
"Lama sekali buka pintunya!"
Ahsan tampak kesal karena Azlina baru membuka pintu kamar setelah beberapa kali digedor olehnya. Kepalanya celingukan melihat kondisi kamar perempuan itu.
"Ada apa sih, Bang? Orang lagi mimpi indah juga."
"Ada maling." Ahsan seketika menyela perkataan Azlina cepat, merangsek masuk ke kamar adiknya itu tanpa memedulikan wajah tak setuju Azlina.
"Maling, di ... mana? Abang ngapain nyari maling di sini?" Azlina mencoba menahan Ahsan agar tak terlalu mengobrak-abrik kamarnya. Bahaya jika Alvaro ketahuan bersembunyi di lemari pakaian.
"Ssuussst!" Lelaki itu menatap ke arah ranjang, keningnya berkerut melihat bagaimana berantakannya kondisi ranjang Azlina. "Kamu tidur sendiri, tapi kayak tidur rame-rame." Dia menunduk, memunguti bantal dan guling yang terjatuh di lantai.
"Emm, ... itu ... tadi hanya terkejut gara-gara Abang gedor-gedor pintu. Udahlah, Abang keluar sana. Ngantuk tahu." Azlina mencoba mengusir Ahsan, tetapi lelaki itu tak peduli. Dia masih mengecek satu persatu sudut kamar Azlina.
"Malingnya kemungkinan di sini. Ada tangga di bawah jendelamu. Kamu juga malam-malam lupa nutup jendela."
Seketika Azlina baru menyadari kecerobohannya tak menutup kembali jendela kamarnya. Pantas saja Ahsan curiga jika maling yang dimaksud masuk ke dalam kamarnya, meskipun kenyataannya demikian, tetapi tentu saja Azlina tak mau memberi tahu kebenarannya kepada kakaknya itu. "Ya udah, aku tutup sendiri. Abang keluar sana! Malingnya enggak ada."
"Iya, iya, tahu. Aku cuman khawatir." Lelaki itu menghentikan kalimatnya setelah mendapati sesuatu tergeletak di lantai. "Jorok! Kamu anak perempuan kenapa jorok banget, sih! Abang laporin Ibuk nih," ucap Ahsan mendapati pakaian dalam Azlina tercecer di lantai. Bagaimana seorang wanita bisa melakukan hal jorok seperti itu, membuat Ahsan menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik.
Azlina segera mengambil barang pribadinya itu dengan wajah merah padam menahan malu. Dia terlupa akan memastikan semuanya tersimpan dengan baik. Keadaan yang membuatnya terburu-buru, sehingga tak memperhatikan hal sekitar, membuat dirinya hanya bisa menahan malu lantaran perkataan Ahsan yang mengatai dirinya jorok. Azlina menatap kesal ke arah Ahsan yang tidak kunjung keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Udah keluar sana, Bang! Ngapain sih betah banget di kamarku."
Bruk!
Terdengar suara berisik di lemari pakaian membuat Ahsan segera menoleh ke arah sumber suara. Dia tertegun sejenak sebelum pada akhirnya melangkah mendekat ke arah lemari pakaian.
Azlina yang menyadari kecurigaan Ahsan segera menghadang lelaki itu yang berniat membuka lemari pakaiannya. Dia bergerak cepat sebelum semuanya terlambat. Jantungnya berdetak keras, gugup bercampur panik, takut jika Alvaro ketahuan berada dalam lemari tersebut.
"Stop! Abang mau apa?!" Azlina merentangkan kedua tangannya, mencegah Ahsan yang hendak meraih handle pintu lemari pakaiannya.
"Ada suara. Siapa tahu malingnya masuk sini."
"Tapi, ...."
"Udah, enggak ada tapi-tapian. Aku mau tidur!"
Azlina menghela napas kasar ketika berhasil menutup pintu. Segera pintu itu dia kunci dengan cepat agar Ahsan tak lagi masuk ke dalam. Tangannya menyentuh dada, merasa lega karena hal yang mendebarkan itu telah berakhir. Kini, pandangannya beralih kepada Alvaro yang masih terkunci di dalam lemari pakaiannkya.
Dia melangkah ke arah lemari dan segera membukanya. Tanpa menunggu lama, Alvaro segera keluar dengan wajah lemas seolah-olah telah kehabisan oksigen.
"Kakak, enggak papa, 'kan?"
__ADS_1
Azlina cukup panik melihat kondisi Alvaro. Mimik mukanya terlihat cemas, penuh kekhawatiran. Dia membantu Alvaro bangun, bergumam ringan dengan gelisah tergambar nyata di wajahnya.
Alvaro tampak letih dan tak bertenaga. Azlina berusaha memapahnya, membantu lelaki itu untuk berbaring di atas ranjang. Meski sedikit tertatih-tatih, lelaki itu berhasil mengistirahatkan tubuhnya di ranjang Azlina.
"Kak, Kakak kenapa? Butuh apa? Minum, kah? Aku ambilkan, ya?" Azlina benar-benar panik dengan apa yang terjadi dengan Alvaro, takut jika terjadi sesuatu lagi dengan lelaki itu karena ulahnya. Mengingat karena kecerobohannya saat itu, Alvaro hampir kehilangan nyawa, membuat Azlina kian hati-hati untuk tak mengulangi hal yang sama sekali lagi.
Namun, kekhawatiran Azlina lenyap seketika setelah mendengar jawaban dari lelaki itu.
"Emm, butuh napas buatan, Zi."
"Yeeeh!" Azlina mencubit perlahan perut Alvaro kemudian dan ditanggapi gelak tawa kecil lelaki itu.
Keduanya berpelukan kemudian, kembali melanjutkan malam panas dan panjang mereka yang sempat terputus karena ulah Ahsan.
"Dobel-dobel kan, Zi?"
"Dah, sekali aja!"
"Enggak, tadi janji dobel."
Begitulah perdebatan antara keduanya, yang selalu berakhir dengan indah, tetapi penuh dengan drama. Kini, mereka tengah memejamkan mata, terlalu lelah tertawa dan melepaskan rindu, juga mencurahkan cinta. Peluh di tubuh tak membuat keduanya merasa gerah untuk hanya sekadar melepaskan pelukan, seolah kegiatan yang berulang-ulang dilakukan di atas ranjang tak mampu melenyapkan kerinduan dalan diri keduanya.
__ADS_1