
"Kak, ada apa di sana? Kenapa banyak mobil?"
Alvaro menggeleng, dia pun tak mengerti mengapa ada banyak mobil di sana. Bahkan, dia melihat ada mobil papanya yang terparkir di antara mobil-mobil itu.
Batinnya merasa ada hal yang tidak beres, sehingga orang-orang itu bisa sampai ke area ini.
Lelaki itu segera menepikan mobil, menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. Dia menggenggam jemari Azlina, berusaha menenangkan sang istri yang terlihat panik dari sorot matanya.
"Semuanya baik-baik saja. Jangan cemas!" Alvaro melepas sabuk pengaman di tubuhnya, lalu melepas sabuk pengaman Azlina. Dia segera turun dari mobil, mengitar lewat depan dan membukakan pintu untuk Azlina. "Sini, aku bantu turun!"
Tangan mereka saling menggenggam dengan Azlina turun dari mobil perlahan. "Kayaknya Mbak Asri sudah kembali, deh, Kak." Azlina melihat pintu rumah dan pagar sudah terbuka, pasti penghuni rumah sudah kembali dari cutinya. Lalu, perempuan itu segera menarik ujung kaus yang dikenakan Alvaro, terlihat begitu panik dari raut mukanya. "Ya ampun, Kak, spreinya belum diganti. Aduh, bagaimana ini?"
Alvaro hanya menggelengkan kepala. Bagaimana bisa Azlina memikirkan tentang sprei itu, padahal di depan mata ada masalah yang sepertinya begitu serius melihat kedatangan banyak orang di rumah itu. "Suruh mereka saja yang cuci, nanti aku bayar."
"Ih, Kak, malu. Enggak lihat apa di sprei itu ada darahnya. Kakak, sih, enggak tanya dulu itu kamar milik siapa? Jadi ribet 'kan sekarang?"
Sesungguhnya Alvaro sedang tegang saat ini, tetapi mendengar perkataan Azlina yang masih meributkan masalah sprei membuatnya tak bisa menahan tawa. "Ya ampun, istriku." Dia gemas sendiri akhirnya. "Ayo, masuk! Sepertinya mereka sedang menunggu kedatangan kita."
Alvaro membantu Azlina berjalan dengan menahan tubuh perempuan itu. Melangkah perlahan, mereka akhirnya sampai di depan teras rumah yang sejak semalam ditinggalkan tanpa penghuni.
"Assalamual'alaikum."
Alvaro melemparkan salam setelah melangkah memasuki rumah yang sudah terbuka pintu depannya. Terdengar jawaban salam dari beberapa orang yang ada di dalam rumah itu.
Azlina mengeratkan genggaman tangannya yang mengapit di sela-sela jemari Alvaro, pun dengan lelaki itu mengusapkan ibu jarinya di punggung tangan perempuan itu.
Tatapan tajam kakak ipar Azlina menyorot ke arah mereka berdua, tetapi pandangan keduanya beralih karena mendengar suara Mama Rani yang baru saja keluar dari dalam. Perempuan itu histeris melihat kondisi wajah Alvaro yang memang masih lebam di sana-sini akibat pertengkaran dengan pria kurang ajar kemarin.
"Ya ampun, Al. Apa yang terjadi kepadamu, Nak!" Raut mukanya begitu khawatir, meraba wajah Alvaro yang tampak membiru samar. "Ini pasti karena dia, 'kan, yang menyebabkan kamu jadi seperti ini. Kamu juga ngapain sih, Al, nyariin dia?!"
__ADS_1
"Apaan sih, Ma. Zizi 'kan istri Varo, Ma. Wajar kalau Varo nyariin." Lelaki itu terlihat tak senang mendengar penuturan Mama Rani, seolah Azlina tak penting dalam kehidupannya. "Lagian kenapa Mama dan yang lainnya ke sini? Ada apa?"
Terdengar dentuman dari meja tamu yang membuat semua orang mengalihkan perhatiannya kepada sumber suara. Itu adalah kepalan tangan Sean yang menghantam meja berbahan kayu di depannya.
"Cukup! Kembalikan saja Azlina kepada kami. Kau bisa menikah dengan kekasihmu itu."
Alvaro terhenyak mendengar perkataan Sean. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa maksudmu? Siapa kekasihku? Aku sudah memiliki istri, kenapa aku harus mengembalikan dia kepada kalian?"
Sean tampak berang, dia beranjak dari duduknya membuat dua saudara iparnya menelan ludah. Salwa tak ikut dengan mereka karena Sean melarangnya. Anak ketiga mereka sedang demam tinggi sehingga membutuhkan Salwa untuk merawat dan menemani.
Papa Agus sudah menegang begitu melihat Sean melangkah. Dia sangat hafal bagaimana tabiat rekan bisnisnya yang keras dan tak takut kepada siapa pun. Dia akan menghajar siapa pun yang dianggap pantas mendapatkannya, sehingga lelaki itu turut mengikuti langkah Sean mendekat ke arah Alvaro.
"Azlina, kembali dengan kakak-kakakmu!"
Suara Sean terdengar begitu tegas, sarat akan tuntutan dan perintah. Namun, Azlina menggeleng pelan, tak ingin menuruti.
"Ayolah, Al. Jangan menutup-nutupi lagi. Mama sudah menceritakan semuanya kepada mereka tentang pernikahan kalian yang ternyata hanyalah sebuah kebohongan. Mama tidak marah kepadamu, bahkan Mama sudah membujuk Almeera untuk mau menikah denganmu."
