
"Non, biar saya antar, ya!"
Azlina menggeleng sembari menyunggingkan senyum kepada sopir pribadi di rumah itu. "Enggak usah, Pak. Saya sudah memesan taksi." Azlina selalu berkata sopan kepada orang yang lebih tua. Dia berjalan sembari menyeret kopernya dengan dibantu tukang kebun rumah itu.
"Tapi, Non ...."
Pria paruh baya itu tampak tak rela melihat majikannya yang super baik dan rendah hati akan keluar dari rumah besar itu. Akan tetapi, tidak ada yang bisa lelaki itu lakukan. Tawarannya untuk mengantar Azlina kembali ke rumahnya pun tak disambut oleh perempuan itu. Sepertinya Azlina enggan menerima bantuan siapa pun, kecuali membantu membawakan barang-barangnya menuju taksi yang sudah terparkir di depan rumah itu.
"Hati-hati, ya, Non!"
Azlina hanya mengangguk menanggapi, menatap rumah besar yang mungkin tak akan pernah dia tempati lagi. Dia tak menyangka jika berakhir seperti ini, berakhir dengan menyedihkan.
__ADS_1
Dia mengangguk seraya mengucapkan salam kepada dua orang yang telah membantunya membawa barang-barang, tak lupa juga mengucapkan terima kasih.
Azlina memasukkan tubuhnya ke dalam taksi biru itu, lalu membuka kaca jendelanya untuk melambaikan tangan kepada mereka yang telah mengantar sampai di depan rumah. Kaca itu menutup seiring taksi itu melaju meninggalkan rumah keluarga Alvaro.
Dia menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata. Tangannya terulur untuk memijit pangkal hidungnya. Dia mulai menangis, tak bisa menyembunyikan kesedihan yang telah melingkupi hatinya.
Pendaran lampu kota yang menerangi jalan bagi pengendara dan pejalan kaki, tak mampu menerangi perasaan Azlina yang dirundung pilu. Kenyataan bahwa Alvaro memberikan kado ulang tahun untuknya dengan meminta bantuan Almeera untuk membelikannya membuat Azlina tak terima. Dia mengembalikan kalung itu di dalam lemari pakaian miliknya dengan meninggalkan secarik kertas ucapan selamat kepada Alvaro. Ya, akhirnya lelaki itu telah berhasil meluluhkan Almeera seperti keinginannya.
Lelaki itu seperti benar-benar mencintainya, menginginkannya, bahkan ketika Almeera bertandang ke rumah mereka, tak sekalipun Alvaro melepas genggaman tangannya.
Berulang kali Alvaro membela Azlina ketika Almeera berusaha menyudutkannya. Azlina merasa jika Alvaro benar-benar menyayanginya, terlepas dari kenyataan jika lelaki itu memberikan hadiah spesial kepada Almeera, sementara padanya ... tidak.
__ADS_1
Azlina kembali menutup mata dengan sesekali mengusap air mata yang mengalir di pipi. Untuk saat ini dia bingung harus pergi ke mana. Jika dia kembali ke rumah orang tuanya dengan membawa banyak sekali barang, ia takut akan menggangu kesehatan bapaknya yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Rasa sesak kembali bersemayam pada dirinya begitu sopir taksi itu mulai bingung membawa Azlina ke mana, karena sedari awal gadis itu hanya menyuruhnya jalan.
Apakah dia akan pergi ke hotel dengan membawa semua barang-barangnya?
Meskipun dia mampu membayar sewa hotel untuk beberapa minggu ke depan, tetapi dirinya masih sayang uangnya. Uang mahar dari Alvaro masih berada di rekeningnya dan sama sekali tak tersentuh. Azlina berniat menggunakan uang itu untuk mendaftar ke Universitas ternama yang ada di kotanya. Dia tak mungkin lagi membebankan biaya pendidikannya kepada Alvaro kendati lelaki itu telah berjanji membiayai pendidikannya meskipun pada akhirnya mereka berpisah.
Hingga da menghubungi seseorang yang selama ini selalu mendukungnya dan menjadi tempatnya berkeluh kesah, dia berkata dengan suara yang diubah seceria mungkin.
"Halo, Lulu ...."
__ADS_1
》Lanjut