lagi.
Alvaro menekuk kakinya, membungkuk ke arah Soni. Sorot matanya masih sama murkanya dengan sebelum lelaki itu menghajar Soni dengan brutal. "Gadis yang kau bilang jalàng, yang kau lecehkan, dan kau sebut sebagai perempuan hina itu adalah ... istriku."
Perkataan Alvaro cukup menjawab rentetan kalimat Soni yang menuduh Azlina macam-macam. Dia tak mengira jika Alvaro malah berakhir menikah dengab gadis yang jelas-jelas statusnya masih seorang pelajar.
"Tidak mungkin. Kau mencintai Almeera. Bagaimana kau bisa menikaah dengan wanita lain?"
"Itu bukan urusanmu. Sekarang keluar dari ruangan dan kantorku! Aku tidak ingin melihatmu masih berseliweran di kantor ini lagi. Mengerti!" Alvaro meninggikan suaranya, memberi peringatan kepada Soni, lalu menegakkan tubuhnya kembali.
Dengan susah payah, lelaki itu akhirnya bangkit, mengabaikan rasa sakit dan pening di kepala. Tertatih-tatih lelaki itu berjalan menuju pintu, tetapi sebelum dia keluar dari ruangan Alvaro dengan tangan hampir menyentuh kenop pintu, lelaki itu tersenyum miring menoleh ke arah Alvaro.
"Aku bisa menghancurkan pernikahanmu, seperti kau menghancurkan karierku." Soni segera pergi setelah mengucapkan kalimat itu kepada Alvaro. Entah apa yang direncanakan oleh Soni, tetapi Alvaro sama sekali tak mau ambil pusing dengan perkataan lelaki itu.
Dia duduk di atas meja, lalu menuangkan air di dalam gelas untuk kemudian ditenggaknya. Dia menghela napas kemudian, mencoba menormalkan kembali amarah yang sempat meluap-luap kepada Soni.
...***...
Di ruang tamu rumah besar Alvaro, Azlina tengah duduk di sofa sembari membaca komik kesukaannya. Tak lupa cemilan ringan menemani bacaan serunya sore itu. Dia tak diizinkan Alvaro ikut ke kantor lagi, dan itu membuatnya menghabiskan waktu di rumah dnegan membaca komik.
__ADS_1
Di tengah begitu tenggelamnya Azlina dalam bacaan yang tampak sesekali membuatnya tertawa dan mengerutkan kening lantaran begitu serius terbawa suasana, Azlina dikejutkan dengan sebuah tangan yang membengkam matanya.
Dia menoleh kemudian, mendapati Alvaro di sana sedang tersenyum dengan menyodorkan satu batang cokelat untuknya.
"Makasih!"
Azlina menerimanya dengan senyum mengembang. Tak menunggu jawaban tanggapan dari Alvaro, gadis itu segera membuka bungkusnya, lalu melahapnya.
"Gitu doang? Dicium, kek!"
"Enggak ikhlas banget kalau ngasih, sih, Kak. Dikit-dikit minta peluk, dikit-dikit minta cium."
Terdengar kekehan ringan dari bibir Alvaro. Tangannya mengusap pucuk kepala gadis itu, lalu duduk di sampingnya. "Memang enggak boleh, ya?" Dia melepaskan jasnya, lalu menarik dasi untuk dilonggarkan, melepaskan tiga buah kancing atas kemejanya hingga terlihat jelas bagian dadanya yang terbuka.
Tanpa tahu malu, lelaki itu merebahkan tubuhnya dengan menggunakan paha Azlina sebagai bantal. "Baca apa?"
"Hanya komik. Kakak mau minum, aku ambilkan, ya?" Azlina mencoba menawarkan minuman kepada lelaki itu, tetapi tampaknya Alvaro tidak tertarik. Tidur di paha yang hanya berbalut rok pendek jauh lebih menarik hatinya daripada sebuah minuman.
"Enggak usah. Udah telanjur PeWe. Suapin dikit sini!" Mulut Alvaro terbuka, menunggu Azlina menyuapkan sesuatu di mulutnya. Tentu saja hal itu membuat Azlina kesal, karena cokelat yang diberi Alvaro ternyata diminta kembali.
"Nih, jangan banyak-banyak!"
Satu potong coklat bertabur lacang mede telah mendarat dan lumer di mulut Alvaro, tetapi seolah dia merasa kurang puas, sehingga mengambil paksa coklat itu di tangan sang istri.
"Kakak, punyaku!"
"Biarin!"
Azlina berusaha mengambil cokelatnya yang diletakkan di posisi terjauh dari jangkauan gadis itu, hingga dia harus membungkuk karena terhalang kepala Alvaro yang masih berada di pahanya.
Tepat ketika Azlina menunduk, tangan Alvaro dengan sigap meraih kepala gadis itu, menahannya untuk dibuat lebih menunduk lagi.
Azlina kini merasakan bibir lelaki itu sudah berlabuh pada bibirnya. Begitu banyak cara Alvaro agar bisa mendapatkan ciuman dari Azlina, hingga perebutan cokelat pun hanya akal-akalannya saja agar bisa mendapatkan ciuman itu.
Tangan Azlina bahkan kini sudah meremàs rambut Alvaro, karena lelaki itu tak kunjung menyelesaikan ciumannya. Hingga sebuah suara seseorang, menghentikan pertautan bibir itu.
"Al!"
Baik Azlina dan Alvaro segera menoleh ke arah sumber suara. Keduanya tampak terkejut melihat siapa yang tengah berdiri di samping sofa panjang yang mereka tempati.
"Almeera!"
__ADS_1