Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
21. Suara Aneh


__ADS_3

"Tambahin es krim, dong!" Azlina berkata ketika Alvaro telah selesai meminum jus jeruk dari gelas bening dengan body langsing nan tinggi.


"Rasa apa?"


Azlina meringis kemudian, merasa ada lampu hijau karena permintaannya disetujui Alvaro tanpa banyak komentar. "Rasa vanila campur coklat. Emm, tambahin kentang goreng juga boleh, sekalian teh kemasan biar nanti enggak tersedak pas makan." Mode ngelunjak.


"Kenapa enggak sekalian pizza dan berger buat oleh-oleh?" Alvaro sedikit menyindir akan kejadian tempo hari, di mana Azlina memesan lima porsi ukuran besar untuk dibawa pulang.


"Jadi, boleh nambah? Enggak perlu banyak-banyak deh, Kak. Dua porsi berger komplit aja buat Bapak sama Ibuk. Lagian Bang Ahsan sama Bang Al enggak ada di rumah. Takut enggak kemakan. Kan, sayang."


"Eh, beneran nambah," batin Alvaro.


Padahal dia hanya sekadar menyindir, tetapi tampaknya yang disindir tidak peka. Sindiran Alvaro justru tertangkap sebagai sebuah tawaran bagi Azlina. Hingga gadis itu menambah jumlah pesanannya tanpa rasa bersalah.


Alvaro segera beranjak dari duduknya, pergi ke bagian order untuk memesan apa yang diinginkan Azlina.


Mereka menyempatkan mampir ke rumah makan cepat saji untuk makan siang sebelum mengembalikan Azlina ke rumah orang tuanya. Hari pernikahan mereka tinggal sehari lagi, dan tentunya banyak hal yang perlu disiapkan, meskipun mereka hanya menikah secara agama tanpa ada acara resepsi seperti pernikahan pada umumnya.


"Ayuk!" ucap Alvaro setelah mendapatkan pesanannya.

__ADS_1


Azlina menyapukan tisu makan ke mulutnya, menghapus sisa makanan yang masih menempel di bibir, lalu menyeruput sisa minuman hingga tersisa es batunya saja.


Dia ikut beranjak dari duduknya, lalu mengikuti langkah Alvaro keluar dari rumah makan cepat saji tersebut.


...***...


Hampir menjelang sore mereka keluar dari rumah makan itu, hingga langit yang semula terik serta panas, kini berubah mendung dan menggelap. Kendati waktu masih menunjukkan pukul tiga sore, tetapi langit justru terlihat hampir malam.


"Mau hujan sepertinya," ucap Azlina setelah memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Dia membuka es krim cone yang tampak menggiurkan itu. Tidak mungkin membawanya pulang, karena pasti akan mencair dan rasanya tak selezat ketika dimakam langsung.


Alvaro hanya mengangguk tanpa menoleh menanggapi perkataan Azlina. Dia mulai mengenakan seat belt-nya, lalu melajukan mobil itu untuk keluar dari area parkir rumah makan cepat saji. Sejenak dia hanya fokus ke jalanan, tetapi bunyi-bunyi ringan di sampingnya membuyarkan fokus untuk tetap menyetir. Manik hitamnya mulai tergoda menatap ke arah samping yang mana memperlihatkan Azlina sedang menikmati es krim cone rasa vanila yang baru saja dia belikan.


Gadis itu tanpa rasa berdosa menjìlàti puncak es krim itu perlahan, seolah-olah ingin menikmatinya sedikit demi sedikit agar tidak cepat habis. Anehnya, sikap Azlina yang absurd itu mengganggu pikiran Alvaro. Setiap jìlatan pada es krim itu membuat bulu halusnya meremang, bahkan saat ini dia tak sanggup berkonsentrasi menyetir mobil.


Punggung Azlina terentak, tetapi untungnya dia mengenakan sabuk pengaman sehingga tidak sampai terbentur. Tanpa rasa berdosa dia menanyai Alvaro.


"Ada apa, Kak?" Dia bertanya dengan kembali menjìlat es krim itu tanpa jeda.


Alvaro semakin kesal saja. Pikiran tentang bibir mungil nan menggoda ketika berada di butik tadi sudah membuatnya gelisah, apalagi saat ini dengan tanpa rasa berdosa gadis itu menunjukkan hal sensùal lainnya di depan Alvaro secara terang-terangan.

__ADS_1


Alvaro segera mengambil alih es krim itu dari tangan Azlina, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan sekali 'hap'. Azlina membulatkan mata, tidak terima es krim satu-satunya yang dia sayang-sayang agar tidak cepat habis itu telah dihabiskan oleh Alvaro.


"Kakak, itu kan es krimku." Dia berteriak seraya memukul lengan Alvaro yang telah mengambil es krimnya. Mana mungkin ada orang yang mau memakan es krim bekas jilatàn orang lain seperti apa yang dilakukan Alvaro. Dia merasa lelaki di sampingnya itu benar-benar jorok. Dia sudah menjilàti keseluruhan permukaan es krim itu, tetapi Alvaro justru memakan es krim bekasnya.


"Kalau suka es krim harusnya tadi beli sendiri. Dah tau itu tadi bekasku, jorok!" cebiknya dengan bersedekap dada.


Perkataan Azlina menyadarkan Alvaro jika dia baru saja memakan sesuatu bekas mulut orang lain, dan secara tidak langsung dia telah bertukar ludah dengan Azlina. "Salahmu sendiri tidak segera menghabiskannya." Alvaro mulai menyalakan mobilnya kembali.


"Terserah aku, dong, Kak. Masak makan es krim pun ada aturannya."


Terlampau kesal, Azlina membuka kentang goreng hasil rampokannya kepada Alvaro. Dia membuka saos pedas itu, lalu mencocolkan ujung stick untuk kemudian memakannya dengan lahap. Sekali, dua kali memakan saos pedas itu tak membuatnya kepedasan, tetapi untuk suapan yang entah ke berapa membuat Azlina mendèsah kepedasan.


Suara aneh yang keluar dari bibir gadis itu membuat pikiran Alvaro semakin terganggu. Bisa-bisanya Azlina mengeluarkan suara desàhan aneh yang bisa membuat lelaki dewasa sepertinya salah paham.


Azlina mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, dengan beberapa bulir keringat yang membasahi sedikit rambutnya yang tergerai, menempel di leher. Alvaro menelan ludah, bocil itu tampak semakin seksi dengan tingkah polosnya. Dia buru-buru menggeleng, mengusir pikiran kotor yang sempat terbesit dalam kepalanya.


Hingga Alvaro berdehem sejenak, lalu segera mengeluarkan minuman dingin dari dalam kantung plastik yang ikut serta dibelinya tadi untuk diberikan kepada Azlina.


"Minum! Jangan makan pedas lagi!" ucapnya dengan wajah kesal. Dia mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai ke rumah Azlina. Berbahaya jika terlalu lama dekat dengan bocil satu ini. Otaknya terasa semakin kotor ketika Azlina melakukan hal-hal absurd yang dia pikir adalah hal biasa, tetapi justru berakibat fatal bagi Alvaro.

__ADS_1


Sampai ketika mobil itu hampir sampai di persimpangan jalan, Alvaro melihat seorang wanita yang sangat dikenalinya sedang berjalan di trotoar sambil menangis. Dia segera menepikan mobilnya, lalu berhenti sedikit jauh dari wanita itu. "Tunggu di sini. Aku akan kembali!" ucapnya seraya keluar dari dalam mobil.


》 Siapa, ya, kira-kira? 🤔🤔


__ADS_2