Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
56. Pengintaian Part 1


__ADS_3

"Berangkat dulu, Kak. Assalamualaikum."


Azlina keluar dari mobil tanpa mencium tangan Alvaro seperti biasanya. Tak ada tegur sapa hari ini, semua terasa dingin dan sunyi.


Kejadian semalam sudah cukup membuktikan ke mana hati Alvaro memilih. Meskipun dirinya meminta pun, lelaki itu tak akan pernah menoleh kepadanya lagi.


Alvaro masih menatap punggung gadis itu dengan tatapan yang entah. Dia memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa berdenyut pusing. Perubahan sikap Azlina cukup dimengerti olehnya. Wanita mana yang mau dipermainkan perasaannya seperti itu. Dia belum bisa memutuskan satu hal yang penting di hidupnya. Perasaan yang kini sedang dirasakannya masih tak jelas siapa pemiliknya. Hingga sebuah keputusan sulit harus dia lakukan, yaitu melepaskan yang memang harus dilepaskan. Membiarkan dia terbang jauh mencari kebahagiaannya sendiri tanpa dirinya yang hanya menjadi belenggu kehidupan.


...***...


"Na, dicariin Elang, tuh!" Lulu yang baru saja menoleh ke arah pintu mendapati Elang yang sedang bertegur sapa dengan Bu Melinda.


Pelajaran Bu Melinda memang baru saja usai, sehingga murid-murid tampak senang dan lega karena penyiksaan jiwa dan batin telah selesai.


"Nyari Airin mungkin."


"Enggaklah! Aku tahu Elang itu sukanya sama kamu, bukan Airin."


Azlina hanya menggelengkan kepala. Dia sudah merasa tak peduli lagi dengan kisahnya bersama Elang. Hatinya masih kacau dengan perasaaannya terhadap Alvaro, lelaki dewasa yang sudah menjungkirbalikkan hatinya. Hingga lelaki yang baru saja dia bicarakan telah duduk mendekat, memosisikan diri berada di kursi depan mejanya.


"Hai!"


"Hai! Na, aku tinggal dulu, ya. Dah kalian ngobrol yang anteng." Lulu yang tahu diri segera pergi dati pandangan, membiarkan Azlina berdua bersama Elang dengan saling berhadapan.

__ADS_1


"Temen kamu pengertian, ya." Elang memulai percakapan dan ditanggapi anggukan oleh Azlina. Mencoba mencairkan suasana, pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Untukmu. Aku tidak tahu kamu suka cokelat atau enggak. Aku hanya tahu jika cewek biasanya suka cokelat."


Terdengar tawa ringan dari bibir Azlina yang tersembunyi di balik jemari lentik yang menutupi bibirnya. Tawa pertama yang bisa dia lakukan setelah tragedi memilukan yang terjadi antara dirinya dengan Alvaro. "Terima kasih. Aku suka cokelat." Cokelat itu berpindah tangan kepada Azlina. Tanpa meletakkannya terlebih dulu, gadis itu melanjutkan obrolannya.


"Ehmm, kamu enggak sibuk kemari?"


"Sibuk, sih. Hanya saja aku ingin bicara bentar denganmu."


"Bicaralah! Aku akan mendengarkannya." Gadis itu menekuk sikunya untuk kemudian menyangga dagu, menatap Elang yang sedang menyusun kalimat selanjutnya.


"Apakah nanti malam kau sibuk? Jika tidak, aku mau mengajakmu nonton."


"Udah, iya-in aja, Na. Gak usah malu-malu. Oke, El. Dia pasti mau." Lulu tiba-tiba datang sembari mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tampaknya gadis itu lupa membawa ponsel sehingga kembali lagi untuk mengambil benda pipih itu.


Azlina dan Elang tertawa mendengar perkataan Lulu. Bisa-bisanya cewek itu nyambung mulu tanpa harus dicolokin kabelnya terlebih dulu. Azlina mengangguk di sela-sela tawanya. "Kita ketemu di taman, ya. Aku ... akan datang ke sana. Kau ... tidak perlu menjemputku ke rumah."


"Tentu saja. Aku akan menunggumu."


Merasa niatnya sudah terlaksana, Elang segera undur diri karena dia akan latihan basket dengan teman-temannya setelah ngobrol dengan Azlina.


Elang melangkah menuju pintu untuk segera keluar, tetapi sebelum dia mencapai bibir pintu, lelaki itu menoleh. Dia menekuk ke tiga jarinya ke dalam dan menyisakan ibu jari dan kelingking saja untuk diletakkan di sebelah telinga. Bibirnya mengucapkan sesuatu, tetapi tanpa suara. "Nanti aku telepon!"


Azlina mengangguk, mengerti perkataan Elang. Gadis itu tersenyum menatap kepergian Elang dengan sesekali menutup bibirnya yang tak bisa menyembunyikan rasa geli di hati.

__ADS_1


"Cieee, yang lagi kasmaran." Kembali Lulu menggoda Azlina. Gadis itu hanya menggeleng menanggapi, sudah terbiasa dengan ledekan sahabatnya. Belum sempat bibir itu menghentikan senyumannya, Airin datang dari arah belakang sengaja menabrang bahu Azlina keras.


"Apa-apan, sih, Ay!" Azlina meninggikan suara, merasa Airin sudah keterlaluan terhadapnya.


"Kamu yang apa-apaan. Sok kecentilan banget deketin si Elang. Asal kamu tahu, ya. Elang mau deket sama kamu karena dia belum tahu siapa kamu sebenarnya. Jika dia tahu, aku yakin dia tak akan sudih hanya melihat dirimu."


Sontak perkataan Airin membuat tubuh Azlina kaku. Apakah Airin mengetahui rahasia pernikahannya dengan Alvaro? Jika iya, pasti hal itu akan sangat tidak baik untuknya.


"Apa?! Kamu gak berani jawab, kan?" Airin tersenyum miring, menatap Azlina dengan sinis. "Pecundang!"


"Gila ni anak, ya! Jangan dengerin, Na. Dia hanya pasukan sakit hati karena Elang sama sekali tak peduli sama dia. Elang tahu mana sampah, mana yang berlian." Melihat sahabatnya dihina, Lulu tak terima dengan melontarkan kalimat pedas yang sama.


"Apa kamu bilang? Siapa yang sampah?" Airin berteriak lantang, mmebuat semua siswa menatap kegaduhan mereka.


"Kamu, siapa lagi!"


Bisik-bisik terdengar di telinga, membuat Airin geram karenanya. Semua mata melihat Airin dengan tatapan mencela sehingga gadis itu merasa tak ada yang sedang berada di pihaknya.


"Kau! Menyebalkan." Kaki Airin mengentak kesal. Niat hati ingin menyudutkan Azlina, tetapi justru dia yang terlihat sebagai pembawa onar.


"Huuu ...!" Riuh suara anak-anak mengiringi kepergian Airin dari ruang kelas itu.


Azlina masih terdiam, memikirkan perkataan Airin. Apakah benar gadis itu mengetahui rahasia terbesarnya yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat?

__ADS_1


...***...


》3 bab, ya.. scroll lgi. 😁


__ADS_2