"Ma!" Alvaro berteriak, tak menyangka mamanya berbuat sejauh itu. "Aku tidak akan pernah mau berpisah dengan Zizi. Dia istriku, Ma!"
Sebuah hantaman berhasil melesat di rahang Alvaro, membuat Mama Rani dan Azlina berteriak histeris. Sean yang sejak tadi sudah tidak bisa menahan amarah berakhir melepaskan pukulan kepada Alvaro. Tak tinggal diam, lelaki itu mencekal kaus Alvaro sembari mencengkeramnya.
"Brengsèk! Kau mau poligami?" Tatapannya tajam menusuk ke kedalaman mata Alvaro. Wajahnya merah padam seolah-olah apa yang sedang Alvaro lakukan adalah sebuah kesalahan besar. "Bebaskan dia!"
"Tidak! Aku tidak mau!" Alvaro mendorong dada lelaki itu menggunakan tangannya kanannya sehingga cengkeraman tangan Sean di pakaiannya terlepas sudah. Dia bukan anak kecil yang bisa diperintah, bahkan oleh Sean Paderson sekali pun.
"Al, ayo ceraikan dia. Jangan berurusan dengan keluarga mereka lagi. Nikahi saja Almeera. Dia jauh lebih cantik dan berpendidikan." Mama Rani menimpali, wajahnya ketakutan melihat kemarahan Sean kepada anaknya. Sementara Papa Agus menahan istrinya agar tak berkata apa-apa lagi yang bisa memanaskan suasana.
__ADS_1
Azlina tak bisa menyembunyikan rasa sakit di hatinya melihat betapa gigih sang mertua memisahkan dirinya dengan Alvaro. Genggaman tangan yang sejak tadi mengerat kini sedikit demi sedikit dilepaskan oleh perempuan itu.
Alvaro menyadarinya, tak ingin melepaskan tangan itu meski hanya sedetik pun.
"Apa yang kalian lakukan?! Mengapa kalian ikut campur dengan urusan rumah tanggaku?" Alvaro menatap tajam kepada semua orang, merasa mereka semua terlalu memasuki kehidupan pribadinya. Dia adalah kepala keluarga yang berhak mengatur keluarga kecilnya sendiri, tetapi di sini lelaki itu merasa semua orang menjadi sok tahu dan sok mengerti akan kehidupannya.
"Azlina, pulang! Ikut kakak-kakakmu!" Sean kembali memerintah, tetapi Azlina masih berdiam diri, bergeming dari posisinya.
Matanya sudah berembun, bingung harus melakukan apa. Dia tak ingin berpisah dari Alvaro, tetapi melihat sikap Mama Rani yang tak menyukainya dan menyuruh Alvaro segera menceraikannya membuat perempuan itu takut apabila suaminya itu menurut saja.
Ahsan ikut maju, menarik tangan Azlina yang terbebas dari cengkeraman tangan Alvaro. "Pulang, Na. Sebagai Kakak, aku tidak rela kau diperlakukan seperti ini oleh mereka."
Memang apa yang telah dikatakan Mama Rani tentang hubungannya dengan Alvaro?
Azlina masih bingung akan apa yang terjadi, tak satu pun dari mereka mau menjelaskan membuat perempuan itu kebingungan. Ada hal yang perlu diluruskan di sini.
Azlina masih tak bicara, tetapi perkataan Alfatih yang ikut membujuk Azlina membuat perempuan itu segera melepaskan genggaman tangan Alvaro. "Bapak masuk rumah sakit karena kelakuan suami dan mertuamu."
"Apa? Bapak ... masuk rumah sakit?" ucap Azlina dengan melepaskan tangan Alvaro.
Alvaro pun terkesiap mendengar penuturan Alfatih, bahkan kalimat yang terucap dari bibir lelaki itu cukup membuatnya semakin terkejut.
"Ya, merekalah yang membuat Bapak masuk rumah sakit." Alfatih mrnatap tajam ke arah Alvaro, lalu beralih kepada Azlina, mengangguk kepada perempuan itu. "Ayo, kita pulang! Bapak sangat mencemaskanmu."
Azlina mengangguk, ada rasa pedih di hati. Baru saja dia merasakan tertawa dan bahagia, tetapi masalah datang menghampiri. Sesaat perempuan itu melangkah, tangannya dicekal oleh Alvaro. "Aku ikut!"
"Jangan membuat kesabaranku habis! Segera bebaskan Azlina. Jika tidak ...." Sean mengerang, tak bisa bersabar dengan sikap Alvaro yang telah mempermainkan adik iparnya. Meskipun Azlina bukan adik kandung, tetapi Sean merasa bertanggung jawab dengan seluruh keluarga Salwa.
"Apa?! Kau akan membunuhku?" Alvaro menatap sinis, tangannya masih tak melepaskan lengan Azlina. "Aku akan menceraikan Azlina." Dia berucap lantang dengan ditanggapi senyuman oleh Mama Rani dan wajah tegang semua orang. Namun, berbeda dengan Azlina yang merasakan seperti ditikam oleh benda tajam mendengar kata perceraian dari bibir Alvaro setelah apa yang mereka lakukan semalam. "Asal kau mau menceraikan Salwa."
__ADS_1
》Part agak panas, menuju ending. Terima kasih yang sudah mendukung. 😍