
"Ini, Kak! Dingin, ya?"
"Ehmm, kalau ada kamu enggak masalah mau sedingin apa. Kakak bisa tahan."
Azlina hanya menggeleng setelah meletakkan dua cangkir cokelat panas di atas meja bar. Kedua orang itu masih mengenakan bathrobe berwarna putih gading dengan duduk di barstool. Bulir-bulir air tampak menetes di ujung rambut perempuan itu setelah membersihkan diri yang tentunya banyak drama.
Azlina harus berkali-kali menambah stok kesabarannya karena setelah bermain hujan, Alvaro menempel terus kepadanya. Lelaki itu tidak membiarkan Azlina menjauh sedikit pun, bahkan drama di kamar mandi pun tak bisa terelakkan.
"Kita kan belum pernah mandi bareng, Zi! Emangnya kamu gak pengen nyoba gitu?" Pantas saja Mama Rani tak boleh ikut, karena lelaki itu sudah membuat banyak rencana agar melampiaskan rindu yang selama ini dia rasakan sepuas-puasnya.
"Enggak, udah Kakak lepas aja pakaian Kakak, lalu pakai handuk. Aku mau mandi dulu, gantian." Azlina sedikit mendorong dada Alvaro agar keluar dari kamar mandi, menyuruh lelaki itu agar tak mengganggu acara mandinya.
"Tapi Kakak sudah lapar, belum makan. Kalau mandi bersama akan lebih cepat. Jadi kita bisa segera makan setelah ini." Alasan yang tak masuk akal, tetapi sepertinya Azlina sedikit terpengaruh dengan perkataan Alvaro.
__ADS_1
"Kakak belum makan? Sejak kapan?" Terlihat raut cemas di wajah perempuan itu, membuat Alvaro semakin memperdalam aktingnya.
"Ehm, Kakak mogok makan selama beberapa hari agar Mama mau menerimamu kembali. Kakak baru keluar dari rumah sakit dan langsung ke sini, nyari kamu."
Senyap, Azlina menatap penuh haru atas perjuangan Alvaro untuknya. Tangannya terulur untuk mengusap wajah dengan rahang tegas yang memang terlihat lebih kurus dari sebelum-sebelumnya. Dia tidak tahu jika Alvaro baru saja keluar dari rumah sakit padahal dia istrinya.
"Maaf, ya, Kak. Kakak jadi menderita karena diriku. Aku bukan istri yang baik."
"Emm, tidak begitu." Alvaro menggeleng, tidak menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh Azlina. Tangannya meraih tangan lembut sang istri yang sedang mengusap wajahnya. "Kakak ikhlas melakukannya. Demi kamu, demi anak kita."
Azlina tersenyum penuh arti, begitu tangannya dikecup lembut oleh lelaki itu. "Tapi aku baru selesai datang bulan, Kak. Aku ... tidak hamil."
"Benarkah itu?" Wajah Alvaro bukannya kecewa, lelaki itu justru tampak berbinar dan bersemangat. "Syukurlah! Ayoklah, kita bikin di dalam."
__ADS_1
"Eeh, Apa?"
Belum sempat Azlina mendapatkan jawaban, lelaki itu sudah menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Tak ingin membuang waktu karena dia sudah tak sabar dan merasa gemas sejak awal mereka bertemu di bus umum tadi. Pintu ditutup bersamaan teriakan Azlina juga tawa Alvaro.
Entah apa yang mereka lakukan di dalam, karena suara tawa itu tak terdengar lagi. Hanya suara gemericik air yang masih terdengar dari luar pintu kamar mandi bersamaan suara-suara asing yang membuat bulu kuduk seseorang merinding hanya karena mendengarnya.
"Kakak, sudah! Cukup! Jangan lagi!"
"Nanti malam lagi, ya?"
"Ish, mesum!"
"Kamu yang bikin Kakak mesum. Jadi, kamu harus tanggung jawab."
__ADS_1
Suara perdebatan sepasang suami istri itu terdengar lagi. Ya, Alvaro telah berhasil memintal rindu, lalu menuntaskannya dengan sepuas-puasnya setelah berhasil bertemu dan bersatu dengan Azlina lagi. Mandi yang seharusnya dilakukan agar cepat selesai justru menjadi mandi terlama yang pernah Azlina lakukan dan semua itu terjadi karena ulah Alvaro, suaminya.
》Nyicil dulu. 🤭